Minggu, 17 November 2019


Ketika Indie Menjadi Arus Utama

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 70
Ketika Indie Menjadi Arus Utama

PANGGUNG - Musisi JRX SID dan kelompok musik Marjinal beraksi di atas panggung saat pentas puisi dan musik memperingati 20 Tahun Reformasi "Kembali Ke Rumah Rakyat" di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/5).

Tidak ada rumus untuk menebak tren musik di masa depan, tapi ada yang meyakini bahwa musik sama seperti fesyen. Ada siklus pengulangan tren dalam sebuah era.

Indie bukan sekadar musik. Di dalamnya ada simpul-simpul produksi padat karya untuk memproduksi ragam produk fesyen, panggung, hingga majalah komunitas. Pokoknya urusan musik dan segala produk penunjangnya selesai oleh tangan mereka sendiri.

"Era indie, komunitas sangat mendukung. Band dibesarkan bukan oleh label. Tapi oleh komunitasnya sendiri," kata Eddi Brokoli, musisi yang populer bersama Harapan Jaya di era 1990-an.

Musisi dan presenter berambut kribo itu menilai musik indie—termasuk rock—punya penggemar loyal yang membuat terus berputarnya siklus produksi musisi kemudian dikonsumsi oleh penggemar.

Tidak perlu mengulas kiprah PAS Band, Pure Saturday, Superman is Dead, Sore, Naif, hingga Rocket Rockers, saat mereka memulai kiprah secara mandiri. Kendati sebagian ada yang melompat ke major label, itu merupakan dinamika yang membuktikan bahwa pasar pernah berpihak pada musik dengan sound berdistorsi.

Namun yang perlu digarisbawahi adalah musik indie setidaknya lebih punya ketahanan dalam menghadapi pergeseran pasar. Saat industri rekaman besar dihajar badai penurunan penjualan, musisi indie tetap punya panggung sendiri untuk bertahan.

Atas dasar itu, Eddi menilai bahwa zaman sedang berpihak pada musik indie pada saat ini. Bahkan ia menyebutkan bahwa hampir semua musisi sudah indie untuk saat ini.

"Sejarah sedang berulang, musik indie lagi naik kembali seperti zaman gua dahulu. Sekarang sebut siapa band major label yang besar, hitungan jari. Sebut yang indie, banyak kan?"

Dadang SH Pranoto gitaris Navicula sependapat dengan hal itu. Ia mengatakan skema indie bukan sekadar memproduksi mandiri, melainkan sebuah pergerakan.

"Aku pikir grafiknya naik, apalagi setelah mayor label kolaps. Indie bergerak, seperti pergerakan," kata Dadang di Bali beberapa waktu lalu.

"Festival sudah jarang mayor main. Sekarang isinya indie. Pada zamannya band itu tur 30 kota. Sekarang yang kita lihat, Seringai, Barasuara yang tur kemana-mana. Membanggakan memang," kata dia.

Eet Sjahranie tidak spesifik menyebut era musik Indie, namun gitaris Edane itu meyakini bahwa saat ini adalah sebuah periode pengulangan dari era 1970-an ke 1990-an.

"Sekarang ini pengulangan dari yang lama," kata Eet. "1990-an adalah era kembalinya 1970-an."

"Bedanya, sekarang era yang merangkum semuanya. Dari musik hard rock 1970 hingga rock blues, punk, metal 1990-an, bercampur di saat ini."

Musisi sekarang sudah meringkas alur "birokrasi" untuk menerbitkan karya. Dahulu, musisi yang ingin besar harus menuju perusahaan label, melewati fase promosi di televisi dan radio, wawancara media dan konser untuk promo album. Hal itu melibatkan ekosistem besar bernama manajemen yang mengatur semuanya agar seirama.

Namun saat ini, musisi harus terjun langsung mengenalkan dirinya melalui media sosial. Tanpa terikat label pun tetap bisa berkarya untuk membuat album musik sendiri, mempromosikan sendiri, membentuk tim kecil yang bekerja lebih efisien.

"Dulu kami adalah musisi yang tidak sibuk karena diurus record company dan manajemen. Kami tahunya buat musik, wawancara, syuting video dan TV," kata Eet.

"Sekarang tidak bisa begitu. Sekarang kami juga mau tak mau nyebar pengumuman juga, lewat sosmed. Ini urusan record company, tapi ini kepentingan kami juga, jadi harus mau tahu urusan begini," kata dia. (antara/balasa)