Adik Kandung M. Zeet Hamdy Assovie, Sekda Provinsi Kalbar Gembong Gafatar?

Regional

Editor sutan Dibaca : 4154

Adik Kandung M. Zeet Hamdy Assovie, Sekda Provinsi Kalbar Gembong Gafatar?
ilustrasi penempatan eks Gafatar di Kalbar
PONTIANAK, SP – Nama Fahmi, adik kandung M. Zeet Hamdy Assovie, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalimantan Barat, mencuat di kalangan satuan intelijen di Kepolisian, TNI dan Badan Intelijen Negara  (BIN), karena diduga berat terlibat sebagai salah satu gembong petinggi Gafatar di Kalimantan Barat. 

Asintel Kodam XII Tanjungpura, Kolonel Inf Rizal kepada Suara Pemred mengakui, nama Fahmi adik kandung M Zeet Hamdi diduga terlibat organisasi terlarang Gafatar. "Ya, nama itu sudah kita ketahui," katanya singkat.


Kepada Suara Pemred, Direktur Bina Mitra Polda Kalbar Kombes Pol Suhadi SW, juga mengungkapkan nama Fahmi, adik kandung pejabat tinggi di Kantor Gubernur Provinsi Kalbar, masuk dalam laporan kepolisian.
"Fahmi sudah kita panggil, dan dia dengan santai mengakui memang salah satu pengurus Gafatar,” ujar Suhadi.

Suhadi berkata, Fahmi bercerita banyak soal Gafatar, mulai dari perbedaan cara beribadah hingga lainnya, termasuk paham tidak menyekolahkan anak-anak Gafatar ke komunitas luar," kata Kombes Suhadi SW, usai salat Jumat (22/1) di Pontianak.

Dari repotase yang dilakukan Suara Pemred, dari  berbagai sumber di masyarakat, Kota Pontianak sejumlah nama sudah banyak bergabung dengan Gafatar. "Mereka belum menjadikan Kota Pontianak tempat bertani dan menyebarkan
paham terlarang itu, mungkin karena sempitnya lahan dan takut terpantau,” ujar sumber tak mau disebut namanya.


Tempat tinggal mereka ada, namun berpencar. Termasuk tempat berkumpul atau diskusi di sebuah kampus atau kantin. Sumber ini menyakini, sejumlah keluarga Sekda Kalbar sudah lama bergabung di Gafatar.
"Kami sebenarnya kenal dengan keluarga beliau, memang aneh, cara mereka termasuk tidak menyekolahkan anak-anaknya," kata sumber tadi.

Sumber lain menyebutkan bahwa, sekitar 10 orang yang menjadi gembong Gafatar sudah diamankan aparat kepolisian di Kalbar. "Mereka sudah diamankan, salah satunya yang menjadi koordinator pembawa orang-orang Gafatar dari luar Kalimantan,” ujarnya.

Anehnya, saat pemerintah dan aparat sibuk mengevakuasi dan memulangkan ke tempat asal Gafatar, orang itu malah membawa anggota Gafatar masuk ke Kalbar. Orang itu akhirnya ditangkap.

Sumber ini juga menjelaskan bahwa, aparat telah memantau kedatangan Ahmad Moshaddeq di Bandara Supadio Pontianak, beberapa waktu lalu dengan memperlihatkan bukti foto. "Kedatangan Ahmad Moshaddeq ke Kalbar, sepertinya berkaitan dengan rencana Gafatar yang akan deklarasi ‘Negara Kesatuan Tuan Semesta Alam’ yang direncanakan pada tanggal 15 Januari 2016. Tapi sepertinya batal karena terbongkar terlebih dahulu,” ujarnya.  

Nama Fahmi juga sudah santer di wilayah  Kabupaten Mempawah, seorang warga kepada Suara Pemred mengatakan, sudah mendapat informasi valid dari aparat keamanan, tentang oknum yang terlibat terlalu jauh memfasilitasi kedatangan Gafatar ke Kalimantan Barat.   “Oknum bernama Fahmi, adik kandung salah satu pejabat penting di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalbar. Kami desak polisi segera menangkap Fahmi, karena telah membuat resah masyarakat,” desak Ipik Sunarya (51), warga Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Pontianak.  

Ipik mengatakan, Fahmi sudah berkali-kali diperiksa polisi. Peran Fahmi mencari lahan, karena dicatat sebagai salah satu pengurus Gafatar Kalbar. Ipik menegaskan, karena adik kandung pejabat penting di Pemprov Kalbar, Fahmi bebas ke luar masuk di Kantor Gubernur Kalbar. Profesi Fahmi adalah kontraktor.  

Menurut Ipik, apabila belum berhasil ditangkap Polri paling lambat pada Sabtu, 30 Januari 2016, warga akan menangkap Fahmi untuk diserahkan kepada aparat penegak hukum.   Ipik mengatakan, karena adik kandung pejabat penting di Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Fahmi, terkesan tidak ada beban menghadapi kemarahan masyarakat.   “Padahal Fahmi sudah berkali-kali diperiksa polisi. Peran Fahmi mencari lahan, karena dicatat sebagai salah satu pengurus Gafatar Kalimantan Barat,” ungkap Ipik.  

Ipik menegaskan, karena merupakan adik kandung pejabat penting di Pemprov Kalbar, Fahmi bebas ke luar masuk di Kantor Gubernur Kalbar. Profesi Fahmi adalah kontraktor.   Menurut Ipik, apabila belum berhasil ditangkap Polri paling lambat pada Sabtu (30/1),  warga akan menangkap Fahmi untuk diserahkan kepada aparat penegak hukum.   Sekda Provinsi Kalimantan Barat, Zeet Hamdy Assovie, belum berhasil dikonfirmasi sejak akhir pekan lalu. Materi konfirmasi lewat pesan layanan singkat belum direspon dan upaya menemui Zeet di Rumah Jabatan Eselon I di Jalan Sutan Syahrir, Pontianak, belum berhasil, Minggu (24/1) kemarin.  

Demikian pula Fahmi sampai sekarang belum berhasil dikonfirmasi. Sejumlah nomor telepon genggamnya tidak aktif ketika akan dihubungi. Begitu juga tempat biasanya dia  menghabiskan waktu  di sebuah kantin dekat Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) di Jalan KH Ahmad Dahlan, Pontianak, tidak terlihat semenjak hebohnya Gafatar.  

Pencari Lahan

Pemkab Mempawah telah melakukan investigasi terkait masuknya eks Gafatar ke Mempawah. Pemda mengklaim, eks Gafatar masuk ke Kalbar, didatangkan dua orang, bernama Andre dan Supardan.

Sekarang ini, keduanya masih menetap di Jawa Timur.   Begitu datang mereka menempati lahan yang disiapkan pengurus Gafatar di Kalbar melalui Kelompok Tani Manunggal Sejati di RT.032/RW 009, Dusun Moton Asam, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur. Wilayah ini dibakar dan memicu evakuasi eks Gafatar di seluruh wilayah Kalbar.  

Suharto (42), eks Gafatar dari Malang yang menempati Moton berkata, ketika membeli wilayah itu, mereka membeli lahan dua kali. “Pertama uang sudah disetor tapi tidak sampai ke pemilik lahan. Sehingga kami harus bayar lagi,” katanya, ketika ditemui Suara Pemred di Bekangdam XII/Tanjungpura, Jum’at (22/1) sore.  

Uang itu dikumpulkan dari setiap eks Gafatar yang tinggal dan menggarap tanah itu, sehingga bisa mengerjakan 43 hektar lahan. “Dulunya lahan itu terbakar habis, mas. Kami olah hingga bisa bagus dan subur seperti sekarang,” ujarnya. 

 “Uangnya dari mana?” tanya Suara Pemred. “Kan kami sebelum ke sini, jual aset tanah dan rumah di Jawa,” kata Suharto.  

Sulaiman Karim (52), warga Pontianak mengatakan, ada faktor lain menyebabkan kebencian masyarakat terhadap Gafatar. Di antaranya, mereka selalu mendapat fasilitas pemerintah dalam kegiatan pertanian, sehingga menimbulkan kecemburuan sosial bagi warga lokal.  

Sulaiman menyatakan, Gafatar sempat dua kali bekerjasama dengan Kodam XII/Tanjungpura dalam membuka lahan pertanian, dalam rangka mendukung Program Ketahanan dan Kemandirian Pangan Nasional.  

Sulaiman menuturkan, kerjasama Gafatar dengan Kodam XII/Tanjungpura, menimbulkan banyak interpretasi.   “Tapi perlu saya tegaskan, boleh jadi Kodam XII/Tanjungpura bersedia kerjasama dengan Gafatar di dalam membuka lahan pertanian, untuk melakukan pemantauan di lingkungan internal, di tengah sangat lemahnya ketentuan perundang-undangan yang mengatur tindak terorisme di Indonesia,” ujar Sulaiman.  

Agus, eks Gafatar asal Cirebon, ketika ditemui pada evakuasi di Bandara Supadio, Sabtu (23/1) subuh menjelaskan, ia datang ke Desa Sungai Bakau, Mempawah bersama sepuluh orang.  

Ketika di wilayah itu, dia menggarap lahan dengan beli kepada warga sebanyak tiga hektar. Tanah itu tak diolah warga untuk pertanian. Dia bersama kelompoknya bekerja keras mengolah itu. “Tanah itu tinggal nanam bibit saja. Tapi sekarang ditinggal begitu saja karena kami diusir. Itu yang buat kami sedih,” ujarnya.  

“Tapi Kang Agus tak ada model petani?” tanya Suara Pemred. “Iya, saya memang bukan petani sebelumnya,” jawabnya.  

Agus sebelumnya adalah sales obat-obatan untuk pertanian di Cirebon. Saat bertani di Mempawah, permukaan telapak tangannya pada ‘kapalan’ dan tebal.   Dalam penelusuran dan mengecek tas-tas yang tertinggal ketika proses evakuasi di Bandara Supadio, Suara Pemred melihat masih banyak boarding pass menempel di tas-tas milik eks Gafatar.

Dalam boarding pass itu, misalnya tertulis tanggal 5 September 2015, menggunakan pesawat Lion Air. Ada juga 14 September 2015, menggunakan pesawat Sri Wijaya Air. Biasanya kedatangan secara rombongan.
 

Pemulangan
Hingga Minggu (24/1), pemerintah provinsi Kalbar telah memulangkan para eks anggota Gafatar melalui udara dan laut. Gafatar dipulangkan ke daerah asal lewat jalur laut dan udara sejak Jumat (22/1).

Pemulangan setelah pemukiman Gafatar di Mempawah dibakar massa, Selasa (19/1).   “Pemulangan anggota Gafatar merupakan langkah terbaik sementara waktu, untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa,” kata Cornelis, Gubernur Kalbar, Minggu (24/1).  

Cornelis mengimbau semua pihak yang tidak paham duduk permasalahan sebenarnya, tidak mengeluarkan pernyataan yang memicu salah paham.   Cornelis mengklaim aparat keamanan dari Polri dan TNI bergerak cepat, dengan mengevakuasi anggota Gafatar dari seluruh daerah ke Pontianak.   
Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto menegaskan, polisi sudah mengantongi nama penggerak Gafatar di Kalbar. Kendati demikian, skala prioritas penanganan saat ini adalah, “Menjamin keselamatan Gafatar selama dalam proses evakuasi hingga pemulangan ke daerah asal.”((ben/del/umr/aju/hd/lis)