Langganan SP 2

Harga Nenas di Kota Pontianak Mencapai Rp 13.000 per Buah

Finance

Editor sutan Dibaca : 1245

Harga Nenas di Kota Pontianak Mencapai Rp 13.000 per Buah
BUAH NENAS
Pontianak, SP – Sejak menjelang perayaan Imlek sampai sekarang, harga buah nenas masih melambung tinggi. Padahal sebelumnya ketika perayaan Natal dan Tahun Baru, harga si buah bersisik ini masih normal-normal saja.

Puncak harga tertinggi terjadi pada sepekan menjelang Imlek, yakni mencapai Rp 16.000 – Rp 18.000 per buah. Naik tiga kali lipat dari harga normal yang berkisar Rp 4.000 – Rp 5.000 per buah.

Heronimus Hero, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH ) Kalbar menilai, kenaikan harga nenas yang cukup drastis merupakan berkah tersendiri bagi petani nenas.

“Ya, selama ini kan petani tidak menikmati keuntungan lebih dari hasil panennya. Hanya pada momen seperti inilah, petani bisa meraup laba lebih. Karena pada saat-saat perayaan seperti ini, kebutuhan nenas tinggi, maka wajar saja kalau harga jual jadi melambung,” kata Hero ketika dihubungi Suara Pemred, Jumat (26/2).

Menurut Hero, selama ini penghasilan para petani masih cukup memprihatinkan. Hasil panen yang dilempar ke pasar masih dihargai murah. Kerja keras petani yang berkutat dengan lumpur belum sebanding dengan hasil yang diterimanya. Untuk nenas saja, butuh waktu tujuh bulan baru bisa panen. Penantian panen yang lumayan lama itu, hanya menghasilkan keuntungan kecil.

Baru pada saat-saat perayaan hari besar, seperti Imlek serta CGM dan Hari Raya Idul Fitri hasil panen nenas dihargai tinggi. “Biarkanlah petani menikmati keuntungan lebih pada saat-saat seperti ini,” ucap Hero.

Pada Jumat (26/2) kemarin harga buah nenas mulai turun dua ribu sampai tiga ribu rupiah,  yakni Rp 12.000 – Rp 13.000 untuk ukuran besar, sementara yang ukuran kecil dihargai Rp 8.000 per buah.

“Biasanya harga nenas ini hanya Rp 4.000 per buah, paling mahal lima ribu rupiah, bahkan ada yang jual tiga ribu rupiah untuk ukuran kecil. Sekarang mahal, belum turun-turun juga harganya sudah dua bulan ini,” keluh Mirnawati,  di pasar Dahlia Kota Pontianak.

Mirna yang mengaku jualan lauk-pauk siap saji di Sungai Jawi Dalam ini, setiap hari membeli nenas kemudian diolah menjadi sayur paceri untuk jualannya. Sejak harga nenas mahal, ia terpaksa mengurangi porsi jualannya. “Orang biasa beli sayur paceri nenas ini tiga ribu rupiah, sekarang sejak nenas mahal, saya jual lima ribu rupiah per porsi, itu pun untungnya tipis,” kata Mirna yang berharap harga nenas kembali normal.

“Iya tuh, harga nenas mahal sangat, sejak jelang Imlek sampai sekarang. Saya sudah dua bulan lebih tidak beli nenas lagi, karena mahal,” celetuk Muhtar, bapak dua anak yang tengah menemani istrinya berbelanja.

Bagi Muhtar, nenas merupakan buah yang sangat nikmat. Bisa disantap langsung dan disantap bersama nasi sebagai pengganti sayur. Sejak harganya melambung, Muhtar terpaksa menghentikan sementara kesukaannya menyantap nenas.

Begitu juga dengan penjual manisan buah. Kini tidak terlihat lagi buah nenas sebagai pelengkap dagangannya. “Harga nenas mahal begini, mana bisa untung. Mau dipotong berapa pun tetap tidak untung. Kita jual seribu rupiah satu potong. Kalau belinya Rp 16.000 per buah, susah jualnya,” kata  Anen, penjual manisan buah yang biasa mangkal di Jalan Diponegoro. Diperkirakan harga nenas akan kembali normal pada Maret mendatang. (yul)  

Nenas Kalbar Terbaik di Asean

Kalbar paling kaya akan buah-buahan, terutama buah tropis, apa saja ada. Lihat saja ketika musim buah, semua buah bermunculan silih berganti, dari durian, rambutan, langsat, manggis, cempedak dan lainnya.

Dan, nenas yang seolah berbuah tanpa musim, selalu saja ada di pasaran. Khusus untuk buah bersisik ini, ternyata Kalbar pemilik buah nenas terbaik di Asean.
Kafi Kurnia, Ketua Asosiasi Ekspor Impor dan Sayur Segar Indonesia dalam setiap acara talks show selalu mengatakan, bahwa buah nenas Kalbar adalah yang terbaik di Asean!” Kafi memang serius dengan ucapannya.

Dia memaparkan pengalaman pribadinya, serta beberapa anggota asosiasi yang pernah menangani bisnis ekspor buah ke luar negeri, bahwa permintaan terhadap nenas Kalbar yang mereka sebut dengan Nenas Parit cukup besar.
“Dibandingkan dengan jenis nenas lainnya di negara-negara Asean, nenas Kalbar memiliki rasa yang lebih manis dan ukuran yang lebih besar, sehingga sangat diminati oleh konsumen. “Nenas parit” yang dimaksud Kafi, adalah nenas yang berasal dari Kabupaten Mempawah atau tepatnya di Desa Galang, Sungai Pinyuh.

Penyebutan nenas parit, mungkin karena nenas tersebut banyak ditanam dan tumbuh di sekitar saluran drainase (parit) lahan gambut, yang sengaja dibuat oleh petani sepanjang hamparan lahan pertanaman.
  Kata Kafi, selain permintaan terhadap nenas parit cukup tinggi, harga nenas di pasar ekspor juga sangat baik.

Bahkan sangat jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga jual nenas di dalam negeri. 
Namun demikian, meskipun nenas parit dari daerah ini sangat diminati oleh pasar, masih banyak kendala yang dihadapi oleh para pengusaha ekspor untuk memenuhi permintaan pasar.

Hambatan paling utama adalah, tidak adanya dukungan pelabuhan laut atau pelabuhan internasional langsung dari daerah ini.
Kondisi ini dinilai, sangat menghambat proses pengiriman nenas ke luar. Jika berhasil diekspor, nenas juga akan mengalami penurunan kualitas, lantaran waktu pengiriman yang cukup lama. Inilah biang kerok yang membuat jumlah ekspor nenas Kalbar masih terbatas.

Asosiasi Ekspor-Impor Buah dan Sayur segar Indonesia berharap, agar pemerintah pusat dan daerah dapat lebih memperhatikan pembangunan infrastruktur di seluruh daerah, khususnya infrastruktur pelabuhan.

Karena menurutnya salah satu kunci keberhasilan pembangunan agribisnis, adalah tersedianya dukungan infrastruktur.  Potensi Pertanian yang besar, tidak akan memberikan dampak kemakmuran kepada masyarakat jika tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai.  (yul)