Kapolda Kalbar Kecewa Vonis Bebas Terdakwa Kasus Prostitusi Anak Bawah Umur

Regional

Editor sutan Dibaca : 1347

Kapolda Kalbar Kecewa Vonis Bebas Terdakwa Kasus Prostitusi Anak Bawah Umur
Kapolda Kalbar, Brigjen (Pol) Arief Sulistyanto (kanan) mendampingi dua pelajar membaca buku saat peresmian Taman Bacaan 'Kemala Cinta Indonesia' di Kampung Beting, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (9/5). ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang


PONTIANAK, SP -
Kapolda Kalbar, Brigjen Arief Sulistyanto mengaku kecewa begitu mengetahui kabar vonis bebas, terdakwa kasus prostitusi anak oleh hakim di Pengadilan Pontianak.
Terdakwa, seorang direktur perusahan kelapa sawit inisial SB, PT PAS di Kabupaten Landak, merupakan anak perusahaan Sampoerna. Bisa dibilang putusan ini bertolak-belakang dengan semangat pemerintah, menyatakan kekerasan seksual anak merupakan kejahatan luar biasa.

Kapolda pun meminta penegakan hukum, ke depan bisa membangun komitmen bersama, bagaimana memberikan efek jera kepada mereka, dengan memberikan hukuman yang berat sebagai bentuk efek jera kepada mereka yang melakukan kekerasan seksual kepada anak.

“Anak ini kan generasi penerus bangsa. Mereka harus dilindungi dari kejahatan seksual. Dan pelaku itu harus mendapatkan hukuman,” tutur Kapolda, Minggu (15/5). 

Perlu diketahui, kasus ini bermula pada September 2015. Kala itu,  Sat Ditkrimum Polda Kalbar menggagalkan eksploitasi ekonomi dan seksual anak di bawah umur, yang terjadi pada salah satu hotel di Kota Pontianak.

Korban diketahui berinisial FR, warga Pontianak Selatan yang baru berumur 13 tahun, merupakan siswa SMP di Kota Pontianak. Diketahui, korban dijual oleh sang pacar berinisial KR.

Modusnya, KR mengirimkan foto korban kepada para tersangka MM, dan menanyakan apakah ada tamu yang mencari teman untuk berhubungan seks. Setelah melihat foto itu, kemudian MM mendatangi rumah KR untuk melihat korban secara langsung.

Setelah dari rumah KR, kemudian MM mengirimkan foto korban kepada tersangka SB (tamu) diketahui adalah bos sawit PT PAS. Lalu MM melakukan transaksi harga dengan SB, dan menetapkan harga Rp1,5 juta untuk korban. Merasa harga yang ditawar oleh SB cocok, kemudian MM memberitahukan KR agar membawa korban ke salah satu hotel di Jalan Gajah Mada, pada Jumat 11 September 2015, sekitar pukul 18.00 WIB. Polda kemudian menahan SB. Kemudian kasus ini dilimpahkan ke Kejaksaan.

Wadir Reskrimum Polda Kalbar,  AKBP Supriyadi juga menyampaikan prihatin begitu mengetahui vonis bebas bos sawit di pengadilan. “Informasinya, kejaksaan melakukan kasasi dalam kasus ini. Info lebihnya. Besok kami akan koordinasi dengan pihak kejaksaan,” tutur Supriyadi.


Pemerhati anak Kalbar, Devi Tiomana juga ikut prihatin dengan putusan hakim membebaskan terdakwa kasus perdagangan orang, dengan korban anak bawah umur.  Ia melihat ada yang tidak sinkron antara penegakan hukum di sini.
Misalnya, sering terjadi, di persidangan, korban sering tidak hadir sidang dan hakim kesulitan mendapatkan keterangan dari korban.

Mestinya, kondisi itu tidak menjadi kendala dari hakim, untuk melihat kacamata dari sisi kejahatan dilakukan terdakwa. “Hakim bisa memanggil saksi dan saksi kan sebelumnya disumpah memberikan keterangan yang benar. Itu sebenarnya menjadi dasar hakim untuk vonis,” tutur Devi. (loh/lis/sut)