Langganan SP 2

Warga Kabupaten Sekadau Trauma 'Tsunami Kecil'

Regional

Editor sutan Dibaca : 1001

Warga Kabupaten Sekadau Trauma 'Tsunami Kecil'
PASCA LONGSOR - Beberapa warga berkumpul memantau situasi daerahnya yang sempat diterjang longsor. Warga khawatir air yang masih terkandung di kaki bukit Ulu Nuak dan Cenanu bisa saja kembali menderas ke Dusun Nuak, Desa Rirang Jati, Kecamatan Nanga Taman
SEKADAU, SP – Kawasan kaki bukit Cenanu dan Ulu Nuak, Kabupaten Sekadau, menampung air bah kira-kira di seluas dua hektar lahan bekas longsor beberapa waktu lalu. Kondisi ini memantik kegalauan.  Warga khawatir, air tiba-tiba kembali menerjang pemukiman. “Yang berada di atas sana masih dalam waspada, karena masih ada kisaran dua hektar air yang masih tertampung di lokasi longsor itu,” ujar Sam, warga Dusun Nuak, Desa Rirang Jati, Kecamatan Nanga Taman,  Minggu (13/3).

Meskipun dusun sudah dalam kondisi baik, tapi dia masih trauma akibat bencana longsor. Kejadian itu, menurut warga yang berumur lansia itu, diistilahkan oleh warga setempat sebagai ‘tsunami kecil’.

Pantauan di bekas lokasi, terdapat jembatan, jalan, rumah warga masih terlihat berlumur bekas lumpur. Bahkan air yang mengalir di Sungai Nuak itu masih sangat keruh. “Kami saat ini waspada dengan kejadian itu, karena yang kami takutkan adalah air yang masih tersisa di kaki bukit itu, kalau air itu jebol maka kami akan celaka,” lirihnya.

Camat Nanga Taman, Afronius Akim Sehan mengatakan, pasca bencana, pada Jumat, 4 Maret lalu, menyisakan luka mendalam. Tak hanya kerugian materi, secara psikologi warga menjadi terganggung akibat banjir bandang tersebut.

Saat ini tidak ada lagi pengungsian. Hanya saja,  warga tidak bisa tidur nyenyak. Karena ancaman longsor yang mengakibatkan banjir bandang waktu itu terjadi pada malam hari.  “Apalagi ada retakan yang ada pada bukit di sana. Itulah kalau hujan masyarakat jadi was-was,” katanya.

Menurut Afron, saat ini terus dilakukan pemulihan terhadap para korban. Terlebih, peristiwa itu ikut mengancam anak-anak. “Anak-anak TK sudah diberikan semacam hipnotherapy agar bencana yang terjadi itu tidak mengganggu psikologisnya. Kami bersyukur bantuan lain mengalir seperti sembako dan alat tulis bagi murid sekolah,” ujarnya.

Pemulihan yang dilakukan di antaranya terhadap pemukiman yang rusak. Banjir bandang juga merusak sumber energi pada Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). “Mesin-mesin dan pipanya mengalami kerusakan. Jadi saat ini tidak teraliri listrik. Kondisi malam hari ya gelap gulita jadi pakai pelita lagi,” ucapnya.

Afron juga tak menampik, kondisi bukit hingga terjadi longsor tersebut, sebagian besar akibat lahannya telah dijadikan ladang oleh warga. Padahal, pihaknya sudah mengingatkan agar tidak membuka lahan di kawasan perbukitan.
“Inilah menjadi tantangan terbesar, mengubah pola pikir masyarakat agar mau membuka lahan persawahan. Pemerintah siap membantu t jika handtractor dibutuhkan,” tandasnya.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengungkapkan setidaknya hingga Kamis (10/3), warga yang terkena dampak bencana yakni seperti banjir telah mencapai 10.481 jiwa.

Warga itu tersebar di enam kecamatan yakni Sekadau Hilir, Sekadau Hulu, Nanga Taman, Nanga Mahap, Belitang Hilir dan Belitang. Sehingga, hanya satu kecamatan yang belum melaporkan warganya yang menjadi korban banjir, yaitu Kecamatan Belitang Hulu.

Khusus di Kecamatan Nanga Taman tepatnya di Desa Nanga Suri, Dusun Nuak, yang terkena musibah tanah longsor, bukan tidak mungkin daerah paling timur di Sekadau itu juga bisa direndam banjir.
“Dari pihak kecamatan belum melaporkan kepada kami,” ungkapnya.

Tercatat sudah 774 rumah warga yang terendam air, terdiri dari 2.809 kepala keluarga, sebagiannya sudah masuk ke dalam rumah. Sedangkan jumlah pengungi mencapai 87 kepala keluarga dan mencapai 344 jiwa.


Warga Depresi
Kejadian ini, menyisakan trauma mendalam bagi korban. Hingga kini, seorang warga yang menjadi korban masih terlihat cemas dan menutup diri.

“Hanya satu orang yang terlihat depresi. Saat kejadian, dia membuka pintu tiba-tiba dihadapannya sudah ada air yang langsung masuk ke dalam rumahnya. Akibatnya dia menjadi trauma karena kejadian itu,” ungkap Budi Mustika, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinas Kesehatan setempat.

Dia mengatakan, seorang gadis perempuan itu berusia 18 tahun mengalami trauma akibat banjir bandang. Saat ini, pihaknya terus mendampinginya menyembuhkan traumanya.

“Itulah upaya yang kami lakukan pada saat ini, korban bukan mengeluh hanya kesehatannya saja seperti gatal-gatal pada kulitnya dan diare. Tapi juga psikologis mereka akibat banjir bandang itu,” ujarnya. (akh/and)