Karolin, Anggota DPR RI Kunjungi RS Anton Soedjarwo Polda Kalbar

Regional

Editor sutan Dibaca : 873

Karolin,  Anggota DPR RI Kunjungi RS Anton Soedjarwo Polda Kalbar
Karolin, anggota DPR RI ketika berbincang dengan seorang pasien di RS Anton Soedjarwo, Kamis (7/4).
PONTIANAK, SP - Kondisi Rumah Sakit Anton Soedjarwo di Jalan KS Tubun Pontianak Selatan, perlu ditingkatkan statusnya menjadi Type B, hal itu dikatakan anggota DPR RI, Karolin Margret Natasa saat menggelar kunjungan kerja di Rumkit milik Kepolisian Daerah Kalbar, Kamis (7/4).

Menurut Karolin,  dengan statusnya yang masih di Type C saat ini, pasien yang akan mengajukan klain biaya kesehatan akan menerima di bawah standar, padahal kualitas pelayanan yang dilakukan tampak cukup maksimal.

"Banyak yang perlu ditingkatkan, salah satunya adalah type C saat ini yang harus dinaik kelaskan ke Type B," kata Karolin di sela-sela kunjungan.

Kendati demikian menurutnya, memang butuh proses yang cukup panjang untuk menaikkan type sebuah rumah sakit, karena harus terlebih dahulu memenuhi sejumlah persyaratan, terlebih rumah sakit Bhayangkara Polda Kalbar ini tidak berada langsung di bawah Kementerian Kesehatan.

"Saya masih belum begitu mengerti regulasi yang mengatur pusat kesehatan seperti milik Polri maupun TNI. Namun karena mereka semua dapat menerima BPJS artinya nyambung sama Komisi IX DPR RI," ujarnya.

Lebih lanjut, Karolin mengatakan, saat ini instansi kepolisian tengah menjadi sorotan serius masyarakat, karena terjadi sejumlah peristiwa berdarah dengan melibatkan oknum anggota polisi yang dituding mengalami gangguan kejiwaan.

Dalam kesempatan itu, Karolin mendorong rumah sakit Bhayangkara untuk lebih gencar mensosialisakan Undang-undang kejiwaan, agar hal-hal yang tidak dinginkan dapat dicegah sejak dini.

"Setiap orang berpotensi mengalami masalah kejiwaan, semakin tinggi tekanan, kesibukan ditambah lagi beban pikiran dan hal-hal lainnya, dapat menjadi penyebab terjadinga gangguan kejiwaan," tuturnya.

Dijelaskan Karolin, karena makhluk sosial, masalah kejiwaan itu adalah hal yang lumrah bagi manusia, namun akan menjadi sangat membahayakan jika tidak memiliki kesadaran untuk melakukan perawatan baik secara medis maupun spritual.

"Ada masalah kejiwaan dapat dideteksi dini, untuk mencegah itu, kesadaran harus dibangun. Baik secara institusi maupun secara umum di tiap masyarakat," ucapnya.

Kunjungan kerja Karolin di RS Anton Soedjarwo Polda Kalbar tersebut didampingi oleh Direktur Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalbar dan rombongan lainnya. Sesampainya di Rumkit, Karolin menyambangi satu persatu karyawan dan petugas kesehatan yang tengah berjaga.

Tidak hanya itu, Karolin juga sempat bercengkerama dengan sejumlah pasien dan melakukan pemantauan di tiap-tiap ruangan fasilitas kesehatan milik Rumkit tersebut.  

Sementara Kepala RS Anton Soedjarwo, AKBP Sugiyanto mengatakan, saat ini masih terdapat sejumlah permasalahan yang masih terjadi, di antaranya adalah masalah keterbatasan lahan yang miliki, baik itu lahan untuk menambah ruangan baru hingga sempitnya lahan parkir.

Namun saat ini memang tengah dilakukan upaya untuk mendapatkan lahan yang baru dengan meminta bantuan kepada Pemerintah Provinsi Kalbar. "Akibatnya, pelayanan tentu akan terasa tidak maksimal dilakukan. Karena pasien rebutan, ruangan inap selalu penuh," kata Sugiyanto.

Bagaimana tidak kata dia, meskipun namanya adalah rumah sakit kepolisian, namun berdasarkan data yang ada, dari seluruh pasien, hanya sekitar 20 persen pasien yang berasal dari kepolisian, sisanya adalah masyarakat umum.
"Ini muara pengabdian kami untuk membantu masyarakat Kalbar," tegasnya.

Apalagi saat ini, pihaknya hanya memiliki 88 tempat tidur pasien, di mana jumlah tersebut tidak akan cukup. "Harapan masyarakat kepada Rumkit ini, sangat baik, bahkan kewalahan, saya terlalu sering mendapat komplain pasien tidak ada ruangan. Karena kondisi saat ini jauh di bawah standar soal keluasan," ungkapnya.

Terkait adanya anggota-anggota polisi yang diduga mengalami gangguan kejiwaan, Sugiyanto memastikan kepolisian khususnya pada bidang kesehatan sedang memperkuat upaya deteksi soal itu.

Pendeteksian terhadap anggota, jelasnya, bukan baru-baru ini dilakukan, melainkan sudah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja untuk mengetahui gejala anggota yang mengalami gangguan kejiwaan terkendala anggota di lapangan yang mengalami kesibukan masing-masing.
"Dua tahun ini memang belum ada data yang akurat tentang itu. Karena terkendala berbagai masalah," ujarnya.

Namun saat ini jelasnya, tengah dilakukan roadshow keliling Kalbar guna memetakan kondisi kesehatan jiwa para anggota jajaran di seluruh Kalbar.
"Beberapa daerah sudah. Dengan ini diharapkan akan mendapatkan peta kondisi kesehatan jiwa anggota di lapangan," tukasnya. (ang/ind)