Karyawan PT Adau Agro Kalbar Jadi Korban Salah Tembak

Regional

Editor sutan Dibaca : 1724

Karyawan PT Adau Agro Kalbar Jadi Korban Salah Tembak
Deni, korban salah tembak. (suara pemred/ eko susilo)
NANGA PINOH, SP – Kasus salah tembak kembali terjadi di wilayah Kota Baru, Kecamatan Tanah Pinoh, Kabupaten Melawi. Kejadian nahas kali ini menimpa Deni (35), seorang karyawan perkebunan sawit, PT Adau Agro Kalbar.

Korban saat itu sedang memancing bersama sejumlah rekannya, tertembak peluru dari senapan rakitan jenis lantak,  yang ditembakkan secara tidak sengaja oleh Nehimia Maertabat, Jumat (13/5) sekitar pukul 15.30 WIB.
Akibat peristiwa itu, Deni mengalami luka parah di perut sebelah kiri. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit Nanga Pinoh untuk mendapatkan pertolongan medis.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Melawi, AKP Siswadi menerangkan kronologi kejadian ketika pelaku, Nehermia Maertabat ditemani menantunya bernama Marjan sedang memburu hewan babi hutan. Sesaat berada di daerah Tapang Kuning, Marjan menunggu hewan buruan dari atas pohon dengan menggunakan senapan angin.

Sedangkan Nehermia menyusuri area perburuan hingga ke dalam.  Tak lama berselang, dari kejauhan terlihat hewan buruan dan kontak dibidiknya. Namun nahas, peluru senapannya salah sasaran tidak mengenai target.

 Justru menyasar ke tubuh Deni. “Melihat korban tertembak, Nehermia langsung bergegas menolong dan meminta bantuan. Kami sedang tangani kasus ini, pelaku juga langsung menyerahkan diri ke polsek terdekat,” ujarnya. Menurut Siswadi, kejadian tersebut menambah panjang daftar kasus salah tembak di Melawi.

Peristiwa kali ini, merupakan yang kedua kalinya terjadi dalam rentang waktu sebulan terakhir. “Kalau yang bulan lalu, korban dan pelakunya sama-sama meningggal, karena korban meninggal setelah dirawat di rumah sakit, sementara pelaku salah tembak meninggal karena bunuh diri,” katanya.


Akibat perbuatannya, Nehermia dijerat Undang-undang Darurat terkait kepemilikan serta penyalahgunaan senjata api, serta pasal 359 KUHP yakni kelalaian yang menyebabkan orang lain terluka. “Hanya nanti pengenaan pasal 359 masih menunggu kondisi dari korban. Kalau nantinya meninggal, maka ancamannya bisa lebih berat,” tegasnya.

Dia menilai, senjata api jenis ini memang masih sering digunakan saat berburu. Berkaca dari dua kasus tersebut, pihaknya mewacanakan untuk menggelar razia kepemilikan senjata api.  “Kalau pun masih ada warga yang memiliki senjata api, kita harapkan agar senjata tersebut dapat diserahkan langsung ke aparat,” pesannya.

Warga Diminta Serahkan Senpi


Kasus salah tembak saat berburu memang kerap terjadi. Sehingga membutuhkan perhatian serius dari aparat kepolisian dan pemerintah desa untuk menindaklanjutinya. 
“Pada April lalu, juga terjadi aksi serupa di Kecamatan Tanah Pinoh. Dan sekarang terjadi lagi. Itu artinya, kepemilikan senjata rakitan jenis lantak masih cukup tinggi,” ungkap Ketua MPC Pemuda Pancasila Melawi, M Abdurahman.

  
Dia berharap kepolisian bersama pemerintah desa dapat segera mendata kepemilikan senjata rakitan. Agar kasus serupa tidak kembali terjadi. Namun demikian, dia meminta aparat agar rutin mensosialisasikan kepada warga terkait bahaya kepemilikan senjata tersebut dalam perspektif hukum.
“Saya rasa, warga mau menyerahkan senjata rakitan, jika ada pihak yang memfasilitasinya. Karena dalam aturan juga jelas, hukuman kepemilikan senpi ilegal bisa dipidana 10 tahun penjara,” katanya. (eko/and/sut)