Senin, 27 Januari 2020


Bank Indonesia Susun Cara Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Editor:

Aep Mulyanto

    |     Pembaca: 123
Bank Indonesia Susun Cara Hadapi Tantangan Ekonomi Global

FOTO BERSAMA – Jajaran Forkopimda Kalbar foto bersama usai Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI), yang diselenggarakan di Kantor Perwakilan BI Kalbar, Selasa (17/12).

PONTIANAK, SP - Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (PWBI) Kalbar, menggelar Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI). Kegiatan ini berlangsung di Kantor Perwakilan BI Kalbar, Jalan Ahmad Yani No 2, Selasa (17/12/2019).

PTBI 2019 ini mengangkat tema “Sinergi, Transformasi, dan Inovasi Menuju Indonesia Maju”, PWBI Kalbar siap menghadapi tantangan ekonomi global. Menurut Kepala PWBI Provinsi Kalbar, Prijono, tema tersebut dipandang penting, terutama dalam memperkuat ketahanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju Indonesia maju.

“Tentunya sekaligus menghadapi memburuknya ekonomi global. Karena ekonomi global sepanjang Tahun 2019 semakin tidak ramah dan menunjukkan turunnya globalisasi,” papar Prijono.

Prijono mengakui, pada saat yang sama, digitalisasi meningkat pesat, dengan segala manfaat dan risikonya. Sehingga, setidaknya ada lima hal penting yang perlu dicermati. Pertama, mengenai pertumbuhan ekonomi dunia menurun drastis pada tahun 2019 dan kemungkinan belum akan pulih pada 2020.

"Perang dagang terbukti berdampak buruk bagi ekonomi di banyak negara, tidak hanya Amerika dan Cina, sehingga Indonesia juga berdampak," katanya.

Yang kedua adalah kebijakan moneter, yang belum tentu selalu efektif apabila hanya dikerjakan sendiri. Oleh karena itu, diperlukan sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional, moneter, fiskal, dan reformasi struktural. Ketiga yaitu terkait volatilitas arus modal asing dan nilai tukar berlanjut.

“Keempat, digitalisasi meningkat pesat, merasuk ke berbagai sektor, industri perdag ritel, sistem pembayaran jasa keuangan. Oleh karenanya, perlu membuat integrasi ekonomi keuangan digital secara nasional,” ungkap Prijono.

Sementara yang kelima, adanya teknologi digital, yang mengubah perilaku manusia, seiring dengan semakin besarnya populasi milenial. Namun, Prijono melanjutkan, di tengah ekonomi global yang memburuk, kinerja dan prospek ekonomi Indonesia cukup baik. Stabilitas ekonomi terjaga, momentum pertumbuhan berlanjut.

Untuk itu, kinerja perekonomian Kalbar, relatif melandai. Pada triwulan III 2019, ekonomi Kalbar tumbuh sebesar 4,95 persen (yoy), atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,02 persen (yoy).

“Ke depan, kita perlu memperkuat ketahanan ekonomi Kalbar, dengan terus mendorong sektor-sektor potensial, salah satunya adalah berbagai potensi ekonomi masyarakat desa," ujarnya.

Untuk menghadapi hal tersebut, terutama menurunnya globalisasi dan meningkatnya digitalisasi, Prijono menjelaskan bahwa ada tiga kata kunci untuk memperkuat ketahanan dan pertumbuhan menuju Indonesia maju, yakni Sinergi, Transformasi, dan Inovasi.

“Kita akan akan memperluas pengembangan Klaster UMKM di Kalbar Guna pengendalian inflasi. Adanya inovasi digital, diyakini mampu memperkuat keterhubungan antar agen ekonomi, dari yang terkecil hingga terbesar, dari konsumen individual, UMKM, hingga korporasi besar,” pungkas Prijono. (ril)