Lagi, Malaysia Pulangkan 67 TKI Bermasalah melalui PPLB Entikong, Kalbar

Regional

Editor sutan Dibaca : 1424

Lagi, Malaysia Pulangkan 67 TKI Bermasalah melalui PPLB Entikong, Kalbar
Pendataan 67 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) non prosedural dari Malaysia, Jumat (25/3) dini hari, di Kantor Dinas Sosial Kalbar. (FOTO SUARA PEMRED)
PONTIANAK, SP – Suasana haru mewarnai proses pemulangan (deportasi) 67 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) non prosedural dari Malaysia, Jumat (25/3) dini hari. Yandi, warga Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah, mendekap erat anaknya, Nia Kurnia (23), saat bertemu di Kantor Dinas Sosial Kalbar.

Yandi tak dapat dibendung air matanya. Sambil berpelukan, ayah dan anak perempuan tersebut sama-sama menangis haru. “Selama ditahan di Malaysia, anak saya tidak dapat berkomunikasi. Hanya agennya yang menghubungi dan mengatakan anak saya bermasalah dan ditahan pihak imigrasi Malaysia,” ujar Yandi dengan air mata yang masih mengalir.

Yandi yang mengatahui kabar bahwa anaknya akan dipulangkan ke daerah asal bersama rombangan TKI lainnya, sengaja berangkat dari Mempawah ke Pontianak untuk menjemput anaknya.

“Sudah sembilan bulan terakhir tidak komunikasi. Sekarang, lebih baik anak saya pulang saja, jangan lagi bekerja di sana (Malaysia),” katanya.

Menurut Yandi, anak sulungnya tersebut telah bekerja di Malaysia selama dua tahun terakhir. Selama di Malaysia, anaknya diketahui bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

Anaknya sering melakukan komunikasi, sebelum akhirnya ditahan pihak imigrasi Malaysia karena tidak memiliki Permit (visa). "Masalahnya Permit. Di sana kerja PRT dua tahun lebih,” ungkap Yandi.

Jika air mata sepasang ayah dan anak adalah air mata haru karena saling bertemu, lain halnya dengan Nurdin, TKI asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dia nyaris meneteskan air mata karena memendam kecewa.

Dia pulang tanpa membawa hasil setelah bekerja menjadi buruh bangunan di Mukah, Sarawak, Malaysia selama lebih dari 10 bulan. "Semua uang saya yang berjumlah RM 1.900 diambil oleh Imigresen Malaysia. Tak satu sen pun dikembalikan pada saya," kata Nurdin dengan suara bergetar.

Nurdin mengaku sebenarnya ingin mengirim uang hasil keringatnya tersebut kepada istrinya di Lombok. Namun, belum sempat melakukan pengiriman uang, dia dan beberapa tenaga kerja lain telah tertangkap terlebih dahulu oleh pihak Imigrasi dan Kepolisian Kerajaan Malaysia karena tidak memiliki Permit.

“Perjanjian awal, tauke yang membuatkan. Tapi tak juga dibuat hingga kita dikembalikan ke sini (Indonesia). Tak hanya itu, upah saya juga belum dibayar selama tiga bulan terakhir, padahal sebelum berangkat kami dijanjikan upah RM 100 per hari," sesalnya.  

Menurut Nurdin, sebelum dipulangkan ke Indonesia, dia sempat mendekam di sel tahanan Imigrasi Malaysia selama tiga bulan. Selama itu pula dia menyaksikan perlakukan yang tidak manusiawi oleh petugas Imigrasi maupun Kepolisian Kerajaan Malaysia.

"Selama ditahan saya memang tidak kena pukul petugas, tapi banyak teman-teman saya yang kena pukul. Badan, kepala dan muka mereka dipukul sampai berdarah. Bahkan ada yang sampai mengalami lumpuh. Ada juga dari Vietnam yang sampai meninggal dunia karena disiksa," ungkapnya.

Seperti diketahui, Pemerintah Malaysia kembali mendeportasi sebanyak 67 TKI bermasalah melalui Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB), Entikong, Kabupaten Sanggau, Kamis (24/3) sekitar pukul 14.30 WIB.

Proses pemulangan deportasi TKI bermasalah tersebut dikawal langsung oleh pihak Imigrasi Semuja. Setibanya di Border PPLB Entikong, rombongan TKI bermasalah langsung dibawa ke Kantor Unit Latihan Kerja Industri (ULKI) Entikong untuk dilakukan pendataan serta pemisahan asal daerah dari masing-masing TKI.

Proses screening juga dilakukan untuk mencari adanya indikasi korban perdagangan manusia guna mengusut agen TKI illegal dan jaringannya.


Usai pendataan, 67 TKI bermasalah tersebut kemudian diberangkatkan ke Dinas Sosial Kalbar menggunakan dua unit bus untuk ditampung sementara sebelum akhirnya dipulangkan ke daerah asal masing-masing TKI. “67 TKI ditambah 1 TKI terlantar, diberangkatkan dari Entikong ke Pontianak pada Kamis sekitar pukul 17.00 WIB,” ujar Kasi Penyiapan Penempatan Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Pontianak, As Syafii.

Dari 67 TKI bermasalah tersebut, masing-masing terdiri dari 59 orang laki-laki dan delapan orang perempuan serta satu TKI terlantar. Rinciannya, 27 orang asal Kalbar, 1 orang asal Yogjakarta, 5 orang asal NTT, 11 orang asal NTB, 1 orang asal Sumsel, 2 orang Asal Sulsel, 1 orang asal Banten, 3 orang asal lampung, 4 orang asal Jawa Barat, 2 orang asal Jawa Tengah dan 10 orang asal Jawa Timur.  

Pemulangan TKI bermasalah bukan kali pertama ini saja. Sebelumnya ribuan TKI non prosedural juga telah dideportasi dari Malaysia sepanjang 2015 dan 2016 ini. Rabu (10/2) lalu misalnya, 111 TKI bermasalah dipulangkan melalui PPLB Entikong, kemudian ditampung di Kantor Dinas Sosial Kalbar.

Dari pendataan, diketahui TKI asal Kalbar berjumlah 43 orang dan dari luar Kalbar 68 orang. Laki-laki 102 orang dan Perempuan 9 orang. Pada deportasi kali ini juga ada seorang bayi berusia 1 bulan 10 hari dan seorang TKI asal Bengkayang yang mengalami lumpuh saat berada di tahanan imigrasi Malaysia.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Yuline Marhaeni mengatakan, selama berada di Pontianak, seluruh TKI akan ditampung sementara di shelter yang berada di dalam komplek perkantoran Dinas Sosial. Namun, karena jumlah TKI yang dipulangkan melebihi kapasitas shelter yang ada, pihaknya terpaksa membuat barak penampungan di garasi.

Garasi berukuran sekitar empat kali sepuluh meter tersebut ditutupi terpal berwarna hujau dan diberi alas karpet, sehingga layak untuk ditempati sementara.

“Sudah ada dua shelter di komplek perkantoran Dinas Sosial yang digunakan untuk pria dan wanita, namun kapasitasnya terbatas. Kami tampung sementara di garasi," ungkap Yuline.

Yuline menambahkan, seluruh biaya yang digunakan menggunakan dana anggaran dari Kementerian Sosial. Biaya tersebut meliputi konsumsi dan pemulangan ke daerah masing-masing.

"Biaya semua ditanggung Kemensos sampai pemulangan. Batas waktu kita biasanya tiga hari, tapi kita juga menunggu jadwal kapal untuk proses pemulangan bagi TKI asal luar Kalbar. Kalau belum ada jadwal, ya gak mungkin kan kita usir mereka, jadi kita tampung dulu di sini," ujarnya.

Kepala BP3TKI Pontianak, Kombes Pol Aminudin mengatakan, para WNI dideportasi lantaran tidak mengikuti aturan Pemerintah Malaysia. “Para TKI ini rata-rata dideportasi karena tidak memiliki paspor, cap paspor mati, tidak memiliki visa atau ijin kerja dan ijin kerja mati. Ada juga yang terlibat kriminal karena kasus narkoba. Tapi mereka sudah menjalani hukuman penjara satu hingga enam bulan di sana,” katanya.

Tiap Pekan Terima Jenazah TKI

Sementara itu, sejak Januari hingga awal Maret 2016, hampir setiap pekan BP3TKI Pontianak menerima jenazah TKI yang dipulangkan dari Malaysia. “Untuk awal tahun 2016 ini saja, dari Januari hingga Februari tercatat sebanyak 19 jenazah TKI yang dipulangkan ke Kalbar dari Malaysia.

Kemudian ditambah pada Maret ini ada dua jenazah yang dipulangkan, sehingga total dua puluh jenazah TKI yang dipulangkan,” kata As Syafii, Kasi BP3TKI Pontianak, belum lama ini.

Pihaknya mencatat, dari sebanyak 21 TKI meninggal dunia yang dipulangkan, tujuh belas diantaranya laki-laki dan empat wanita. "Hampir setiap Minggu ada pemulangan jenazah TKI dari Malaysia dan semuanya dipulangkan lewat perbatasan Malaysia-Indonesia, Entikong," ungkapnya.

Dia tidak mengetahui persis penyebab meninggalnya para TKI tersebut, sebab dia perlu meminta data secara rinci dari Konsulat Jenderal Repubik Indonesia (KJRI) yang ada di Malaysia. “Biasanya itu karena kecelakaan kerja,” jelasnya. (yoo/ind)