Desakan Kalapas Kelas II Pontianak Diganti

Regional

Editor sutan Dibaca : 1297

Desakan Kalapas Kelas II Pontianak Diganti
Hasil sidak Menkumham, Yasonna Laoly bersama aparat gabungan di Lapas Kelas II Pontianak Sabtu (5/3) malam. (ist)
PONTIANAK, SP – Lemahnya sistem pengawasan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) membuat para anggota dewan mengusulkan pergantian kepala Lapas Kelas II A, Pontianak.
Apalagi ketika ditemukan berbagai senjata tajam, sabu dan berbagai peralatan untuk memakainya.

Anggota Komisi III DPR RI, Erma Suryani Ranik menyesalkan lemahnya sistem pengawasan dilakukan (Lapas) di banyak daerah. Puncaknya, ada di Lapas Kelas II A, Pontianak di Jalan Adisucipto, Kabupaten Kubu Raya.

Di mana,  pada Sabtu (5/3) malam, Menkumham, Yasonna Laoly melakukan inspeksi mendadak (sidak). Bukannya mendapat sambutan hangat, justru sang menteri mendapat respons negatif dari para narapidana.

Para penghuni Lapas berdemonstrasi dengan cara membakar kasur di dalam jeruji, bahkan melempari Laoly dengan piring. Laoly ikut mencoba menenangkan keributan dengan berbincang bersama sejumlah napi.

Meski demikian, ketika sidak dilakukan, Laoly justru menemukan beberapa alat penghisap sabu, sabu, puluhan senjata tajam, puluhan telepon genggam, dan uang sekitar satu juta rupiah. Barang bukti ditemukan di dalam pot bunga, area dalam blok tahanan, dan di tempat-tempat tersembunyi lainnya.
Menkumham melihat langsung pencarian barang bukti yang dilakukan anggota satgas yang juga melibatkan pasukan anjing pelacak K-9 Polda Kalbar.
Di sinilah yang disesalkan oleh Erma. "Adanya dugaan pembiaran oleh oknum Lapas itu indikasinya lemah. Tapi kalau kurang petugas, iya," kata Erma saat dihubungi Suara Pemred, Senin (7/3).


Lebihnya kapasitas warga Lapas di Pontianak pernah dilihatnya sendiri. Dia mengaku pernah melakukan kunjungan kerja dan sebagian besar penghuni Lapas tersandung masalah narkoba.
Untuk menanggulangi hal itu, dia telah menerima usulan Lapas baru khusus narkoba di daerah Kabupaten Mempawah.
'Kementerian Hukum dan Ham sudah punya lahan, tetap memang diperlukan anggaran pembangunan Lapas," ucapnya.

Aktivis Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Husnan mengatakan penemuan sejumlah barang seperti senjata tajam, telepon genggam, dan narkoba di dalam Lapas menunjukkan betapa keamanan lapas di Kalbar belum begitu baik.
“Miris mendengarnya, lapas bisa ditemukan senjata tajam dan bahkan narkoba,” ujarnya.

Tidak sepatutnya Lapas sebagai satu di antara tempat dengan sistem keamanan yang baik, malah sekarang dipertanyakan keamanannya. Tentu ada yang salah. Kalau bukan mekanisme lapas, bisa jadi oknum petugasnya yang memang tidak menjalankan tugas dengan benar.

Husnan menyarankan, agar dilakukan perbaikan di internal lapas, terutama mentalitas para petugasnya. Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum, jika ada oknum petugas Lapas yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan. “Seperti napi menggunakan handphone di dalam Lapas, tentu ada oknum yang membiarkan tapi dengan syarat harus membayar,” sebutnya.

Selain itu, penindakan tegas terhadap oknum petugas Lapas harus ditegakkan. Jika memang ditemukan ada petugas yang mencari keuntungan di dalam Lapas, harus diberi sanksi berat. “Mesti diberikan sanksi tegas agar ada efek jeranya. Karena ini sudah jelas ditemukan di dalam Lapas, bisa saja Kepala Lapas (Kalapas) Kelas II A Pontianak diganti,” katanya.

Namun di samping itu, tidak dipungkiri bahwa tingkat kesejahteraan petugas Lapas terkadang ada yang di bawah standar. Maka, perlu kiranya memperhatikan nasib para petugas Lapas.
“Tapi, pemerintah harus perhatikan tingkat kesejahteraan petugas Lapas juga,” tuturnya.

Anggota Komisi I DPRD Kalbar yang membidangi hukum dan pemerintahan, Subhan Nur mengatakan penemuan narkoba di dalam Lapas saat sidak Menkumham Yassona Laoly, mengindikasikan keterlibatan oknum petugas Lapas.
“Napi bisa berdagang narkoba di dalam (Lapas). Kan lucu,” ujarnya.

Dengan kejadian itu, mesti dilakukan tindakan tegas. Di antaranya dengan mengganti kepala Lapas. Tapi lebih dari pada itu, upaya yang paling baik adalah perbaikan sistem di dalam Lapas.
“Ini malah napi seolah tidak kapok di penjara, karena di Lapas bisa berjualan dan menggunakan narkoba. Sebagaimana analisis, 70 persen peredaran narkoba itu di dalam Lapas,” ucapnya.

Subhan mengungkapkan, dirinya juga meragukan kinerja BNN yang menyatakan ke depan Indonesia akan terbebas narkoba. Pasalnya, peredaran narkoba saat ini sudah menggurita, tidak mengenal tempat dan usia. “Itukan hanya isapan jempol saja,” katanya.

Dia memprediksi, kejahatan narkoba di Indonesia kelak bisa jadi seperti di Meksiko. Dimana narkoba menjadi barang biasa, bisa dibagi-bagi kepada siapa pun. Pasalnya, kejahatan ini telah merambah ke desa-desa. Karenanya, negara mesti hadir. Tindakan atas kejahatan ini, harus dengan sanksi berat. “Mentalitas aparat juga harus dibenahi,” tuturnya. (ang/umr/lis)