Minggu, 17 November 2019


Detoks Digital Ala Mahasiswa Indonesia

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 60
Detoks Digital Ala Mahasiswa Indonesia

BERMEDSOS - Nehemia Cevin Untu, mahasiswa asal Batam mengaku pernah kecanduan media sosial.

Alat elektronik seperti HP, laptop, atau komputer sudah menjadi bagian dari kehidupan modern terutama bagi anak-anak muda untuk berhubungan dengan dunia luar. Namun sebagian kemudian seperti tidak bisa melepaskan diri dari berbagai gadget tersebut. Sebagian lagi, berusaha memperbaikinya dengan puasa media sosial seperti yang dilakukan beberapa mahasiswa asal Indonesia di Australia.

Nehemia Cevin Untu, mahasiswa asal Batam mengaku pernah kecanduan media sosial. Setidaknya, dia mengecek Instagram sebanyak lima sampai tujuh menit sekali.

"Apa-apa selalu periksa media sosial. Bahkan setiap lima sampai tujuh menit. Itu kan berbahaya sebenarnya. Dulu ketika kecanduan Instagram bahkan saya selalu menunggu pemberitahuan."

Mahasiswa Musik di Planetshakers College, Melbourne ini mengatakan juga sempat kebiasaan melakukan scroll pada halaman media sosial tanpa alasan yang jelas. Namun, dia merasa beruntung karena mengenal kegiatan ‘detoks digital’ dari lingkaran pertemanannya di kampus.

"Saya tahu tentang detoks dari teman-teman sekolah. Mereka juga melakukan ini bahkan sampai menamakannya bukan detoks, tapi puasa media sosial."

Mahasiswa lain, Calvina Amanda Wijaya telah memulai detoks digital. Dia merasa enak dan rileks setelah berhenti menggunakan Instagram.

"Saya tidak tahu dia awalnya bagaimana. Tapi teman saya bilang setelah detoks dari Instagram jadi lebih enak dan rileks hidupnya. Terus saya jadi mau coba."

Dia sadar kecanduan media sosial setelah bermimpi tentang akun Instagram teman SMA-nya yang terlalu sering dia lihat selama kurang lebih empat bulan.

"Kalau dulu saya suka nge-stalk satu teman SMA yang kaya dan cantik. Dia kuliah di London dan barang-barangnya semua branded yang di-post di Instagram," kata mahasiswi S2 Akuntansi dan Pemasaran di Melbourne itu.

"Saya stalk dia terus sampai pernah terbawa mimpi. Dan sejak mimpi itu, saya sadar kalau ada yang salah."

Profesor Dr. Daniel Angus dari University of Queensland mengatakan detoks digital adalah suatu cara untuk secara sadar mengambil waktu istirahat dari perangkat digital dan mengalami kehidupan sehari-hari tanpanya. Calvina sudah merasakan dampak positif dari detoks digital setelah dua minggu tidak memiliki aplikasi Instagram di telepon genggamnya.

"Sejauh ini oke, sih, soalnya setiap mau melihat Instagram, [saya ingat] kalau sudah uninstall, jadi tidak bisa stalk lagi. Rasanya lebih lega dan bebas menjalani hidup. Tanpa membandingkan dengan yang lain."

Cevin yang sudah mempraktekkan detoks digital selama tiga minggu mengatakan dapat menggunakan lebih banyak waktu untuk melakukan kegiatan yang berguna di waktu luang.

"Saya berhenti main Instagram karena dulu saya lebih sering menggunakan waktu untuk melihat orang di media sosial, menyibukkan hidup mereka dan sebagainya," katanya.

Profesor Genevieve Belle mengatakan ada kecenderungan meningginya angka kecanduan media sosial di kalangan anak muda. Walau demikian, menurutnya prasangka terhadap teknologi selalu ada dari dulu.

"Penting untuk diingat bahwa pemikiran tentang sehat atau tidaknya berinteraksi dengan teknologi itu bukan pertama kalinya kita alami," katanya.

"Saya besar di tahun '70 dan '80-an di Australia dan saya ingat percakapan-percakapan di masa itu tentang televisi, apakah harus punya atau tidak, duduknya harus jauh atau dekat, dan sebagainya."

Walau adalah 'cerita lama', dia mengatakan bahwa teknologi sekarang menawarkan interaksi langsung yang menarik hati para penggunanya.

"Menurut saya yang baru dari [teknologi saat] ini adalah kesengajaan dari proses perancangannya dan juga bagaimana teknologi zaman sekarang memberikan arus balik langsung," katanya.

"Jadi televisi tidak tahu kalau Anda sedang menontonnya, tapi telepon genggam tahu Anda sedang menggunakannya."

Dr. Angus dari University of Queensland mengatakan bahwa generasi muda hari ini tumbuh besar bersama kemudahan yang ditawarkan teknologi hari ini dan sudah terbiasa dengannya.

"Perangkat-perangkat ini mengikuti mereka kemanapun mereka pergi. Dan di dalamnya, terdapat kemudahan berkomunikasi yang sudah meresap dalam diri. Hal ini yang membedakan mereka dengan generasi sebelumnya." (abc/bls)