Pegawai Kontrak RSUD Sekadau Ngamuk Tolak Dimutasi

Regional

Editor sutan Dibaca : 1374

Pegawai Kontrak RSUD Sekadau Ngamuk Tolak Dimutasi
LOGO KEMENKES
SEKADAU, SP – Seorang pegawai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sekadau, SY mengamuk di tengah keramaian aktivitas rumah sakit. Dia naik pitam, pasca menerima surat mutasi posisinya yang dikeluarkan oleh Kepala TU RSUD berinisial SK, Jumat (26/2).

Secarik surat itu, membuat SY berang. Dia yang tak terima keputusan itu, kontan menghampiri SK di ruangannya. Emosinya kian tak terbendung. Kepalan tangannya, hampir mendarat di wajah SK. “Saudara SY ini tidak terima dengan adanya keputusan kepala TU untuk memindahkannya ke bagian Sampah RSUD. Sebelumnya SY di bagian Satpam, lalu pindah ke supir ambulans,” ujar Kepala Seksi Pelayanan RSUD, Aloysius Ashari yang membenarkan kejadian itu.

Dia menjelaskan, keributan berawal sekitar pukul pukul 11.00 WIB. Kondisi rumah sakit, dalam keadaan ramai. Banyak keluarga pasien tengah membesuk. Selain itu, banyak pula warga yang sedang mengurus administrasi. Ketegangan tersebut, membuat mobilisasi pelayanan rumah sakit terhambat.

Kedua petugas ini nyaris  baku hantam. Namun beruntung bisa dilerai oleh petugas lainnya.
“Tapi SY belum sempat menghantam SK karena salah seorang petugas loket pendaftaran RS bernama Olek langsung menghantam SY karena telah membuat keributan. Pada akhirnya pukulan Olek mengenai pelipis SY hingga SY harus dibawa ke ruang ICU,” jelasnya.

Keributan yang membuat heboh ini pun, mau tak mau harus diselesaikan di kantor polisi. Direktur Utama RSUD, Henry Alpius menyampaikan telah membuat laporan kepolisian dan ikut memberikan keterangan. Berdasarkan laporan itu, aparat kemudian tiba di lokasi untuk menggiring kedua petugas yang saling bertikai tersebut. Mereka dibawa ke Mapolres Sekadau, untuk pemeriksaan lebih mendalam.

Sementara itu, usut punya usut, beredar kabar, jika keributan itu bukan murni perselisihan yang dipicu oleh mutasi saja. Melainkan runut dari cek cok pilkada. “Informasi bahwa SY dan SK lain dukungan saat pilkada kemarin itu juga memang benar, karena SY ini terang-terangan mendukung dan menjadi tim sukses salah satu paslon, padahal ia harus netral selaku petugas rumah sakit,” jelas Aloysius.

Dia menerangkan, SY merupakan pegawai kontrak yang cukup lama bekerja di RS. SY harus mengikuti aturan dalam kontrak kerja, terkait mutasi yang dilakukan setahun sekali. “Dalam kejadian ini memang sangat disayangkan. Tetapi dari pihak RS, kita punya langkah yakni salah satu pasal dari perjanjian kerja mengatakan jika pegawai kontrak RS, jika melakukan kesalahan yang fatal tentu konsekuensinya akan diberhentikan secara sepihak. Termasuklah SY bisa saja diberhentikan,” tegasnya. 

Pilih Berdamai
Pertikaian SY dan SK, tak sampai ke meja hijau hakim. Keduanya memilih penyelesaian secara kekeluargaan, yang difasilitasi pihak kepolisian. Kepala Satuan Reserse Kriminal, Polres Sekadau, AKP K Poerba membenarkan perdamaian keduanya.

Menurutnya, kedua belah pihak sudah berkomitmen tidak memperpanjang persoalan ini.  “Sudah Damai,” ujarnya singkat melalui SMS.
Dia menjelaskan, Jumat (26/2) petang, sekitar tiga jam pasca keributan itu, keluarga kedua belah pihak mendatangi polres untuk memastikan keadaan keduanya sekaligus bermediasi.

Mediasi itu menghasilkan perjanjian damai. Sementara terhadap status kontrak SY pasca keributan tersebut, belum ada informasi perkembangannya lebih jauh. Pihak RSUD masih mendalami kejadian keributan yang sempat membuat heboh warga di rumah sakit plat merah tersebut.  (akh/and)