Nelayan di Desa Sungai Ginjil Pesisir, Kabupaten Ketapang Keluhkan Harga BBM Jenis Solar Rp 8 Ribu per Liter

Regional

Editor sutan Dibaca : 1002

Nelayan di Desa Sungai Ginjil Pesisir, Kabupaten Ketapang Keluhkan Harga BBM Jenis Solar  Rp 8 Ribu per Liter
Seorang nelayan di Desa Sungai Ginjil Pesisir sedang membersihkan perahu kecilnya, Rabu (6/4). Akibat cuaca buruk dan harga solar mahal sejumlah nelayan memutuskan tidak melaut. SUARA PEMRED/THEO BERNADHI
KETAPANG, SP - Selain faktor gelombang besar. Persoalan tingginya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar turut menjadi penyebab enggannya para nelayan di Desa Sungai Ginjil Pesisir melaut.

Salah seorang nelayan di Desa Sungai Ginjil Pesisir, Arsad (35) mengatakan, saat ini harga solar sudah menembus Rp 8 ribu/liter. Padahal pemerintah telah resmi menurunkan harga BBM per 1 April 2016.

Akibat dari itu, jika ingin melaut, para nelayan harus mengeluarkan modal yang cukup banyak.  "Selain ombak besar, harga BBM yang masih mahal jadi alasan, kenapa nelayan di sini sepi melaut," terangnya, Rabu (6/4).

Jika sesuai harga yang telah diturunkan oleh pemerintah, saat ini harga BBM jenis solar di SPBU di Ketapang hanya Rp 5.150. "Tapi harga yang dijual pengecer jauh lebih tinggi, dibanding harga di SPBU. Kalau di SPBU Rp 5.150, di pengecer Rp 8 ribu," keluhnya.


Untuk membeli solar di SPBU, Arsad menerangkan, bahwa para nelayan terkendala dengan regulasi ketika membeli BBM di stasiun. Pasalnya, pihak SPBU sama sekali tidak melayani pembeli solar yang menggunakan jerigen.

“Untuk sekali melaut, kita membutuhkan solar sebanyak 10 liter. Makanya, mau tidak mau kita beli di tingkat pengecer,” terangnya.

Kondisi ini, tambahnya, jelas membuat para nelayan merasa serba salah dan kebingungan.
Dirinya berharap, pemerintah dapat segera mengatasi persoalan ini. "Kalau tidak melaut, kita mau makan apa. Tapi kalau melaut, ongkosnya besar dan hasilnya tidak seberapa,” ungkap Arsad.

Sementara itu, nelayan lainnya, Saharudin (56) berharap kepada Pemerintah Kabupaten Ketapang, mengeluarkan kebijakan untuk menetapkan harga jual BBM khususnya jenis solar di tingkat pengecer.

“Setidaknya harga solar yang dijual, tidak membebani masyarakat kecil, seperti nelayan kapal kecil,” harapnya.

Selain itu, dirinya juga meminta Pemkab Ketapang untuk turun ke lapangan, mendengar keluhan para nelayan, yang puluhan tahun mengharapkan adanya bantuan. "Semoga pemerintah segera mencarikan solusi yang terbaik, untuk kesejahteraan para nelayan," tuturnya.

T
ingkatkan Pengawasan
Anggota DPRD Ketapang, Abdul Sani meminta, pihak kepolisian segera merazia lokasi-lokasi pengecer yang menjual BBM dengan harga yang jauh lebih tinggi dari ketentuan pemerintah.

Menurutnya, persoalan ini sontak membuat sejumlah pihak dirugikan.
“Selain merazia. Kita harap kepolisian dan pemerintah dapat melakukan pengawasan secara rutin terhadap pengecer nakal ini,” pintanya.

Selain itu, pihak Stasiun Solar Paket Dealer Nelayan (SPDN) juga diminta tidak menjual solar yang diperuntukan untuk nelayan, kepada pihak lain dengan dalih mencari untung.

"Setahu saya jika SPDN benar-benar melayani nelayan, tentu stok yang mereka dapat dari Jobber tidak mungkin habis,” tuturnya. (teo/bob)
 


Komentar