Hakim PN Ketapang Memvonis 6 Bulan Penjara kepada Terdakwa Kasus Penganiaya Wartawan

Regional

Editor sutan Dibaca : 1207

Hakim PN Ketapang Memvonis 6 Bulan Penjara kepada Terdakwa Kasus Penganiaya Wartawan
Suasana sidan vonis terhadap Mauludin (49) dan Denof (52), dua terdakwa penganiaya wartawan Tribun Pontianak di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Ketapang, Selasa (16/2) sore. (SUARA PEMRED/ KRISTIAWAN BALASA)
Mauludin (49) dan Denof (52), dua terdakwa penganiaya wartawan Tribun Pontianak pada Jumat, 23 Oktober 2015 lalu, akhirnya divonis enam bulan penjara.
Putusan tersebut dijatuhkan majelis hakim dalam sidang putusan yang digelar di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Ketapang, Selasa (16/2) sore.


 “Kedua terdakwa masing-masing mendapat hukuman pidana selama enam bulan,” ujar Eri Sutanto, Humas PN Ketapang, usai sidang.

 Hukuman tersebut akan dikurangi masa penahanan terdakwa sejak ditangkap. Keduanya terbukti bersalah telah melakukan tindak penganiayaan. Hasil putusan itu sudah sesuai dengan dakwaan alternatif pada kedua terdakwa oleh jaksa penuntut umum (JPU).

Dalam putusan itu pula, sudah termasuk pertimbangan hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa. Yang memberatkan, kedua terdakwa terbukti melakukan penganiayaan dan bertindak main hakim sendiri terhadap korban.

Sementara sikap sopan selama persidangan, dan pengakuan melakukan penganiayaan, serta penyesalan terdakwa jadi hal yang meringankan. “Amar putusan menyatakan terdakwa satu, Mauludin dan terdakwa dua Denof, sudah memenuhi syarat sah dan terbukti bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan. Para terdakwa akan tetap berada dalam tahanan dan dikenakan biaya perkara sebesar Rp 2 ribu pada masing-masing orang,” paparnya.

Kedua terdakwa juga berjanji tak akan mengulangi perbuatannya, dan sudah meminta maaf kepada korban. Ditambah keduanya belum pernah terlibat kasus hukum sebelumnya, menjadikan pertimbangan peringanan hukuman.

Sebelumnya, pada sidang pembacaan tuntutan, JPU Kejaksaan Negeri Ketapang menuntut para terdakwa selama delapan bulan. Dengan dua dakwaan alternatif. Pertama para terdakwa melanggar Pasal 170 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Kedua Pasal 351 ayat  KUHP junto Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. Junto Pasal 55 tersebut karena bersama-sama atau dua orang melakukan penganiayaan.
Junaidi, salah seorang kuasa hukum terdakwa mengatakan, pihaknya menerima putusan tersebut.

Kedua terdakwa sudah mengaku bersalah dan menyesali apa yang diperbuat. Juga sudah berjanji tak akan mengulanginya lagi. Sebagai kuasa hukum, dirinya pun mengaku sudah menasehati keduanya. “Mereka menyesali perbuatannya, juga memikirkan keluarga. Keduanya tidak akan dendam dan mengulangi apa yang diperbuat. Vonis itu kami terima karena memang bersalah,” ujarnya saat berbincang dengan wartawan seusai sidang.

Junaidi pun mengungkapkan dirinya hanya menjalankan tugas. Siapa yang bersalah akan tetap salah. Ia bersyukur kliennya sadar dan berjanji tak akan mengulangi perbuatan. Sementara itu, Subandi, wartawan Tribun Pontianak yang menjadi korban, juga menerima putusan tersebut.

 Ia bahkan mengatakan sudah memaafkan kedua tersangka sejak jauh hari. Namun, proses hukum harus tetap berjalan sesuai undang-undang yang berlaku. Ia pun percaya putusan tersebut sudah yang terbaik dan berharap kejadian serupa tak lagi terulang.

Seperti diketahui, kasus ini bermula saat kedua terdakwa melakukan pemukulan terhadap Subandi, wartawan Tribun Pontianak, di ke warung kopi Winda atau Sekretariat Perindo Ketapang, pada Jumat (23/10/2015) lalu.

Mauludin bersama rekannya saat itu mendatangi Subandi ketika sedang mengetik hasil liputan. Mereka memprotes pemberitaan terkait proyek sumur pantek Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Ketapang di Desa Sungai Bakau Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS). Terdakwa sempat menampar dan memukul wajah Subandi. Tak terima dengan hal itu, korban melapor ke Polres Ketapang. (kristiawan balasa/ind)