Langganan SP 2

Cadangan Uranium di Desa Kalan, Kabupaten Melawi

Regional

Editor sutan Dibaca : 1307

Cadangan Uranium di Desa Kalan, Kabupaten Melawi
Persediaan Uranium di Kabupaten Melawi, Kalbar (m.metrotvnews.com)
MELAWI, SP- Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Melawi, Sumarno mengatakan, permasalahan krisis listrik selama ini, menjadi beban bagi para pemimpin di daerah. Pemerintah dianggap tak sanggup menyediakan listrik bagi masyarakatnya.  

“Bila di daerah kami punya uranium dan itu dimanfaatkan untuk masyarakat banyak, kenapa tidak,” tuturnya.  

Uranium yang dimaksud Sumarno adalah  Desa Kalan. Desa ini bukan desa biasa. Daerah ini kaya akan cadangan uranium. Letak di dalam perut, pada sebuah bukit atau berjarak 22 kilometer dari pusat desa. Menjadi ironis bila Kalan kaya akan bahan baku dan memiliki mulut tambang, tapi masih krisis listrik.
 

Data Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), sejak 1972, uranium di Desa Kalan sebenarnya telah dilakukan eksplorasi. Lembaga ini menggandeng lembaga atom asing seperti CEA (Prancis), BGR (Jerman) dan PNC (Jepang).

Lembaga ini mengeruk uranium untuk tujuan penelitian. Warga lokal mengetahui hal itu.
  Sebelumnya, warga sekitar sama sekali tidak pernah tahu bahwa di daerah mereka ada bahan baku untuk bom nuklir.

Aktivitas eksplorasi terkesan tertutup. Di lokasi tambang, sejumlah aparat keamanan berjaga mengamankan lokasi. Baru sekitar tahun 2000, aktivitas itu sudah berhenti. Pengambilan bongkahan batu uranium itu diambil dalam skala kecil.  
“Saya ingat waktu kecil sering mendengar suara gemuruh dari atas bukit,” kenang Juli, pemuda Desa Kalan.  

Para orangtua di desa mulanya percaya dengan hal mitos. Suara gemuruh tadi dianggap ada hantu sedang turun gunung. Para anak kecil bila sudah mendengar suara itu tak boleh ke luar rumah.     

Informasi itu ia diperoleh dari media. Katanya Desa Kalan menyimpan cadangan uranium yang besar. Bahan baku nuklir untuk listrik tenaga nuklir bila dimanfaatkan mampu menghasilkan daya 9 ribu Mega Watt (MW). Uranium itu jika dikeruk akan habis setelah 120 tahun.  

Di Kabupaten Melawi memiliki 149 desa, dari jumlah itu, tersisa 40 persen desa belum teraliri listrik. Selain kaya akan hasil tambang emas dan bauksit, Melawi juga sudah dikepung industri perkebunan sawit.

Di pusat kota, pabrik makanan dan industri rumahan juga menggeliat.   “Tapi itu lah. Listrik PLN di sini sering byarpet. Usaha warung internet saya sulit maju,” kata Mohan, warga Nanga Pinoh, ibukota Kabupaten Melawi.  

Warga desa yang belum teraliri listrik, tentu sangat berharap, uranium sebagai sumber pembangkit listrik tenaga nuklir bisa menerangi warga desa. Tapi energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, menjadi tujuan akhirnya.  

“Ya kalau PLTN masuk ke desa kami, tentu setuju sekali. Kampung kami bisa terang,” kata Ketak, warga Kalan.  

Meski ia tidak tahu model PLTN sendiri seperti apa. Ketak hanya tahu, uranium sebagai bahan baku untuk pembuatan bom nuklir. Ada sedikit khawatir bila teknologi nuklir membawa bencana kemanusiaan.   Tapi firasat buruk itu seakan sirna bila melihat realita yang ada.

Listrik belum masuk desa. Begitu malam tiba, aktivitas warga lumpuh. Warga memilih beristirahat, sebelum melanjutkan aktivitas keesokan hari.
  “Kalau tidak berladang ya menoreh karet,” kata Ketak.  

Ismail adalah pengamat Energi Terbarukan di Kalbar. Ia tahu pengambilan sampel uranium tidak skala kecil, tetapi dalam jumlah besar. “Saya mendapat informasi, mereka angkut menggunakan kapal tongkang. Jadi pertanyaan kita juga, untuk apa sampel diangkut sebanyak itu,” kata Ismail.  

Diketahui, negara seperti Amerika, Prancis, Rusia dan lainnya sudah kerap kali mengutus penelitinya ke Kalan. Anehnya, sampai sekarang hasil penelitian belum pernah dipublikasikan.  

Dorongan Kalbar akan dibangun PLTN datang dari Rektor Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Thamrin Usman. Pada 14 Agustus 2014, Batan dan Untan menjajaki kerjasama pengembangan teknologi nuklir bidang kesehatan. Upaya ini dilakukan untuk memberikan tantangan bagi akademisi dalam pengembangan reaktor nuklir.

“Kita dukung tenaga nuklir tidak hanya untuk listrik, tapi juga untuk kesehatan,” kata Thamrin.

Ia mencontohkan Prancis, USA, Jepang. Sistem negara maju memang mempermudah rakyat untuk tidak setuju terhadap PLTN. Tapi faktor pendidikan rakyat di sana membuat mereka mampu berpikir logis bahwa penggunaan PLTN memiliki banyak keuntungan untuk menopang kesejahteraan mereka.

Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar, Chairil Effendy sependapat. Kehadiran PLTN bisa membuka akses peradaban bagi masyarakat. Dengan listrik mereka bisa membangun kebudayaan dan mengembangkan peradaban mereka sendiri. Rencana pemerintah merealisasikan PLTN di Kalbar, justru mendapat penolakan dari penggiat lingkungan.

Anton misalnya. Direktur Wahana Lingkungan hidup (Walhi) Kalbar ini menyebutkan, banyak negara maju lebih dulu membangun PLTN justru menimbulkan bencana.

Bocornya reaktor nuklir bisa menyebabkan bencana kemanusiaan dan lingkungan di negara tersebut. “Kekhawatiran ini yang tidak kita inginkan di Kalbar,” kata Anton. 

Apalagi selama puluhan tahun, aktivitas eksplorasi dilakukan Batan dianggap tidak transparan kepada masyarakat Kalbar. Selama melakukan eksplorasi, Indonesia ternyata masih mengandalkan teknologi pengayaan dari negara luar. Seperti Prancis misalnya. “Kita sebenarnya tidak menolak PLTN. Tapi masyarakat membutuhkan keterbukaan dari pemerintah. Misalnya untung dan rugi dari keberadaan PLTN itu sendiri,” kata Anton.(loh/lis/sut)