BNNK Bengkayang: Sabu dari Sarawak, Malaysia Dioplos Pupuk Urea

Regional

Editor sutan Dibaca : 1657

BNNK Bengkayang: Sabu dari Sarawak, Malaysia Dioplos Pupuk Urea
Anggota sindikat narkoba Internasional asal Taiwan, LWS bersama barang bukti souvenir kerajinan tangan dan peralatan makan dan minum (tea set) yang digunakan untuk mengirim sabu saat digelar rilis barang bukti narkoba jaringan sindikat internasional di Ge
BENGKAYANG, SP - Badan Narkotika Nasional (BNN) mengakui, narkoba jenis sabu-sabu yang diselundupkan dari Sarawak, Malaysia, dioplos dengan pupuk urea untuk dipasarkan ke seluruh Indonesia.  

Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bengkayang, Antonius Freddy Rommy, Minggu (24/4), mengatakan, berbagai jenis narkoba dari Malaysia, selalu dijadikan bahan indukan dengan sistem oplos.  

Rommy menanggapi terbongkarnya upaya penyelundupan 17 kg narkoba jenis sabu-sabu dari Sarawak, lewat Pos Lintas Batas (PLB) Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, pukul 15.30 WIB, Minggu, 17 Maret 2016.    

Rommy mengatakan, ada indikasi teknik penyelundupan narkoba dari Sarawak ke Kalbar, menggunakan jasa warga negara Indonesia yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima di Malaysia.   “Pos Lintas Batas Jagoi Babang, salah satu wilayah paling rawan terhadap penyelundupan narkoba,” kata Rommy.  

Menurutnya, Kepala BNN Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso sudah mengakui bahwa, sebagian besar narkoba yang beredar di Indonesia, dipasok dari Malaysia, baik lewat darat, laut dan udara.  

Menurut Rommy, titik rawan penyelundupan narkoba di Kabupaten Bengkayang berada pada areal 72 km tapal batas dengan Sarawak, mencakup dua kecamatan yang berhadapan langsung. Yaitu, Kecamatan Jagoi Babang dan Kecamatan Siding.  

Rommy menyatakan, narkoba adalah bisnis paling menggiurkan. Satu Kg narkoba jenis sabu-sabu yang berhasil diselundupkan ke Kalbar, total keuntungan bersih bisa mencapai Rp1,5 miliar.   Tidak puas dengan keuntungan bersih Rp14,5 miliar tiap 1 kg, para pelaku meracik kembali sabu-sabu itu dengan sistem oplos.  

Dijelaskan Rommy, bahan baku oplosan sangat mengerikan. Temuan membuktikan, 1 kg sabu-sabu yang berhasil diselundupkan dari Sarawak ke Kalbar, dioplos atau dicampur lagi dengan 19 Kg pupuk urea.  

“Sehingga tiap satu Kg sabu-sabu hasil oplosan dengan pupuk urea, akan menghasilkan 20 Kg sabu-sabu baru. Jadi narkoba jenis sabu-sabu dan ekstasi yang diselundupkan dari Sarawak, sebagai bahan baku oplosan yang sangat berbahaya bagi kesehatan,” kata Rommy.   

Penangkapan Bengkayang
Dalam penggerebekan di Bengkayang, Minggu (167/4), Murni, pelaku penyelundupan, ditangkap di Jalan Raya Jagoi Babang, tepatnya di Ledo, menggunakan mobil pikap jenis Grand Max dengan nomor polisi KB 8025 PA.  

Sabu-sabu dikemas dalam 17 kantong alumunium foil, yang dimasukkan ke kotak kardus dan ditutup menggunakan makanan ringan untuk mengelabui.   Setelah dites, isi yang ada di dalam alumuninium foil itu ternyata sabu-sabu. Semua ada 17 paket, dan setelah ditimbang beratnya masing-masing 1 kg, sehingga totalnya 17 kg.  

Dari hasil pemeriksaan, tersangka mengaku barang bukti dibawa dari Serikin, Sarawak. Saat ini, tim kepolisian sedang menelusuri dan berkoordinasi dengan otoritas di Malaysia, mengembangkan hasil temuan tersebut.   Barang bukti narkoba jenis sabu-sabu rencanana dibawa menuju Pemangkat. Gerak cepat kepolisian kemudian berhasil mengamankan Hendro, yang menjadi tujuan pengiriman barang tersebut.  

Penangkapan ini, merupakan yang terbesar dilakukan Polda Kalbar selama ini di wilayah Kabupaten Bengkayang.   Hal ini menjadi indikasi, perlunya pengawasdari berbagai pihak terkait untuk mewaspadai peredaran narkoba, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia.   Ini yang terbesar sebanyak 17 Kg yang pernah diselundupkan lewat PLB Jagoi Babang. Sebelumnya 5 Kg, dan sebelumnya lagi 10 Kg.  

Pasar Kalbar

Masyarakat di Provinsi Kalbar, menjadi pangsa pasar potensial bagi pebisnis narkoba dari Sarawak, Malaysia. Tidak kurang dari 123 ribu dari 5,4 juta warga di Provinsi Kalbar berpotensi terpapar narkoba, dan 13 ribu jiwa di antaranya dicatat sebagai pencandu narkoba yang harus direhabilitasi. 
 
“Ini berdasarkan hasil survei terakhir. Khusus jumlah riil pencandu narkoba datanya ada di Direktorat Narkoba Polisi Daerah Kalbar,” kata Kombes Dani M Darmawan, Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalbar.  

Menurut Darmawan, sebanyak 123 ribu warga Kalbar masuk kategori rawan terpapar narkoba. Indikatornya, bermukim di wilayah yang dikenal jadi tempat transaksi narkoba dan pihak-pihak yang masih coba-coba menggunakan obat terlarang tersebut.  

Darmawan mengatakan, sebagai wilayah perbatasan, Provinsi Kalbar menjadi wilayah yang rawan terhadap peredaran narkoba dari Sarawak, Malaysia. Kalbar menjadi salah satu pintu masuk ke wilayah lain.  

Darurat Narkoba

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso mengakui, Indonesia sekarang masuk kategori darurat dan harus perang terhadap narkotika. Dimana sekitar 5,9 juta jiwa masyarakatnya positif sebagai pengguna. Dalam waktu satu tahun terakhir, sedikitnya 2,6 ton narkoba jenis sabu-sabu yang disita BNN.  

“Karena itu, dari perhitungan yang dilakukan, korban meninggal dunia akibat ketergantungan narkotika saat ini, sekitar 30-40 orang dalam sehari,” ungkap Budi.  

Sebab, dalam kurun waktu lima bulan terhitung sejak Juni–November 2015, angka pengguna yang tergantung narkotika naik drastis, dari 4,2 juta jiwa menjadi 5,9 juta.   Budi Waseso, menilai, narkoba ini pembunuh massal. Sebab, dampak dari penggunaannya sangat fatal karena kerusakan yang ditimbulkannya permanen. Ini hasil penelitian pihak medis.  

“Ini ancaman serius, negara sudah diserang oleh pihak luar. Sebagai prajurit, TNI dipersiapkan untuk berperang melindungi negara. Karena itu, TNI harus terlibat untuk menghancurkannya,” ujar Budi.  

Ancaman hukuman bagi pengguna narkotika di Indonesia sangat ringan dibandingkan dengan negara lain. Di Malaysia, untuk pengguna saja hukumannya digantung, termasuk Singapura. 
 

Sedangkan, di Indonesia masih ada toleransi bagi pengguna bahkan untuk bandar. “Sehingga, ke depan ancaman hukuman bagi pengguna narkoba harus dihabisi. Apakah ditembak mati, digantung atau dijadikan makanan buaya,” kata Budi.  

BNN mengakui, selama ini banyak oknum Polri maupun BNN menjadi makelar kasus atau markus dalam penindakan untuk memberikan keringanan bagi pengguna narkotika dengan cara mengurangi pasal jika sudah ditangkap.
Mau pasal berapa? Rehap atau pidana? Kalau rehab bayar berapa? Itulah yang terjadi selama ini makanya dengan mudah terkontaminasi.  

Panglima TNI Gatot Nurmantyo mentargetkan seluruh Panglima Komando utama dan pimpinan kesatuan, membersihkan lembaganya dari penyalahgunaan narkoba. Pembersihan harus sudah selesai dilakukan Juni 2016 mendatang.  

Gatot mengancam akan menjatuhkan sanksi berat kepada setiap atasan kesatuan jika target tersebut tidak tercapai. “Setelah Juni 2016, jika masih tetap ada penyalahgunaan narkoba, komandannya saya pecat,” kata Gatot.  

Sebelum dipecat, anggota itu harus melalui proses hukum terlebih dahulu. “Kalau sudah kena narkoba, lebih baik dipecat sehingga benar-benar bersih,” ucap Gatot. (cah/aju/ant/det/lis)