Komunitas Dayak se Kalimantan Tolak Gafatar, Presiden MADN Terbang ke Banjarmasin

Regional

Editor sutan Dibaca : 2488

Komunitas Dayak se Kalimantan Tolak Gafatar, Presiden MADN Terbang ke Banjarmasin
Sejumlah warga eks Gafatar berada di geladak KRI Teluk Banten-516 saat akan dipulangkan ke daerah asal melalui Pelabuhan Dwikora, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (25/1). Sebanyak 715 warga eks Gafatar dibawa menuju Jakarta dengan menggunakan KRI Teluk
BENGKAYANG, SP-Komunitas masyarakat Dayak se Kalimantan menggelar pertemuan di Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, menolak Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) kembali dalam bentuk program transmigrasi.  
Hal itu dikemukakan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Barat, Jakobus Kumis melalui jaringan telepon selular dari Banjarmasin, Jumat (29/1/2016) kemarin.  

Menurut Jakobus, Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, dalam kapasitasnya sebagai Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) se Kalimantan, terbang ke Banjarmasin, Sabtu (30/1/2016).   “Pertemuan di Banjarmasin, Sabtu, 30 Januari 2016, dalam rangka menyamakan persepsi masyarakat Dayak dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Kalimantan Selatan, dalam rangka menolak wilayah Kalimantan dijadikan lokasi transmigrasi Gafatar,” tegas Jakobus.  

Jakobus mengatakan, wawacana Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa dan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar, untuk mengembalikan anggota Gafatar ke Kalimantan dalam bentuk transmigrasi, telah melukai perasaan dan harga diri masyarakat di Kalimantan. 

 Dikatakan Jakobus, usai menyamakan persepsi di kalangan masyarakat Dayak, selanjutnya segera menggalang dukungan dari komunitas masyarakat Banjar, Melayu, Bugis dan Cina se Kalimantan.   Diungkapkan Jakobus, keputusan warga Gafatar ditransmigrasikan sangat terburu-buru dan melukai perasaan masyarakat asli di Kalimantan yang tiba-tiba terusik oleh sebuah organisasi massa yang ditolak pendaftarannya oleh Kementerian Dalam Negeri tahun 2012.  

Dijelaskan Jakobus, sikap tertutup, tidak mau bergaul dengan warga lokal, punya ideologi sendiri, anti Pancasila, punya lagu kebangsaan sendiri, anak-anak didoktrin untuk menganut budaya kekerasan, telah membuat Gafatar ditolak keras di Kalimantan. 

 “Bupati Kubu Raya di Kalimantan Barat, Rusman Ali, pernah berkali-kali bertanya kepada anak-anak pengungsi Gafatar sebelum dipulangkan ke Pulau Jawa. Jawaban anak-anak Gafatar, sangat mengagetkan, karena mereka bercita-cita jadi teroris. Ini bahaya. Anak-anak yang tidak berdosa sudah dirusak pikirannya,” kata Jakobus. (aju)