Tiga KRI Evakuasi Eks Gafatar dari Kalbar ke Pulau Jawa

Regional

Editor sutan Dibaca : 951

Tiga KRI Evakuasi Eks Gafatar dari Kalbar ke Pulau Jawa
KAPAL PERANG- Sejumlah anak buah kapal turun dari KRI Teluk Gilimanuk 531, satu dari tiga kapal perang TNI AL yang akan mengevakuasi warga eks Gafatar di dermaga Mako Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) XII Pontianak, Kalbar, Kamis (21/1). TNI AL mengerahka
PONTIANAK, SP – Pemerintah menggunakan tiga KRI untuk mengevakuasi eks Gafatar. Mereka akan dipulangkan ke daerah asal di Jawa. Kemarin, Kamis (21/1) pukul 08.30 WIB, KRI Teluk Gilimanuk-531 telah merapat di dermaga Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut Pontianak.
Para eks Gafatar mulai dievakuasi dari berbagai daerah di Kalbar. Kemarin, Kamis (21/1) pengungsi dari Bengkayang dan Sambas, tiba di Markas Perbekalan dan Angkutan Kodam (Bekangdam) Tanjungpura/XII. Sehari sebelumnya, pengungsi dari Mempawah tiba lebih dulu. 

Pengamatan di lapangan, tenda-tenda besar didirikan untuk menampung para pengungsi. Sebuah bangunan permanen di belakang Bekangdam juga menjadi tempat penampungan.
Deretan tempat MCK berdiri berjajar di samping bangunan besar. Para pengungsi mendapat perlakuan yang baik. Kebutuhan mereka terpenuhi.   “Lihat saja wajah-wajah orang yang ada di penampungan ini, tak terlihat adanya raut kesedihan,” kata Soeharto (42), pengungsi dari Moton, Mempawah.  
Apa yang dikatakannya, benar adanya. Sepanjang Suara Pemred mengelilingi area Bekangdam, raut wajah sedih atau marah tak begitu terlihat. Meski berada dalam pengungsian, para pengungsi ini seakan berada di satu wadah.
Ada perasaan satu nasib.
  “Diperlakukan kayak apapun, kami tidak akan membalas. Itulah yang kami jalani dan ajarkan,” ujarnya. 
Siang itu, Ihsan (23) terlihat memperhatikan beberapa bis dan truk yang membawa para pengungsi yang tiba dari Bengkayang.
Wajah pemuda ini tidak menyiratkan kekuatiran ketika diajak berbincang. Ia menanggapi perbincangan yang Suara Pemred lakukan dengan senyum yang selalu mengembang. Seperti tak ada beban. Mantan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta ini, ‘hijrah’ ke Mempawah, karena ikut keluarganya.
Dulunya, ia pernah ikut sebagai anggota Gafatar. Awal ketertarikannya, karena Gafatar organisasi sosial. Ia tak menampik, pernah mengenal sosok Ahmad Musadeq, meski hanya lewat pengajian. Musadeq sosok karismatik. Ia guru spiritual bagi anggota Gafatar. Setiap wejangannya, dipercaya dan dijalankan para anggota. “Tapi itu dulu, saat kami masih di Gafatar. Sekarang Gafatar kan sudah bubar,” katanya dengan serius. 

KRI Tiba

TNI Angkatan Laut sudah menyiapkan tiga kapal perang untuk mengangkut pengungsi. Terkait pemberangkatan para pengungsi, Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI M Zainuddin  mengatakan, “Kapan pemberangkatan, leading sector berada di Pemprov Kalbar. Saat ini, Mayor Laut (P) Antonius, komandan KRI Teluk Gilimanuk tengah rapat untuk berkoordinasi,” tuturnya.
Selain KRI Gilimanuk, TNI AL menyiapkan KRI Teluk Bone dan KRI Teluk Banten untuk evakuasi warga eks Gafatar di Kalimantan Barat. Sedianya KRI Teluk Banten berangkat dari Surabaya pada Kamis dini hari, begitu juga KRI Teluk Bone. “Saat ini kegiatan kapal menunggu proses pengisian bahan bakar, menyiapkan tenda pasukan dan akomodasi,” kata Zainuddin.

Kapal KRI Teluk Gilimanuk-531 direncanakan berlayar mengangkut sedikitnya 375 orang warga eks Gafatar, yang akan dipulangkan ke Pelabuhan Semarang, Jumat (22/1) siang.
Total kapal ada tiga yang datang, dan siap mengangkut 3.121 warga eks Gafatar yang ada di Kalbar. KRI Teluk Gilimanuk diperkirakan bisa mengangkut 375 orang. Dua lagi KRI Teluk Banten dan KRI Teluk Bone, akan segera tiba di Lantamal XII. “Mudah-mudahan besok (Jumat) sebanyak 375 orang sudah bisa diberangkatkan,” ucap Pangdam XII Tanjungpura, Mayjen TNI, Agung Risdhianto, ketika meninjau KRI Teluk Gilimanuk, di Lantamal XII Pontianak, Kamis (21/1) sore. Ibu-ibu, remaja dan anak-anak, serta ibu yang mengandung akan ditempatkan pada bagian dalam kapal.
Sedangkan untuk laki-laki dewasa akan ditempatkan di geladak depan kapal, yang sudah dipasang tenda. “Yang penting, mereka tidak terpisah dengan keluarganya,” kata Pangdam. Pemprov Kalbar kemarin menggelar rapat di Markas Perbekalan dan Angkutan Kodam XII Tanjungpura, terkait dengan pemulangan eks Gafatar. Poskotis di Bekangdam XII Tanjungpura mendata masing-masing individu eks Gafatar untuk kepentingan penumpang.

Saat ini, Poskotis mendata sebanyak 1.529 pengikut eks Gafatar sudah ditampung di Kamp Bekangdam XII/Tanjungpura. Jumlahnya diperkirakan bertambah, karena gelombang evakuasi pengungsi mulai berdatangan.

Kapendam XII/Tanjungpura, Kolonel Infantri Mukhlis mengatakan, aparat masih melakukan pendataan eks Gafatar di seluruh Kalbar. Mukhlis menyatakan, pemulangan anggota Gafatar dari berbagai wilayah di Pulau Jawa, bakal dilakukan secara bergelombang.
Namun, ia memastikan semua penumpang bakal diturunkan ke Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. "Hari ini KRI Gilimanuk, yang Sabtu ada KRI Amboina. Tapi semua turun di Semarang, kan sudah kita koordinasi dengan Pemda yang ada warganya ikut Gafatar ini," imbuhnya.

Evakuasi Daerah 


Mengantisipasi terjadinya kejadian serupa, Hermanus, Wakil Bupati Kubu Raya mengatakan Pemerintah daerah berupaya memberikan pelayanan dan tempat untuk para pengungsi dengan menempati di barak-barak Kompi B.  
Sebanyak 45 warga eks Gafatar yang diungsikan di Gedung Loka Bina Karya Sintang dua hari yang lalu,  kembali dievakuasi Pemkab Sintang menuju ke ibu kota provinsi Kalbar, Kamis (21/1).

Sami mengaku pasrah dengan kebijakan pemerintah yang akan membawa dirinya
, beserta puluhan eks Gafatar lainnya ke mana nanti.
  Kemarin, pengungsi dari Sambas juga diberangkatkan ke Pontianak. Sebanyak 32 eks Gafatar dibawa dari barak Polres Sambas menuju Pontianak.   “Agar tidak memunculkan keresahan, eks Gafatar yang telah membaur bersama masyarakat ini, kita evakuasi,” kata Yuliarti, Bupati Sambas.  

Menurutnya, hal itu dilakukan sebagai antisivasi, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Semua demi kemanusiaan,” ujarnya.
 
Abdul Rasyid (31), eks anggota Gafatar ketika ditemui menyatakan, dia sudah merasa nyaman bertani di Sambas. Sekarang bingung mau pulang ke mana. Ia masuk Gafatar tahun 2012. Keluar tahun 2014.
Pindah ke Kalimantan karena program pertanian menjadikannya sebagai kader pangan mandiri. "Yang jelas kami tidak tahu apa-apa. Tahunya setelah kasus Gafatar ini mencuat," jelasnya.
 

Hal senada diungkan Indri (35), eks Gafatar asal Surabaya di Arang Limbung, Kubu Raya. Ia ingin memperbaiki hidup sejak di PHK di suatu perusahaan swasta di kampung halamannya. Terlebih, saat itu dia hanya kontrak rumah dengan dua anaknya.
Siapkan Asrama Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah akan menjadi pusat penampungan sementara bagi warga eks Gafatar asal Kalbar, rencananya hari ini akan diberangkatkan dari Kalbar menggunakan tiga KRI. 

Gubernur Jawa Tengah,  Ganjar menyebutkan asrama ini mampu menampung 1.500 orang lebih, di sana akan dilakukan proses pemulihan ideologi dan keyakinan yang melibatkan Majelis Ulama Indonesia, tokob-tokoh agama, tokoh masyarakat, psikolog, serta TNI-Polri," kata Ganjar.
 

Pemprov Jawa Timur juga sudah menyiapkan 13 bus untuk menjemput 515 warga eks-Gafatar dari Semarang, Jawa Tengah. Kepolisian pun akan mengawal ketat perjalanan mereka ke Jawa Timur.
Rencananya, kapal yang mengangkut warga eks-Gafatar dari Pontianak, tiba di Semarang pada Rabu 27 Januari 2016. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Jatim dengan menggunakan bus.
“Masing-masing bus berkapasitas 39 penumpang. Bila kurang, Pemprov menyiagakan dua bus cadangan untuk mengangkut mereka,” kata Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jatim. 

Kemdagri melalui Ditjen Polpum akan bekerja sama dengan unsur intelijen termasuk tokoh-tokoh masyarakat, agama dan adat, melakukan pembinaan terhadap yang sudah keluar dari Gafatar. Menurutnya, para eks anggota Gafatar semestinya dirangkul. "Jangan dimusuhi karena mereka juga termasuk korban. Pembinaan harus terus dilakukan," Tjahyo Kumolo.

Pengamat sosial dari Untan, Herlan Arkan menyatakan, evakuasi eks Gafatar yang dilakukan pemerintah, merupakan solusi terbaik untuk saat ini. Seiring dengan munculnya penolakan hingga pengusiran, bahkan pembakaran aset eks Gafatar oleh penduduk setempat.
 
Pemulangan juga alternatif terbaik. Karena jika dibiarkan menetap, bisa saja kembali muncul konflik yang lebih serius. Dengan dipulangkan, pembinaan akan jauh lebih mudah dilakukan.   “Apalagi, dalam hal ini banyak terjadi kasus hilangnya keluarga. Pemulangan ke daerah asal otomatis mempertemukan keluarga yang hilang,” ujarnya. Pemerintah daerah harus melakukan pendataan secara benar aset-aset itu.
Nantinya, bisa saja lahan tersebut dijual kembali melalui lelang, lalu uang hasil penjualan diberikan kembali kepada eks Gafatar yang sudah kembali ke daerah asal. “Karenanya, pendataan menjadi hal krusial untuk solusi pemulangan yang dilakukan pemerintah,” ujarnya. (bls/sap/abd/del/jek/ant/tem/det/met/loh/lis)