Langganan SP 2

Fahmi, Adik Kandung Sekda Kalbar M. Zeet Menjabat sebagai Menkopolkam Gafatar

Regional

Editor sutan Dibaca : 3089

Fahmi, Adik Kandung Sekda Kalbar  M. Zeet Menjabat sebagai Menkopolkam Gafatar
RAKOR- Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti (kiri) bersama Wakapolri Komjen Pol Budi Gunawan (tengah) dan Kabareskrim Komjen Pol Anang Iskandar (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (25/1). Rapat tersebut
PONTIANAK, SP- Kepala  Bidang Hubungan Masyarakat Polisi Daerah Kalimantan Barat, Ajun Komisaris Besar Polisi Arianto, Minggu (31/1), menegaskan, belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka.  

Arianto menanggapi pembakaran barak Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Desa Moton Panjang, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Selasa, 19 Januari 2016.  

Pembakaran, membuat aparat bergerak cepat. Sebanyak 4.776 warga Gafatar pada 10 kabupaten kota di Kalimantan Barat, diungsikan untuk dipulangkan ke daerah asal, agar terhindar dari korban jiwa. 

Perintah Kapolda Kalbar Brigjen (Pol) Arief Sulisyanto, menurut Arianto, terus bersinergi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan pemerintahan otonom atas aset berupa tanah dan bangunan yang ditinggalkan anggota Gafatar usai dipulangkan ke daerah asal.  

Kiprah Fahmi, adik kandung Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, M Zeet Hamdy Assovie, di dalam Gafatar sudah diketahui sebagian besar warga di Kabupaten Mempawah dan Pontianak.  

Tapi Fahmi menghilang. Kediaman Fahmi di Gang Jeruk, Jalan KH. Wasyim, Pontianak, sudah kosong melompong setelah kasus Gafatar mencuat ke permukaan.  

“Kalau sampai Fahmi muncul, pasti kami tangkap, untuk diserahkan kepada aparat penegak hukum. Sejak dulu, keluarga Fahmi sangat tertutup. Keluarga Fahmi tidak pernah melayat kalau ada warga sekitar tertimpa musibah meninggal dunia,” ujar warga Gang Jeruk yang tidak bersedia disebutkan namanya.  

Pengamat hukum dan kebijakan publik Universitas Panca Bhakti, Herman Hofi Munawar, mengaku, pernah menjadi teman baik Fahmi. Fahmi dikenal sebagai orang terpelajar dan memiliki istri berkebangsaan Austria, tapi sekarang menghilang bak ditelan bumi.  

Sulaiman Sudin (52), warga Mempawah, mengatakan, dalam penggerebekan pemukiman Gafatar di Moton Panjang, Mempawah Timur, Selasa (19/1), ditemukan dokumen berisi struktur DPD Gafatar di Provinsi Kalimantan Barat.   Gubernur DPD Gafatar Provinsi Kalimantan Barat dijabat Supardan, warga Provinsi Jawa Timur. Kepala Divisi Logistik dan Akomodasi, Ahmad Hadi Subroto.  

Kiriman uang dari Jawa Timur untuk kebutuhan anggota di Kalimantan Barat, selalu lewat rekening Ahmad Hadi Subroto yang memiliki latarbelakang pendidikan sarjana perminyakan.  

Dalam video rekaman yang disita, mengungkapkan deklarasi DPD Gafatar Provinsi Jawa Timur, 15 November 2015. Di dalamnya disebutkan, apabila sudah kuat, Gafatar pasti membentuk negara sendiri. 

 Diungkapkan,  tahapan Gafatar membentuk negara baru, yaitu sirron atau sembunyi-sembunyi, jahron atau terang-terangan, perang dan futuh atau kemenangan. Futuh sebagai langkah akhir membentuk negara baru. 

“Selaku Koordinator DPD Gafatar Provinsi Kalimantan Barat, Fahmi, memiliki peran sangat strategis, yakni sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam),” kata Sulaiman.  

Menurut Sulaiman, kepiawaian Fahmi menghasut masyarakat untuk bergabung dengan Gafatar, membuatnya sangat disegani di lingkungan internal. Apalagi Fahmi memiliki kemampuan berkomunikasi aktif dalam beberapa bahasa asing. 

 Fahmi dikenal hafal teks Alqur’an dan Injil. Ketika diundang diskusi di Polda Kalbar, sejumlah perwira menengah hanya bisa termengong-mengong mendengar agitasi Fahmi. 

Dalam diskusi di Polda Kalbar, menurut sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya, Fahmi tetap mengklaim sama sekali tidak bersalah dan mengancam melakukan perlawanan, apabila ditangkap aparat keamanan.  

Menurut Sulaiman, ultimatum warga kepada polisi untuk menangkap Fahmi paling lambat, Sabtu, 30 Januari 2016, memang sudah berakhir. Karena belum ditangkap, maka warga akan melakukan cara sendiri untuk menciduk Fahmi.  

Sementara itu, Presiden Gafafar, lanjut Sulaiman, masih dipegang Achmad Musadeq yang sekarang menetap di Bogor. Istri Musadeq pernah menjadi guru di kawasan Jeruju, Pontianak Barat. Salah satu anak Musadeq, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura tahun 1989.  

“Musadeq sempat pulang hari ke Pontianak, untuk sedianya menghadiri deklarasi DPD Gafatar Provinsi Kalimantan Barat. Musadeq langsung kembali ke Jakarta, hanya beberapa saat usai mendarat di Bandara Supadio, setelah tahu barak Gafatar di Moton Panjang, Mempawah Timur, dibakar massa, Selasa, 19 Januari 2016,” ungkap Sulaiman. 

Agus Hendra (46), warga Mempawah, mengatakan, warga dan pemerintah sama sekali tidak kecolongan atas kedatangan Gafafar di Kabupaten Mempawah.   Eksodus Gafatar besar-besaran sejak Agustus 2015, dan mereka mengklaim korban lumpur PT Lapindo dari Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Kalimantan.  

Warga diperdaya, setelah 85 Kepala Keluarga (KK) Gafatar, sama sekali tidak pernah merasa keberatan mengontrak rumah warga di Mempawah dan sekitarnya di atas Rp11 juta per unit per tahun.  

Tapi kecurigaan warga mulai muncul, setelah pemukiman Gafatar di Desa Entibar, Kecamatan Mempawah Timur, tidak bisa didatangi warga lokal. Bahkan salah satu anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), ditolak saat ingin berteduh di barak Gafatar saat hujan turun lebat.  

Sepanjang hari anggota Gafatar menggarap lahan pertanian. Malam harinya ada aktifitas mencurigakan. Usai salat magrib, semua anggota komunitas Gafatar bernyanyi ria, tapi tiba-tiba terdengar suara tangisan sejadi-jadinya.   Setelah menangis massal, suasana menjadi hening.

Lalu ada suara riuh orang berdebat. Tepat pukul 23.00 WIB, anggota Gafatar, baik di rumah kontrakan di Mempawah maupun di Desa Entibar, Moton Panjang, beristirahat dan tidur. 

Menurut Agus, Minggu, 10 Januari 2016, warga dan perangkat desa melapor polisi dan Bupati Mempawah,  Ria Norsan. Laporan setelah terbukti, Ricca Tri Handayani, dokter asal Lampung dinyatakan hilang di Yogyakarta, 30 Desember 2015, terlebih dahulu menginap di pemukiman Gafatar di Mempawah, 7 – 8 Januari 2016.   Ricca Tri Handayani akhirnya ditangkap di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Minggu, 10 Januari 2016.  

Atas laporan warga, menurut Agus, Bupati Mempawah, Ria Norsan, menggelar pertemuan tertutup di Kantor Bupati Mempawah, Senin, 18 Januari 2016 malam.   Dalam pertemuan, 11 perwakilan Gafatar, termasuk Gubernur Supardan, Andre dan Chandra, naik pitam, dengan menegaskan, tetap bertahan di pemukiman hingga titik darah penghabisan.  

Sikap keras kepala Supardan, Gubernur DPD Gafatar Provinsi Kalimantan Barat, Andre dan Chandra, berujung kepada pembakaran mobil avansa milik pentolan Gafatar, Senin malam (18/1) di halaman Kantor Bupati Mempawah.  

“Suasana semakin tidak terkendali, sehingga pentolan Gafatar menjamin akan keluar dari barak di Moton Panjang paling lambat, Selasa, 19 Januari 2016 pukul 13.00 WIB. Karena anggota Gafatar mengingkari perjanjian, akhirnya barak Gafatar dibakar sejak pukul 14.00 WIB. TNI dan Polri bergerak dengan dengan melakukan evakuasi paksa, sehingga sekarang dipulangkan ke daerah asal,” kata Agus.  

Soenarno, pensiunan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, mengaku, ada doktrin ajaran dilakukan Gafatar yang terbukti anti Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.   Ada teman Soenarno berencana masuk Gafatar. Mereka diindoktrinasi terlebih dahulu dengan paham-paham radikal. Doktrin terakhir, dengan meminum air putih berkali-kali yang sudah disiapkan.  

“Apabila meminum air yang sudah disiapkan lebih dari tiga kali, maka seseorang otomatis dicuci otaknya, sehingga bisa melakukan apa saja sesuai perintah. Ini sangat bahaya. Teman saya tidak jadi masuk Gafatar, karena menolak minum air putih yang disiapkan,” kata Soenarno.  

Menurut Soenarno seluruh orangtua di Provinsi Jawa Tengah, telah membentuk forum komunikasi orangtua korban Gafatar. Forum untuk berbagai pengalaman, agar warga lain tidak lagi menjadi korban.  

Tentang perilaku M Zeet Hamdy Assovie, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat yang masuk di dalam lingkaran Gafatar, Soenarno, mengatakan, “Biarkan masyarakat yang menilai.”  

Agus Hendra mendesak Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, segera mengevaluasi kedudukan M Zeet Hamdy Assovie sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, karena memberikan contoh yang sangat tidak baik bagi masyarakat.  

“Kedudukan M Zeet sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Nahdatul Ulama Provinsi Kalimantan Barat, dalam kaitan kedekatan dengan Gafatar, perlu pula dipertanyakan kembali. Karena ajaran Gafatar mengandung unsur penistaan agama,” kata Agus Hendra. (ben/del/hd/lis/aju)