Cornelis: Keputusan Kongres Wajib Dieksekusi

Bengkayang

Editor Kiwi Dibaca : 605

Cornelis: Keputusan Kongres Wajib Dieksekusi
KONGRES DAYAK – Suasana pembukaan Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak, yang berlangsung di Kantor Bupati Bengkayang, Sabtu (3/6). Kongres berlangsung tiga hari, 3-6 Juni 2017, dan menghadirkan 52 pembicara internasional. SUARA PEMRED/YOPI CAHYONO
BENGKAYANG, SP - Gubernur Kalbar, Cornelis mengatakan, semua keputusan Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak, harus dijalankan. Ia tidak ingin, hasil kongres hanya sekedar seremonial belaka.  

Pernyataan ini disampaikan Gubernur Cornelis saat membuka Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak yang berlangsung di Kantor Bupati Bengkayang Sabtu (3/6). Kongres sendiri berlangsung tiga hari, 3-6 Juni 2017.

 “Hasil kongres adalah menyangkut kebudayaan, dan tidak boleh keluar dari tema. Apa yang dimaksud kebudayaan itu dan definisi kebudayaan, harus dipedomani, dan tidak boleh lari dari apa yang kita pedomani tersebut,” papar Gubernur Cornelis.

"Hasil kongres ini, juga harus segera dieksekusi, jangan hanya kongres tetapi tidak menghasilkan keputusan,” pesan orang nomor satu di Klabar tersebut.  

Menurutnya, Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak diharapkan bisa jadi momentum kebangkitan. Ia juga meminta ada kesepakatan bersama untuk tidak bergeming dengan hal-hal yang fundamental.

”MADN juga akan mengadakan kongres tentang masyarakat Dayak, kongres bertarap Internasional yang sekarang yang sudah dilaunching pada 1 Juni, bersamaan dengan hari lahirnya pancasila. Kongres ini nantinya akan berlangsung di Pontianak, 26-27 Juni," bebernya.

Bupati Bengkayang, Suryadman Gidot menjelaskan, dengan Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak, menghasilkan berbagai pokok-pokok pikiran yang dapat dijadikan dasar Masyarakat Dayak untuk menunjukan kiprahnya, baik di dalam negeri maupun dunia.
 
"Melalui kongres dengan pembicara-pembicara yang benar-benar ilmiah ini, sehingga pada dasarnya nanti menjadi pegangan, terutama bagi kita sekarang dan anak cucu kita di masa yang akan datang,” kata Gidot.

Ia menuturkan, tinggal kini bagaimana kekayaan yang kita miliki dapat digali, tumbuh kembangkan dan lestarikan. Sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dayak dan masyarakat yang ada di muka bumi ini.

Apabila Adat dan Budaya Dayak dikelola dengan baik, akan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat dan kelangsungan dunia dan bangsa Indonesia.

“Mari kita kembali bangkit untuk mengatakan bahwa dayak juga akan berkiprah di tingkat nasional maupun dunia. Saya berbangga sudah dipercaya sebagai tuan rumah. Apalagi kegiatan tersebut diselaraskan dengan Gawia Sowa atau Gawai Dayak Bidayuh perbatasan yang diselenggarakan oleh masyarakat Kecamatan Jagoi Babang,” paparnya.

Satu di antara peserta dalam pembukaan, Milton Crosby berharap kongres ini dapat membangun konsep Masyarakat Dayak tidak tergerus atau terdegradasi oleh kebuayaan global, baik itu kesenian, tata krama, perkawinan dan pakaian.
“Mengingat saat ini akibat pengaruh global dan perkembangan dunia digital dapat mengancam natur dari sebuah budaya. Kita Suku Dayak memiliki banyak sub suku. Masing-masing punya model. Agar dapat dipertahankan, perlulah budaya-budaya dayak ini nantinya dibukukan dan digitalkan,” ujar Mantan Bupati Sintang dua periode.
 

Artinya, kata Milton, budaya meskipun sudah masuk dalam era digital, adat dan tradisi jangan sampai hilang. Justru melalui akses dunia digital yang ada saat ini dapat kita gunakan untuk mendokumentasikan dan menyampaikan kepada dunia budaya dayak tetap eksis.  

Milton mengatakan melalui kongres ini, Dayak dapat mempertahankan NKRI, menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika dan Undang-Undang Dasar 1945. Masyarakat Dayak harus melakukan itu dan wajib, karena borneo yang memiliki keanekaragaman budaya unik memiliki peran dalam membangun negara ini. (cah/mul)