Gidot Ancam Usir ‘Pengacau’ Kedamaian dari Bengkayang

Bengkayang

Editor Kiwi Dibaca : 1055

Gidot Ancam Usir ‘Pengacau’ Kedamaian dari Bengkayang
Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot
BENGKAYANG, SP – Maraknya isu-isu negatif dan propaganda yang menyebar sangat cepat di dunia maya membuat Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot prihatin.  

"Kita saat ini sedang diuji. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Bengkayang, menjaga situasi dan kondisi tetap kondusif dan damai," ajak Gidot ditemui di Aula Hotel Lala Golden Bengkayang, Sabtu (13/5).  

Gidot meminta masyarakat tetap menjaga dan mengawal Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dikatakan, keberagaman saat ini di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Bengkayang, tak boleh dipersoalkan. 

"Kita bosan dengan kericuhan dan perpecahan. Apabila masyarakat cerdas dan dewasa maka sejahtera dan makmur akan kita peroleh," ungkap Gidot.

Apabila ada oknum yang tidak bertanggungjawab, siapapun dan darimanapun yang mencoba menganggu empat pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,red), maka harus hengkang dari Kabupaten Bengkayang.

Gidot mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Hal senada juga diutarakan Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat dari Partai Hanura Daerah Pemilihan Bengkayang-Singkawang, Stepanus Aty.  Stepanus meminta seluruh elemen masyarakat Bengkayang untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan. "NKRI harga mati. Sebagai warga yang baik, tetap menjaga situasi dan kondisi tetap kondusif," sarannya.

Sementara Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama Kabupaten Bengkayang, Hendrikus Clement meminta masyarakat Bengkayang agar tetap tenang dan mengendalikan diri. "Jangan terpancing untuk melakukan tindakan anarkis dalam bentuk apapun," imbau Clement.

Clement yang juga mantan Ketua DPRD Kabupaten Bengkayang menuturkan, warga tak boleh mau dikorbankan dengan isu negatif dan konfllik sosial. “Kita jangan mau dijadikan tumbal untuk kepentingan elit politik dan elit ekonomi dunia yang mengatasnamakan isu agama dan ideologi dalam kegiatannya,” pungkas Clement. (cah/bah)