Warga Kabupaten Sambas, Kalbar Nikmati Listrik Malaysia

Regional

Editor sutan Dibaca : 1512

Warga Kabupaten Sambas, Kalbar Nikmati Listrik Malaysia
ALIRAN LISTRIK (bumn.go.id)
Warga Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, saat ini mulai menikmati aliran listrik dari Malaysia, sehingga pelanggan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang ada di kabupaten tersebut tidak lagi mengalami pemadaman bergilir seperti sebelumnya.

"Sejak mesin listrik dari Malaysia dioperasikan pada 20 Februari 2016, pemadaman listrik yang biasanya terjadi di Kabupaten Sambas sudah tidak pernah lagi," kata Koordinator Gardu Induk (GI) Kabupaten Sambas, Endang Suparman, belum lama ini.

Di samping itu lanjutnya, dengan berdirinya GI di Sambas, setidaknya dapat memberikan dampak positif untuk kebutuhan penyuplaian tenaga listrik ke masyarakat Sambas.

Menurutnya, setelah berdirinya GI di Sambas, sampai saat ini masyarakat setempat terpenuhi semua kebutuhannya dan normal. "Mudah-mudahan, ke depannya untuk wilayah Sambas dan sekitarnya, tidak ada gangguan dan selalu normal," ujarnya.

Dia menjelaskan, yang masuk ke beban trafo Sambas, khusus pagi sampai sore diperkirakan sebesar 15 megawatt (MW). Sedangkan beban puncak terjadi dari pukul 16.00 sampai 20.00 WIB, diperkirakan sebesar 19 MW.

Terkait dengan itu, pihaknya harus melakukan suplai listrik melalui "feeder" (penyulang) dan PLTD Sambas. "Yang jelas 'feeder' maupun PLTD Sambas harus selalu standby," katanya.


Bidang Hukum dan Komunikasi PLN Wilayah Kalbar, Hendra mengatakan, pembelian energi listrik dari Malaysia dilakukan melalui kontrak lima tahun ke depan sebesar 50 MW dengan batas ring 5 MW, sehingga menjadi 55 MW.

Menurutnya, pembelian energi listrik dari Malaysia ini tentu berdampak positif bagi pasokan energi listrik untuk sistem Khatulistiwa, yaitu untuk Kota Pontianak, Kota Singkawang, Sambas hingga ke Bengkayang.

"Ke depan, akan direncanakan untuk pembangunan transisi sehingga bisa terinterkoneksi tidak hanya di sistem Khatulistiwa saja, mungkin bisa terinterkoneksi sampai ke Kabupaten Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu," jelasnya.

Kerjasama impor listrik dari Malaysia ini diwujudkan dengan tersambungnya interkoneksi Jaringan Listrik Kalimantan Barat-Serawak mulai Rabu (20/1), melalui Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) 275 kilo Volt (kV) sirkit 1 antara Gardu Induk tegangan Extra Tinggi (GITET) Bengkayang dan GITET Mambong (SESCO Malaysia), setelah melalui beberapa rangkaian pengujian. 

Interkoneksi ini merujuk kepada Perjanjian di dalam Power Exchange Agreement (PEA) di mana PLN Indonesia dan Sesco Malaysia sepakat untuk melakukan Jual Beli (Export-Import) tenaga listrik selama 25 tahun.

Untuk lima tahun pertama, Indonesia akan membeli listrik dari Malaysia sebesar 50 MW saat Lewat Waktu Beban Puncak (LWBP) dan 230 MW saat Waktu Beban Puncak (WBP).

 Impor Listrik dari Malaysia ini merupakan bagian usaha PLN Kalbar dalam rangka mengatasi pemadaman yang sudah lama terjadi di Wilayah Kalbar khususnya di Sistem Khatulistiwa dalam dua tahun terakhir.

Selain itu PLN Kalbar juga tengah menunggu masuknya PLTU Kalbar 1 (2x50MW), PLTU Kalbar 2 (2x27,5MW) dan PLTU Kalbar 3 (2x55MW) yang sementara ini dalam proses pembangunan.

Diharapkan jika semua PLTU dengan kapasitas 265 MW telah beroperasi , maka tidak menutup kemungkinan Kalbar bisa mengekspor listrik juga ke Serawak Malaysia melalui jaringan SUTET yang sama. Import Listrik ini akan memperbaiki Fuel Mix PLN Wilayah Kalbar dengan potensi penghematan 3,5 milliar per hari.

Serta akan memperbaiki BPP (Biaya Pokok Produksi) dari sebelumnya 2700 rp/kWh menjadi 1700 rp/kWh. Interkoneksi Kalbar-Serawak ini adalah merupakan bagian dari ASEAN GRID pertama untuk Indonesia dan pertama untuk PLN dengan tujuan kerjasama kelistrikan di antara Negara-negara ASEAN. Interkoneksi jaringan listrik Kalbar dan Serawak masuk sebagai salah satu ruas ASEAN Power Grid.

Ini adalah proyek intergrasi system kelistrikan regional Asia Tenggara, yang artinya menyambungkan jaringan listrik Negara-negara yang bertetangga dekat. Harapannya, jaringan kelistrikan seluruh Negara ASEAN akan tersambung satu sama lain.

Integrasi sistem listrik memang menjadi salah satu target Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). ASEAN menyadari infrastruktur listrik punya peran yang sangat krusial bagi upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan kesejahteraan dengan menjamin system yang kuat dan efisien.

Awalnya upaya interkoneksi jaringan listrik sudah muncul sejak pertemuan pertama forum Head of ASEAN Power system Utilities Association (HAPUA). Nota kesepahaman ASEAN Power Grid lahir pada tahun 2007 di Singapura. (ant/knt/ind)