IDI Kalbar: Schizophrenia Bisa Terdeteksi Apabila Diperiksa di Rumah Sakit Jiwa

Regional

Editor sutan Dibaca : 1024

IDI Kalbar: Schizophrenia Bisa Terdeteksi Apabila Diperiksa di Rumah Sakit Jiwa
Rumah dinas Pelaku
 
PONTIANAK, SP- Penderita penyakit schizophrenia secara medis tidak bisa disembuhkan. Hanya bisa dikendalikan tingkat emosionalnya dengan mengkonsumsi obat seumur hidup.   “Kalau lupa minum obat pasti kambuh lagi. Karena itulah schizophrenia sering digambarkan sebagai penyakit gila,” kata Nursyam Ibrahim, Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Kalimantan Barat, Jumat (26/2).  

Kondisi ini, menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku.   Menurut  Nursyam, kalau memang Brigadir Petrus Bakus ada indikasi menderita penyakit schizophrenia, sehingga membunuh kedua anaknya, mesti dilihat dulu latar belakang perekrutannya.  

Kalau sistem perekrutan tidak dilengkapi fasilitas yang ada di rumah sakit jiwa, schizophrenia tidak akan pernah bisa terdeteksi, kendati pun dilakukan tes psikologi dan kesehatan lainnya.   “Schizophrenia pada seseorang hanya bisa terdeteksi apabila diperiksa di rumah sakit jiwa, karena peralatannya lengkap. Kalau hanya di rumah sakit umum, termasuk di rumah sakit polisi, schizophrenia yang diidap seseorang tidak akan bisa terdeteksi,” ungkap Nursyam.

Gejala kasat mata penderita schizophrenia sulit dalam berinteraksi secara sosial dan beraktivitas sehari-hari. Beberapa tipe dari schizophrenia: Perilaku sosial yang tertutup dan perubahan pola tidur menjadi gejala-gejala awal schizophrenia.

Karena penyakit ini biasanya mulai berkembang pada usia remaja, gejala-gejala tersebut hanya dianggap sebagai perubahan tingkah laku remaja.   “Para ahli belum menemukan penyebab schizophrenia. Diduga faktor lingkungan serta genetika berperan dalam pembentukan kondisi ini,” Nursyam.  

Usia rentan schizophrenia berkisar antara 15 hingga 35 tahun. Schizophrenia sebaiknya didiagnosis sedini mungkin. Makin cepat masalah kesehatan jiwa ini ditangani, peluang sembuhnya makin besar, dan penderitanya bisa kembali hidup secara normal.  

Biasanya schizophrenia ditangani dengan obat-obatan antipsikotik dan terapi sebagai bentuk pengobatan psikologis. 

“Selain itu, penanganan schizophrenia juga harus ditunjang dengan dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekat si penderita,” ungkap Nursyam.  

Praktisi hukum di Pontianak, Tamsil Sjoekoer mempertanyakan sistem rekrutmen anggota polisi, sehingga seorang pengidap schizophrenia seperti Petrus Bakus bisa diterima menjadi anggota.

Padahal, semua tahu seleksi menjadi anggota polisi sangat ketat dan peminatnya banyak.   “Kalau memang pertimbangannya fasilitas belum memadai, sehingga belum bisa mendeteksi kualitas standar kejiwaan seseorang, mesti bekerja sama dengan rumah sakit jiwa,” kata Tamsil.  

Tamsil mengingatkan polisi untuk lebih ketat lagi melakukan seleksi penerimaan anggota baru, dengan bekerja dengan rumah sakit jiwa. Agar, seorang pelamar pengidap schizophrenia bisa terdeteksi. (aju/lis)