Gapki Ramalkan Kalbar Penghasil CPO Terbesar di Indonesia

Regional

Editor sutan Dibaca : 1338

Gapki Ramalkan Kalbar Penghasil CPO Terbesar di Indonesia
Ketua Gapki Kalbar, P Girsang dan Rektor Untan, Thamrin Usman menandatangani naskah nota kesepahaman (MoU) di ruang Rektorat lantai III, Selasa (29/3). (SUARA PEMRED/FELESIA)
PONTIANAK, SP – Kalbar diramalkan bakal menjadi daerah penghasil CPO terbesar di Indonesia. Peluang itu terbuka lebar, di mana provinsi lain seperti Sumatera, produktivitas sawit sudah pada posisi stagnan.

Hal itu disampaikan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Kalbar,  P Girsang pada acara FGD di Rektorat Untan, lantai III, Selasa (29/3).
 “Kita sekarang berada di posisi empat penghasil CPO nasional. Tetapi kemungkinan besar peringkat kita akan meningkat ke depan, karena banyak lahan saat ini belum memasuki masa produksi,” tuturnya.

Girsang mengatakan, data terbaru, lahan sawit dimiliki Kalbar mencapai 1,17 juta hektar dengan penghasilan Crude Palm Oil (CPO) satu juta ton per tahun. Pemerintah dan masyarakat harus sadar bahwa kelapa sawit adalah anugerah.

Pasalnya tanaman palem ini hanya bisa tumbuh dan menghasilkan buah yang baik di wilayah beriklim tropis. Selain itu, sawit mampu tumbuh di lahan kritis. “Harus diakui 30 persen masyarakat Kalbar menggantungkan hidupnya dari industri dan perkebunan kelapa sawit. Sawit sudah menjadi motor utama penggerak utama ekonomi Kalbar,” sebutnya.

Pimpinan Gapki pusat, Kanya Lakshmi Sidarta menyebut industri sawit sekarang sedang menghadapi tantangan besar. Tahun lalu misalnya, perkebunan sawit dituding menjadi biang kerok utama kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu kampanye hitam terhadap produk sawit semakin meluas dan intensif. Belum lagi gejolak ekonomi global dan penurunan harga minyak bumi yang anjlok, membuat harga CPO juga melorot.

Namun belakangan permintaan domestik terhadap CPO dan turunannya mulai tinggi, sehingga harga tandan sawit mulai sedikit terdongkrak. Pertamina juga sudah memakai produk biodiesel dari CPO.

Apalagi, kata dia, berbagai varian produk turunan kelapa sawit sudah mulai bermunculan, sehingga memberikan nilai tambah. “Kami mengharapkan pemerintah menetapkan industri kelapa sawit sebagai industri strategis unggulan daerah. Pemerintah mulai fokus pada produksi biodiesel untuk kebutuhan dalam negeri. Artinya permintaan domestik akan membantu harga CPO kita. Sembari kita berharap ekonomi dunia membaik,” katanya.

Rektor Untan, Thamrin Usman melihat industri sawit merupakan industri strategis dari food and energy security. “Kelapa sawit merupakan penghasil minyak nabati terbesar di dunia, dan Indonesia mempunyai potensi tersebut,” kata Thamrin.


Ia pun mengajak melihat industri kelapa sawit dengan berbagai macam pendekatan. Termasuk persaingan minyak nabati dunia, di mana CPO sudah sangat dominan dalam pangsa pasar minyak nabati.

 “Harus bijak dalam melihat industri ini, karena unsur yang terkandung dalam minyak sawit tersebut, yang bisa dibuat berbagai macam produk," tambah Thamrin Usman.

Apalagi, Korea Selatan sudah menyatakan siap berinvestasi di Kalbar dengan uang dan proyeknya, dengan syarat, negara gingseng tersebut meminta kepastian bahan baku dan lahan.


Asisten II Sekda Kalbar, Lensus Kandri mewakili gubernur menyebut kelapa sawit menjadi tumpuan hidup sebagian masyarakat Kalbar. Namun kata dia, Kalbar selama ini belum menikmati PAD dari ekspor CPO.

 Pasalnya Kalbar tidak punya pelabuhan ekspor untuk CPO.  “Pajak ekspor dinikmati oleh provinsi lain. Kami berharap ada bagi hasil dari pajak ekspor tersebut. Semoga ada peraturan di tingkat pusat yang mengakomodasi ini,” jelasnya.

 Dipaparkan dia, target lahan penanaman Kalbar mencapai 1,5 juta hektare. Sementara ini yang ditanam sudah 1,2 juta hektare. Adapun yang sudah menghasilkan sekitar 800 ribu hektare.

 “Dengan semakin banyaknya produksi CPO, semoga hilirisasi produk juga meningkat. Karena kita berharap ada banyak nilai tambah dari industri kelapa sawit,” tuturnya. (fly/umr)