Revi, Warga Sekadau, Kalbar Penderita Infeksi Paru dan Asma Akut Butuh Bantuan

Regional

Editor sutan Dibaca : 1282

Revi, Warga  Sekadau, Kalbar Penderita Infeksi Paru dan Asma Akut Butuh Bantuan
BUTUH BANTUAN – Tubuh Revi kian ringkih pasca menderita sakit ganas yang diderita sejak berumur dua tahun. Nominal pengobatan Revi, cukup besar. Keluarga berharap ada dermawan yang dapat mengulurkan tangannya. (FOTO SUARA PEMRED/ akhmal setiadi musran)
Sejak berusia 2 tahun, Revi menderita penyakit infeksi paru-paru dan asma akut. Enam kali bolak balik masuk rumah sakit, namun 'ramuan' dokter belum mampu memulihkan kondisinya. Bocah enam tahun itu, kini semakin ringkih.

Revi mungkin tidak seperti anak lain. Bocah malang kelahiran 2009 itu hidupnya akrab dengan paramedis. Berkali-kali ia harus menjalani pengobatan, tapi tak penyakitnya tak kunjung terobati.

Sederet rumah sakit daerah, pernah menangani Revi. Seperti tiga kali masuk RSUD Sintang, dua kali RSUD Sekadau dan satu kali di RSUD Sanggau.
Di dadanya terdeteksi ada bulatan kecil. “Bulatan putih di paru-paru itu antara dua, kanker kah atau plek. Jadi rencana akan dibawa ke Jakarta,” ujar paman Revi, Kamarudin.

Ayah Revi, kata Kamarudin, hanya seorang karyawan swasta. Hal itu semakin memberatkan beban untuk membiayai pengobatan anaknya ini.  Sedangkan, sang ibu hanya seorang ibu rumah tangga dan menghabiskan waktu untuk merawat sang anak dan adik Revi yang masih berusia 1 tahun. 

Selain itu, kata dia, Revi selalu gagal saat proses penyembuhan dari penyakitnya. Hal ini, saat menjalani pengobatan TB, sebelum enam bulan masa penyembuhan dia kambuh lagi.

Bahkan, saat di rawat di Sanggau, Revi pernah masuk ICU. Namun, setelah tiga hari dirawat di ICU, pihak keluarga meminta tidak lagi dirawat di ICU karena minimnya biaya. Saat ini, Revi masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Soedarso Pontianak.

Rencananya, Revi akan dirujuk ke RSCM Jakarta. Namun, waktu rujukan masih belum diketahui oleh pihak keluarga, lantaran dokter yang merawat Revi masih berusaha untuk menanganinya. 

Ayah bocah itu, Khori  melalui telepon seluler mengatakan selalu berupaya sekuat tenaga agar anaknya dapat sembuh. Meski biaya ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), kata dia, namun biaya untuk membeli obat dan lainnya terbilang cukup berat.  

Pasalnya, Revi tidak lagi mengkonsumsi obat generik. Khori harus menebus obat di luar rumah sakit serta melakukan pengecekan juga di luar rumah sakit.

Bahkan, biaya untuk sekali menebus obat saja, dia harus merogoh kocek dalam-dalam. Obat yang dia tebus, mencapai Rp 500 hingga Rp 800 ribu. Selain itu, belum lagi untuk biaya pengecekan yang dilakukan di luar rumah sakit.

“Kemungkinan Revi TB resisten. Kebal dengan obat, dari kecil dia memang sering batuk-batuk. Tapi kami belum tahu mengapa, entah sayanya yang salah karena tidak menjaga anak dengan baik,” ucap Ayah Revi sendu, di ujung telepon.

Awalnya, tidak ada yang berbeda dari Revi. Khori mengingat betul ketika menggendong Revi. “Masa kecilnya ceria, ya lompat-lompat seperti anak seusianya waktu itu. Entah bagaimana, dia jadi sering batuk-batuk hingga akhirnya sakit seperti saat ini,” kenangnya.

 Perihal rujukan Revi ke Rumah Sakit di Jakarta, Khori belum mengetahuinya pasti. Hal itu, kata dia, karena dokter yang menangani anaknya itu sekarang masih ingin merawatnya. “Dokternya bilang masih berusaha. Kami hanya ikut saja, kalau memang harus dirujuk ke Jakarta, ya mau tidak mau kami akan bawa,” katanya.

 Proses mengobatan Revi, kata Khori masih panjang. Dia hanya berharap anaknya bisa sembuh total dan bisa beraktivitas seperti kembali. Khori bahkan tidak bekerja sejak sebulan terakhir untuk menemani sang istri menjaga sang anak.

 “Untuk apa bekerja saat anak masih sakit. Toh saya bekerja untuk anak dan istri, tetapi anak masih dalam kondisi sakit jadi kepikiran. Lebih baik fokus menjaga dan menemani proses pengobatannya,” ujarnya.

Ayah dua ini, tidak memiliki permintaan yang muluk-muluk. Ingin melihat sang anak sembuh dan tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan. Sebab, dari dulu, Revi terus dicekoki obat. Kesedihannya kian bertambah, ketika Revi terus menyebut ingin punya kursi roda.

Revi mendambakan bisa keluar rumah untuk bergabung dengan teman sebayanya. Namun Khori belum bisa memenuhi keinginan anak sulungnya itu. “Dia pengen lihat-lihat apa yang ada di luar pakai kursi roda. Berjalan seperti yang lainnya, tetapi saat ini kami belum mampu untuk membelikannya,” timpalnya.

Selama pengobatan, tak jarang dia harus meminjam uang. Apapun ditempuh agar sang anak sembuh dari penyakit yang menggerogoti saat ini. Meski tak ingin berpangku tangan kepada bantuan orang lain.

Khori tak menampik jika pengobatan sang anak memerlukan biaya yang tidak sedikit. “Jika anak kami sembuh, kehidupan kami akan dimulai dari minus. Bukan nol lagi,” pungkasnya. Bagi yang ingin mengulurkan bantuannya, dapat menghubungi ke nomor ini 082353289818.  
(akhmal setiadi musran/and)