Tersangka Penjual Kunci Jawaban UN 2016 Mengaku Dapat dari SB, Oknum Guru di Ngabang, Kabupaten Landak

Regional

Editor sutan Dibaca : 1539

Tersangka Penjual  Kunci Jawaban UN 2016 Mengaku Dapat dari SB, Oknum Guru di Ngabang, Kabupaten Landak
Kasatreskrim Polresta Pontianak, Kompol Andi Yull memeriksa limpahan berkas dari Polsek Kota, terkait kasus jual jawaban UN tingkat SMA di Mapolresta Pontianak, Rabu (6/4). (yollanda sari/suara pemred)
PONTIANAK, SP – Aksi anggota polisi Polsek Pontianak Kota berhasil menangkap dua orang penjual kunci jawaban Ujian Nasional (UN), yakni S dan KY, seakan membuktikan bahwa, masalah jual-beli kunci jawaban di Kalbar memang ada. 

Penangkapan dua tersangka dilakukan di depan SMKN 1 Pontianak, Jalan Danau Sentarum, Kecamatan Pontianak Kota, Senin (4/4), pukul 23.00 WIB tanpa perlawanan. Diketahui, S dan KY menjual kunci jawaban dua mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia dan Geografi.

Sebelumnya, Suara Pemred memberitakan bahwa, ada praktik jual-beli soal UN di Kota Pontianak. Pada saat dikonfirmasi, Sutarmidji membantah praktik ilegal tersebut. Penangkapan itu membuktikan bahwa, praktik itu ada.

Kapolsek Pontianak Kota, Kompol Albert Manurung mengatakan, penangkapan ini berawal dari informasi masyarakat. Yang menyebutkan, ada dugaan kegiatan tindak pidana membuka rahasia negara, dengan cara menjual kunci jawaban UN. 

“Dari informasi itu, anggota kita bergerak saat dua tersangka sedang beroperasi di depan SMK Negeri 1 Jalan Danau Sentarum. Begitu digeledah ditemukan uang Rp 240 ribu, dan satu unit alat komunikasi," tutur Albert.

Dari pengakuan keduanya, menjual kunci jawaban pada Minggu (3/4). Kemudian pada Senin (4/4), Polsek Kota melakukan penggeledahan di rumah kedua tersangka, dan diamankan barang bukti berupa 36 lembar kunci jawaban UN mata pelajaran Matematika, dan uang tunai sebesar Rp 8 juta.

"Juga sudah ditemukan uang hasil penjualan kunci jawaban sebesar Rp 8 juta," ujarnya.

Kemudian, Rabu (6/4) Polsek Pontianak Kota menyerahkan kasus tersebut ke pihak Polresta Pontianak. “Kasus ini sudah diserahkan ke Polresta Pontianak," kata Albert.

Salah satu tersangka penjual jawaban UN, S menyatakan jawaban itu didapatnya dari seorang guru di Ngabang, berinisial SB. "Saya, bersama kedua teman saya, KY dan FB pada 31 Maret pergi ke Ngabang, untuk bertemu dan mengambil kunci jawaban kepada SB," kata tersangka.  

Menurut dia, setelah kunci jawaban didapat, kunci jawaban lalu dijual kepada beberapa siswa di Pontianak. "Untuk pembagian hasil penjualan kunci jawaban, keseluruhannya dilakukan oleh FB," ungkapnya.

Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Andi Yul Lapawesean mengatakan, pihaknya masih memeriksa terhadap dua tersangka. “Dari keterangan tersangka, kunci jawaban yang dijual kepada siswa dibeli dari seorang warga Pontianak laki-laki inisial FB," ujarnya.

Saat ini, FB masih dalam pengejaran. Keterangan FB sangat diperlukan untuk mendalami dugaan keterlibatan pihak lain. Namun, pihaknya belum dapat membenarkan isu yang beredar, jika jual beli jawaban UN tersebut, melibatkan oknum guru di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak.

"FB ini belum ditangkap. Masih didalami. Jika memang isu itu benar, oknum guru tersebut dapat dikenakan Pasal 362, yakni melakukan pencurian dokumen negara dengan ancaman pidana penjara lima tahun," kata Andi Yul.

Sedangkan untuk kedua tersangka dikenakan Pasal 322 KUHP tentang Membongkar Kerahasiaan Negara dengan ancaman hukuman delapan bulan penjara.
"Tidak dilakukan penahanan, karena masih didalami. Namun, pasal akan berubah jika FB telah ditangkap dan mengungkapkan," jelasnya.

Menanggapi peristiwa itu, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengaku belum mendapat laporan mengenai penangkapan tersangka pemalsu kunci jawaban.

Namun, dirinya memastikan bahwa, itu adalah bentuk penipuan.   “Setiap tahun selalu beredar kunci jawaban UN palsu,” ujarnya.  

Karenanya, hal itu merupakan hal biasa. Yang penting bagi siswa, percaya diri tidak mudah tergiur kunci jawaban yang beredar. 

 “Kalau dia jual jawaban, itu kan penipuan namanya. Itu baru ditangkap. Peredaran kunci jawaban merupakan hal biasa. Kalau ada yang jual, tangkap dan harus diproses sampai ke pengadilan, biar jera,” katanya.  

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Provinsi Kalbar, yang juga Ketua Panitia UN SMA Kalbar, Syarifudin menjelaskan, adanya pihak yang menjual kunci jawaban UN.

Apalagi kunci jawaban tersebut didapat dari salah seorang Kepala Sekolah di Kabupaten Landak, adalah hal yang tak masuk logika.   Soal UN dibagi menjadi 20 paket, dan ketika soal disebar ke daerah dari pusat, tidak disertai dengan kunci jawaban.

Hanya ada paket soal dan lembar isian siswa saja. Selama pendistribusian soal pun aparat kepolisian dilibatkan.   “Logikanya tidak masuk, soal tiap kabupaten juga beda. Jadi, buat apa jauh-jauh dapat di Landak dijual ke Pontianak? Soal itu juga dijaga, pasti aman,” jelasnya.  

Selain itu, tiap soal dan lembar jawaban memiliki barcode tersendiri. Siswa yang saling bersebelahan saja, tak mungkin bisa mencontek. Kunci jawaban tidak digandakan di penerbit, dan baru keluar saat lembar jawaban siswa dipindai. (yoo/bls/lis)