Langganan SP 2

Petani Karet di Kabupaten Sintang Mulai Bergairah

Finance

Editor sutan Dibaca : 1868

Petani Karet di Kabupaten Sintang Mulai Bergairah
Petani memanen getah karet di lahan perkebunan Lopak Aur, Pemayung, Batanghari, Jambi, Jumat (29/4). Harga jual getah di daerah itu mulai berangsur naik dari Rp6.100 per kilogram pada bulan lalu menjadi Rp6.800 per kilogram dalam beberapa hari terakhir. A
SINTANG, SP - Sejak sebulan terakhir, harga kulat karet di tingkat petani mulai merangkak naik. Saat ini harga per kilonya, sudah mencapai Rp 7500 sampai Rp 8000.

Sebelumya, per kilo kulat di tingkat petani hanya diharga Rp 4500 hingga Rp 5000. Harga itu tak ayal kian meresahkan petani.

Pasalnya,  hasil penjualan dengan harga senilai itu, dianggap tak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka.

Namun dengan meningkatnya harga ini, sejumlah petani pun mulai merasa tenang dan senang. “Alhamdulilah, kulat sudah naik,” kata Toiman, satu di antara petani karet di Desa  Empaci, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Rabu (5/5).



Pria satu anak ini mengaku sangat bersyukur, atas perubahan harga kulat yang mulai membaik. Dia mengharapkan, harga ini terus mengalami peningkatan, supaya ekonomi petani karet dapat kembali stabil, bila perlu meningkat.

“Kami berharap harga kulat bisa seperti dulu lagi, mencapai Rp 20 ribu,” harapnya.

Tak hanya Toiman yang merasa senang atas perubahan harga kulat yang kini beranjak naik, Sarlani petani lainnya turut merasakan hal yang sama.

Warga Desa Perembang, Kecamatan Sungai Tebelian tersebut pun  mengharapkan, pemerintah terus memperjuangkan harga karet.

Sehingga karet kembali menjadi salah satu komoditas andalan, yang dapat menopang perekonomian. Pasalnya, 90 persen warga di desa dimana dia tinggal, sangat bergantung dari hasil bumi ini.

 
Sarlani mengaku, harga kulat yang beberapa waktu lalu dirasakannya sangat murah, sempat membuatnya berhenti menorah. Dirinya bahkan emutuskan harus mencari penghasilan tambahan dengan menjual sayur-sayuran.

“Jadi saya sempat berhenti menoreh getah sementara, karena harganya murah, dan saya mencoba mencari penghasilan tambahan dengan berjualan sayur keliling," katanya.

Tetapi lanjutnya, dengan adanya peningkatan harga ini sejak sebulan terahir, membuatnya kembali ke pekerjaan awalnya sebagai petani karet.



Industrialisasi Hilir

Bupati Sintang, Jarot Winarno  mengatakan, untuk menyelamatkan harga karet dan sawit yang tidak stabil, maka diperlukan suatu solusi yang tepat. Satu di antaranya dengan membangun industrialisasi  hilir (hilirisasi).

"Saat ini karet dan sawit murah maka industri hilir menjadi solusi yang mendesak diusahakan. Kita akan segera melakukan komunikasi dengan pabrik ban dan pabrik minyak goreng," katanya, belum lama ini.

Menurutnya, membangun industri hilir, tidak hanya semata untuk menjaga kestabilan harga karet dan sawit, namun juga efek lainnya adalah penyerapan tenaga kerja. 
(abd/and)