Sabu 5,5 Kg Gang Kedah, Pontianak Jaringan RRC

Regional

Editor sutan Dibaca : 1533

Sabu 5,5 Kg Gang Kedah, Pontianak Jaringan RRC
Khun Sheng alias Aseng alias Asoi nomor empat dari kiri berbaju biru (ist)
PONTIANAK, SP - Khun Seng alias Aseng alias Asoi, pemilik narkoba jenis sabu-sabu 5,5 kilogram, beralamat di Gang Kedah 352, Jalan Tanjungpura, Pontianak Selatan, Provinsi Kalbar, merupakan jaringan Republik Rakyat Cina (RRC).  

Demikian investigasi Suara Pemred hingga Minggu (8/5) kemarin. Jaringan RRC, bermarkas di sejumlah kota besar di Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, mensuplai narkoba berbagai jenis ke Indonesia melewati jalur di sepanjang tapal batas di Provinsi Kalbar.  

Warga RRC sebagai mitra bisnis narkoba Asoi, selalu  datang dari Sarawak. Base camp warga RRC berbisnis narkoba dengan Asoi di Sarawak, ada di Kuching, Sibu dan Bintulu.
  Base camp Kuching, untuk pengiriman ke wilayah Kabupaten Sambas, Bengkayang dan Sanggau, untuk diedarkan ke Singkawang dan Pontianak.  

Base camp Sibu dan Bintulu dikirim lewat wilayah perbatasan Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu, untuk selanjutnya dikirim ke seluruh kota di Indonesia. 
  Rute pengiriman paling aman, warga Gang Kedah, selalu lewat wilayah perbatasan Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu, karena keterbatasan aparat.  

Dari Kalbar, narkoba berbagai jenis, terutama ekstasi dan sabu-sabu disuplai ke berbagai konsumen di seluruh Indonesia, terutama di Jawa, Sumatera dan Papua.  

Sabu-sabu 5,5 kilogram pesanan Asoi, digagalkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan di Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong, Kabupaten Sanggau,  Minggu (1/5), pukul 11.00 WIB.
 

Barang bukti disimpan di dek kamar kecil Bus Eva, jurusan Kuching (Malaysia)–Pontianak dengan nomor polisi QAV755 yang dikemudikan Japar.   Safei, karyawan Asoi, sedianya mengambil pesanan di Terminal Bus International Pontianak,  Senin, 2 Mei 2016, sekitar pukul 06.30 WIB.

Saat mengambil barang bukti, Safei ditangkap polisi dan kemudian digelandang ke rumah Asoi di Gang Kedah 352, Jalan Tanjungpura, Pontianak Selatan.
  Didatangi aparat ke rumahnya, Asoi tidak berkutik. Safei dan Asoi kemudian digelandang ke tahanan Direktorat Narkoba Polisi Daerah Kalbar, terhitung Senin, 2 Mei 2016.  

Khun Seng merupakan anak ke-5 dari sembilan bersaudara. Asoi merupakan nama panggilan di kalangan orang dekat, dan Asoi panggilan kesayangan Khun Seng di lingkungan keluarga.  
 

Berbisnis narkoba,  Asoi berkedok sebagai tukang service kulkas, tapi sangat royal dengan uang. Dari hasil bisnis narkoba, Asoi mampu membeli sejumlah rumah di sepanjang Jalan Tanjungpura, Pontianak, dengan omset kumulatif miliaran rupiah.
 

Sejumlah sumber di Gang Kedah dan Gang Baiduri I, Jalan Tanjungpura, Pontianak Selatan, mengatakan, Asoi sedianya berasal dari keluarga sederhana. Sebagian saudaranya berjualan roti keliling.  

Dalam lima tahun terakhir, Asoi tiba-tiba menjadi orang kaya mendadak dan sumber utama pendanaan sebuah organisasi massa cukup dikenal di Kalbar,  

Setelah Asoi ditangkap polisi, seluruh aktivitas keluarganya terhenti. Rumah saudaranya di Gang Kedah dan Gang Baiduri I, Jalan Tanjungpura, Pontianak Selatan, semuanya tutup.   Saudara-saudara Asoi menjadi serba tertutup.

Kalaupun ke luar rumah untuk terinteraksi dengan warga sekitar, hanya seperlunya.   Hermansyah (63) warga di Gang Kedah, Jalan Tanjungpura, Pontianak Selatan, mengaku tidak heran Asoi digelandang polisi.  

Menurut Hermansyah, hampir semua warga di Gang Kedah dan Gang Baiduri I, Pontianak Selatan yang lokasinya berdekatan, mengatakan, sudah sejak lima tahun terakhir, kalau bisnis service kulkas Asoi hanya kedok.  

Sejak tahun 2001, Asoi merintis bisnis  dengan warga RRC di bidang obat-obatan tradisional.
  “Asoi, meneruskan usaha rintisan abang kandungnya yang sudah  meninggal dunia. Lama kelamaan Asoi terperosok bisnis narkoba, sebagai perpanjangan tangan warga RRC di Kalbar,” ungkap Hermansyah.  

Diungkapkan Hermansyah, modus distribusi narkoba RRC yang sebelumnya langsung dikirim ke Indonesia, diubah setelah dalam lima tahun terakhir, selalu berhasil digagalkan aparat keamanan.

Pebisnis narkoba RRC, mencari celah baru. Pilihan jatuh ke Sarawak, dengan berbagai pertimbangan.   Di antaranya aparat keamanan di Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, selalu bisa disuap apabila berkaitan dengan narkoba.  

Dituturkan Hermansyah, berdasarkan pengakuan Asoi dan kaki-tangannya, sanksi hukum bagi pengedar narkoba cukup berat di Federasi Malaysia. Tapi kalau bertujuan untuk dikirim ke luar negeri, aparat keamanan di Sarawak, Malaysia, pura-pura tidak tahu, asalkan uang suap yang disiapkan, sesuai kesepakatan.  

“Aktor utama penyelundupan narkoba dari Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, ke Provinsi Kalbar, hampir seratus persen warga negara Republik Rakyat Cina (RRC),” ungkap Hermansyah.  

Gampang Disuap


Menurut Hermansyah, para penyelundup narkoba warga negara RRC, memanfaatkan kelemahan aparat penegak hukum di Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia yang bisa disuap.  

Hermansyah mengaku lega, karena Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bersama Polisi Republik Indonesia,  telah mengungkap jaringan Asoi, karena sudah lama membuat resah warga sekitar.
 

Apalagi rumah di Gang Kedah 532,  yang persis di belakang Hotel Aston, dalam dua bulan terakhir selalu ramai dikunjungi banyak orang, terutama oknum aparat penegak hukum.   “Kalau aparat bekerja baik, banyak pihak yang terlibat.

Usut pula salah satu pengurus partai politik dan organisasi massa yang selama ini sangat dekat dengan Asoi. Mereka selama ini selalu menjadikan Asoi sebagai sumber pendanaan,” ungkap Hermansyah.  

Asoi hanya sebagai salah satu pebisnis narkoba antar negara di Pontianak. Karena itu, usut pula pelaku lainnya, karena implikasinya memiliki daya rusak yang luar biasa terhadap generasi penerus Bangsa Indonesia.  

“Banyak pelaku bisnis narkoba di Pontianak yang kualifikasi dan jaringannya jauh lebih kuat dan hebat dari Asoi. Asoi hanya sebuah jaringan kecil. Ungkap pula jaringan kelas kakap,” ujar Hermansyah.  

Kepala Polisi Daerah Kalbar, Brigjen Pol Arief Sulistyanto menegaskan, pengusutan kasus narkoba dari Malaysia, tidak akan sebatas peran Asoi.   Penyidik, menurut Arief, akan melakukan pengusutan bekerjasama dengan Federasi Malaysia, terhadap jaringan Asoi.  

Arief menuturkan, terus melakukan pemeriksaan lebih intensif terhadap Asoi, untuk menelurusi sampai sejauh mana keterlibatannya dalam penyelundupan narkoba.   “Pengiriman barang bukti lewat Bus Eva milik Asoi, baru pertama kali terungkap. Belum lagi pengiriman sebelumnya yang tidak terungkap, tetap akan diusut tuntas. Termasuk jaringan lainnya,” tegas Arief Sulistyanto.  

Di Toilet Bus

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementrian Keuangan di Kantor Unit Pelayanan Entikong, mengendus, sesuai yang tidak beres dalam perjalanan Bus EVA, rute Kuching (Malaysia)–Pontianak dengan nomor polisi QAV755 yang dikemudikan Japar, Minggu siang, 1 Mei 2016.  
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Bea Cukai Pontianak, Saipullah Nasution mengungkapkan, sekitar pukul pukul 11.00 WIB, bis tersebut masuk dari arah Tebedu Malaysia menuju Indonesia.  

Sesuai dengan aturan yang berlaku, petugas pun memeriksa semua kendaraan yang melintas, termasuk bus tersebut. Pada saat melakukan pemeriksaan terhadap bus tersebut, petugas mendapati pintu toilet bus dalam keadaan terkunci.  

Ketika ditanyakan petugas, sopir mengaku pintu dikunci agar tidak ada penumpang yang buang air. Alasan itu disampaikan supir karena toilet bus dalam keadaan rusak.   Tak percaya dengan alasan supir, petugas Bea Cukai kemudian meminta sopir untuk membuka pintu tersebut untuk dilakukan pemeriksaan.  

Berdasarkan hasil pemeriksaan, ditemukan beberapa paket kosmetik yang disembunyikan di dalam sebuah koper atau false compartment di ruang toilet bus tersebut.
  “Temuan dilaporkan kepada pimpinan dan diarahkan untuk diperiksa mendalam di Kantor Bea Cukai,” kata Saifullah.  

Hasil pemeriksaan, ditemukan juga tas berwarna merah yang ditutup dengan kosmetik dan diletakkan di dalam tas koper berwarna merah. Setelah dibuka, ditemukan lima kantong plastik kemasan teh dan berisi bubuk putih yang diduga sabu. 

 “Kemudian dilakukan narkotes terhadap barang bukti tersebut dan barang tersebut dinyatakan positif sabu-sabu,” ucap Saifullah.  

Setelah dinyatakan positif narkoba, Direktorat Bea dan Cukai Pontianak berkoordinasi dengan Polisi Daerah Kalimantan Barat, untuk melakukan pengembangan.  

Pihak Bea Cukai sudah menetapkan tiga tersangka, di antaranya M Rizal bin Abdullah yang merupakan warga negara Malaysia sekaligus pemilik kosmetik dan sabu, Japar yang merupakan sopir bus, dan Frans Darsono yang merupakan supir cadangan. (yoo/aju/lis)