Langganan SP 2

Melawan Kampanye Hitam di Balik Industri Besar Sawit

Finance

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 442

Melawan Kampanye Hitam di Balik Industri Besar Sawit
SUMRINGAH - Dua petani sawit tampak senyum sumringah saat memanen Tandan Buah Segar (TBS) di kebun plasma mereka. Sejak hadirnya sawit di banyak wilayah pinggiran di Indonesia, satu di antaranya ada di Kalbar, terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan ma
Masifnya kampanye hitam tentang industri sawit di Indonesia, ibarat rem cangkram yang melekat pada roda kendaraan. Semakin laju perputaran industri monokultur ini di daerah, semakin kuat pula fungsi cakram untuk memperlambat dari laju pertumbuhan dari perkebunan itu sendiri. Tapi, hadirnya cerita manis dari petani langsung, bagaimana merasakan dampak ekonomi hingga infrasturktur di daerah, paling tidak bisa mengikis pandangan negatif tentang sawit di daerah.

Maspawandi ingat betul, bagaimana sulitnya menjadi penebang kayu ilegal, puluhan tahun silam. Kayu berukuran besar dan tinggi menjulang yang ia tebang di hutan itu, ternyata tak sebesar harapannya.

"Dalam hidup saya, sudah dua kali masuk penjara, gara-gara kasus illegal logging. Uang hasil penjualan kayu ke cukong kayu hanya habis untuk makan keluarga sehari," kenang Maspawandi, hari itu, kepada Suara Pemred, hari itu.

Maspawandi adalah Kepala Dusun
Sui Durian, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang. Cerita Maspawandi sebagai penebang kayu adalah cerita masa lalunya.
Cerita kelam Maspawandi justru berubah 180 derajat, begitu era perkebunan sawit masuk di desanya. Sejak itu, ekonomi warga lokal lainnya ikut terangkat. Banyak dari warga direkrut sebagai karyawan perusahaan. Imbalannya tentu jelas. mendapatkan gaji bulanan.

"Sekarang sudah 70 persen warga kita bekerja dengan perusahaan. Dari upah yang kami terima, kami bisa kelola uang kami untuk masa depan keluarga kami," kata Maspawandi.

Misalnya, warga bisa memberanikan diri mengajukan kredit motor. Bahkan dari upah dari hasil merawat kebun milik perusahaan, seperti memberi pupuk dan memanen buah, banyak di antara mereka, ada yang sudah mampu menguliahi anaknya ke ibukota ke luar daerah.

“Kami sekarang bukan kuli lagi. Tapi kami sudah menjadi karyawan perusahaan sawit. Hadirnya perusahaan mengubah nasib kami,” tutur Ikin, warga lainnya di Dusun Sui Durian.

Kabar baik masuknya investasi sawit di daerah lain juga datang dari Sanggau. Jaraknya puluhan mil dari Kota Pontianak, ibukota Kalimantan Barat. Rumeng namanya. Ia adalah petani plasma dan sudah bermitra dengan satu di antara perusahaan sawit, puluhan tahun silam.

“Dulu lahan saya masih hutan. Sebagian memang sudah ditanami karet. Tapi hasilnya tidak memuaskan. Sejak perusahaan masuk, saya bergabung menjadi petani plasma,” tuturnya.

Hasilnya, pada 2011, Rumeng dengan penampilan lusuh justru sudah berani mendatangi dealer mobil di Kota Pontianak. Kijang Inova langsung dibayar tunai, dengan menunjukkan sekarung beras berisi uang kepada petugas.

"Uang Rp 250 juta saya bayar kontan tanpa korupsi,” kata Rumeng.

Rumeng beralasan membeli mobil, karena infrastruktur jalan di tempat tinggalnya dalm kondisi mulus.

"Jalan itu dibangun oleh perusahaan. Warga sekarang sudah bisa menikmati akses cepat pergi ke pusat kota dengan kendaraan. Beda dengan dulu. Sebelum sawit masuk, kita harus jalan kaki,karena jalan kampung masih rusak," beber Rumeng.
 

Apa yang terjadi pada Maspawandi dan Rumeng merupakan potret kecil yang terangkat ke permukaan, bagaimana mereka merasakan manisnya kontribusi perkebunan sawit mengangkat ekonomi warga lokal. Tapi di negeri seberang. Puluhan ribu mil jauhnya, pandangan miring terhadap industri sawit justru masih bersuara nyaring.

Puncaknya pada awal April 2017. Saat parlemen Eropa
mempublikasikan Report on Palm Oil and Deforestation of Rainforests (RPODR), isinya menuding industri sawit di Indonesia memiliki persoalan Hak Asasi Manusia (HAM). Mulai dari eksploitasi pekerja anak, menghilangkan hak masyarakat adat hingga korupsi, dianggap memojokkan pemerintah Indonesia.

“Tuduhan Parlemen Eropa merupakan tuduhan yang keji dan tidak relevan," kata Menteri Lingkungan, Siti Nurbaya, dalam keterangan tertulis, Jumat 7 April 2017.

Tudingan parlemen Eropa ikut mencederai semangat petani. Bagaimana tidak. Di Indonesia, sawit merupakan industri besar. Di dalamnya menyangkut hajat hidup petani.

Saat ini Indonesia memiliki areal tanam sawit seluas 11,6 juta hektare dan di dalamnya ada 41 persen tanaman milik petani dan tenaga kerja dari usaha hulu hingga hilir. Bila dijumlahkan tidak kurang dari 16 juta orang petani dan tenaga kerja, menggantungkan hidup dari perkebunan sawit.

Bahkan untuk Kalbar saja, Data Dinas Perkebunan Kalbar menyebutkan untuk alokasi kelapa sawit hingga 2025 mencapai 1,5 juta hektare. Sementara komposisi luas areal sekarang 880 hektare dengan jumlah produksi mencapai 1 juta ton per tahun. Dari semua total areal perkebunan sawit, jumlah petani yang dilibatkan sekitar seratus ribuuan kepala keluarga.

Wajar jika Gubernur Kalbar, Cornelis dalam sebuah kesempatan menyatakan siap pasang badan. Pada acara pelantikan pengurus Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (Gapki) Kalbar, minggu kedua Januari 2017, Cornelis mengajak para pengusaha sawit harus berani melawan kampanye hitam tentang sawit.

“Kita punya tanah yang luas. Kita punya kebun, negara asing tidak punya lahan sawit di sini. Mereka tidak bisa mengatur kebun kita,” kata Cornelis.

Anugerah Daerah
Lahan yang luas dan beriklim tropis, sebenarnya menjadi anugerah bagi masyarakat Kalbar. Dua faktor itu menjadikan tumbuhan monokultur itu menghasilkan buah yang baik. Sawit dianggap mampu tumbuh dilahan kritis.

Mantan Ketua Gapki Kalbar, P Girsang, kepada Suara Pemred kala itu menyebutkan, Kalbar sekarang menduduki posisi empat untuk penghasil
Crude Palm Oil (CPO) nasional dan diramalkan menjadi lahan masa depan sawit di Indonesia. Ramalan itu berkaca pada daerah di Pulau Sumatera dan pulau lainnya, dianggap sebagai penghasil CPO, produksinya sedang stagnan.

"Di sini, pemerintah dan masyarakat harus sadar bahwa kelapa sawit di Kalbar adalah anugerah," tutur Girsang.

Disebut anugerah, karena kehadiran perusahaan sawit diyakini mampu merangsang tumbuhnya kebun baru swadaya. Dengan terbukanya area itu, wilayah yang sebelumnya tidur, saat ini menjadi pusat–pusat pertumbuhan ekonomi baru. Seperti berkembangnya usaha ekonomi sekunder, seperti usaha bengkel, meubel, toko obat, pasaran sebagainya.

Pada sebuah siang, Suara Pemred melakukan perjalanan di pusat kota Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau. Di pusat ekonomi warga sekitar itu, Suara Pemred berkesempatan bertemu dengan Mami (33). Ia adalah pemilik toko swalayan, Parindu Mitra Anda.

Mimi mengaku omset penjualan meningkat setelah kehadiran sejumlah perusahaan perkebunan sawit di daerahnya. Ia menambahkan, biasanya aktivitas perdagangan akan ramai bila sudah memasuki awal bulan. 

"Kalau sudah masuk tanggal gajian, banyak petani dari desa memborong Sembako. Seperti, minyak goreng, beras, gula hingga mie instan. Omset penjualan bisa tembus ratusan  juta, beber Mami.

Imbas dari kehadiran perkebunan sawit di desa itu juga dinikmati pengusaha dealer motor, “Suzuki Bodok.” Dani dan Femi Subari bagian kredit menceritakan, dalam sebulan sebanyak 30 sampai 35 unit motor laku terjual.

Kebanyakan yang mengambil sepeda motor adalah petani sawit. Tak heran, dalam satu rumah dengan lima anggota jiwa, semuanya memiliki kendaraan. Motor tersebut dipergunakan untuk alat transportasi ke kebun. Selain itu juga, adanya infrastruktur jalan yang bagus dan saling menghubungkan, dari jalan setapak menuju jalan besar. Sehingga motor bisa digunakan.

“Yang pasti, dengan keberadaan sawit di Parindu, khususnya, banyak perubahan yang terjadi. Pasar yang sebelumnya sepi, berubah menjadi ramai,” kata Dani.

Harus Selaras

Pengamat Ekonomi Untan, Ali Nasrun, Kalbar sebagai daerah yang luas, yakni 1,5 kali pulau Jawa, memang membutuhkan investasi, untuk membangun ketertinggalan dari daerah lain. Selama ini, memang sektor perkebunan yang paling banyak menyerap tenaga kerja dari masyarakat lokal dengan kehadiran investasi tersebut.

Hanya saja persoalan, Kalbar masih minim pembangunan kawasan industri di tiap daerah. Padahal, kehadiran daerah industri, hasil perkebunan Kalbar yang melimpah bisa diolah sehingga lebih bisa mensejahterakan rakyat.

Ketua  Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RI, Oesman Sapta menambahkan, peluang Kalbar membangun industri besar, misalnya dari perkebunan sawit sebenarnya terbuka lebar.

Karena Kalbar memiliki kawasan ekonomi yang strategis untuk itu. Satu di antaranya ada di daerah perbatasan. Di daerah ini, banyak perusahaan menancapkan investasinya di sektor perkebunan dan telah berhasil memproduksi CPO dalam jumlah besar. Produksi turunan dari sawit mestinya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri.

"Penduduk Indonesia ada 250 juta. Perusahaan tidak perlu lagi menjualnya ke luar negeri. Tapi kalau dalam negeri sudah terpenuhi, sisanya baru kita kasi ke negara lain," kata Oesman.

Aktivis Lingkungan Kalbar, Deman Huri menyebutkan, semakin banyak industri sawit yang masuk di daerah, mestinya lurus dengan
kesejahteraan masyarakatnya. Hal ini bisa dilihat dari tingginya animo perizinan yang dikeluarkan pemerintah terhadap perusahaan perkebunan kelapa sawit.

"Karena semakin banyak perusahaan yang masuk, semakin bertambah pula petani plasma yang bermitra dengan perusahaan. Artinya, ada perbaikan ekonomi di tingkat petani itu sendiri," kata Deman.

Hanya saja, investasi yang dibangun oleh perusahaan mesti mengutamakan kepentingan lingkungan dan aspek sosial lainnya. Misalnya, tidak menggunakan ruang lahan yang berlebihan.

Lainnya, harus ada keseimbangan antara penggunaan lahan perkebunan dengan lahan untuk ketahanan pangan. Seperti beras, umbi-umbian, sayuran, ketersediaan air bersih dan lainnya.

Direktur Lingkar Borneo, Agus Tomo dalam pertemuan bersama warga Kecamatan Nanga Suhaid, Kapuas Hulu di Pontianak menyatakan, LSM dan masyarakat sebenarnya tidak mempermasalahkan apa pun bentuk investasi yang masuk ke Kalbar, asalkan industri yang dibangun tidak merusak lingkungan.

“Selama perusahaan ramah dengan lingkungan, semuanya akan welcome,” tuturnya. (agus wahyuni/nova sari)