Diduga Kurang Waras, Seorang Anak Tega Bunuh Ibu Kandung

Regional

Editor sutan Dibaca : 1206

Diduga Kurang Waras,  Seorang Anak Tega Bunuh Ibu Kandung
ILUSTRASI- TEWAS (republika.co.id)
SANGGAU, SP - Kadri (27), warga Dusun Tapang Sebuloh, Desa Malenggang, Kecamatan Sekayam ini, tega membunuh ibu kandung sendiri, Piyala (60) hingga tewas.

Kejadian tersebut berlangsung Rabu (15/6) sekitar pukul 11.30 WIB. Saat ini tersangka sudah ditahan. Sayang belum
disebutkan lokasi penahanan dari pihak kepolisian. 


 Bahkan, Kapolres Sanggau, AKBP Donny Charles Go belum bisa memberikan informasi mendalam soal kejadian ini.
  Ia hanya bisa menjelaskan kronologis kejadian yakni, sebelum membunuh ibu kandungnya, saksi mata JT, korban dan tersangka sempat makan bersama dan setelah makan korban mencuci piring di dapur.

Saat mencuci piring itulah, terdengar bunyi pukulan sebanyak dua kali dari arah dapur. “Kemudian, saksi mata, JT mendatangi arah suara tersebut dan melihat korban sudah tersungkur dengan kondisi kepala dihantam senjata tajam dan korban sudah mengeluarkan darah," kata Kapolres, Kamis (16/6).

Setelah itu, tersangka langsung lari dari dapur sambil membawa kampak ke arah hutan. Melihat kejadian itu  saksi mata kemudian meminta tolong ke tetangga sekitar rumah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Untuk tindakan yang diambil, mendatangi TKP, mencatat saksi, melakukan olah TKP, memeriksa korban. Untuk sekarang tersangka sudah diamankan," jelasnya.
 

Ketika dimintai keterangan lebih lanjut dari KBO Reskrim Polres Sanggau, dirinya mengakui belum mendapatkan data tersebut dari Kapolsek Sekayam.  

Meski kejadian ini terjadi pada Rabu (15/6), namun awak media baru mendapatkan informasinya pada Kamis, (16/6). Itu pun informasi tersebut diperoleh dari  warga. Kepala Desa Malenggang Kecamatan Sekayam, Johan mengatakan bahwa, tersangka memiliki riwayat kurang waras. Tersangka pernah di rawat di rumah sakit jiwa di Singkawang.


 "Sempat dirawat di rumah sakit jiwa di Singkawang sekitar setengah tahun lamanya,” tutur Johan.
 

Selama mendapat perawatan, pihak rumah sakit menyatakan tersangka sudah baik dan diperbolehkan pulang pulang ke rumah. Anehnya, begitu sampai di kampung halaman, penyakit tersangka kambuh lagi.   Bahkan pihak keluarga belum lama ini membuat surat  pernyataan yang ditembuskan ke Kades.

Pihak keluarga mengatakan, tidak sanggup menjaganya dan ingin diserahkan ke pemerintah.   "Kita hanya mengeluarkan rekomendasi saja. Karena apa, orang kampung pun takut sebab sudah gila keras juga, main kasar,” ujarnya.  

Setelah membuat surat rekomendasi itu, dibawalah anak tersebut ke rumah sakit lagi. Namun, setelah di tes pihak rumah sakit, hasilnya bukan gila. Akhirnya dibawa kembali lagi.   Kejadian seperti ini bukan untuk pertama kalinya. Pernah juga kejadian anak ini memukul ayahnya dengan benda tajam, namun tidak sampai mati. Masih dapat diselamatkan.

"Sebelumnya dari informasi yang kita dapat, bahwa bahasa yang dilontarkan tersangka ini sejenis ancaman. Namun tidak pada ibunya melainkan bapaknya, Abang dan Kakaknya. Ibunya tidak pernah," jelas Johan.
 

Makanya, aneh juga rasanya, selama ini ibunya tidak pernah dapat ancaman. ”Sekarang justru ibunya yang menjadi korban kebiadaban anaknya,” tutur Johan.

Ia menduga, motif pembunuhan ini dicurigai memang berlatar belakang kurang waras. "Kecurigaan kita untuk sementara tidak ada tekanan batin dari anak ini, melainkan memang karena kurang waras sehingga tega membunuh orangtuanya sendiri," ujarnya.

Kabar itu juga sampai ke Bupati Sanggau, Paulus Hadi. Ia mengatakan, peristiwa itu merupakan fenomena yang menakutkan. Bupati meminta masyarakat harus peka terhadap lingkungan.   "Kita semakin harus peka terhadap lingkungan dan keluarga. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi," ujarnya.  

Seperti apa yang telah dilakukannya hari ini, Bupati minta para tokoh agama, masyarakat dan tokoh adat, agar  peduli terhadap masalah-masalah masyarakat seperti narkoba, kekerasan dan lain sebagainya.
 

"Tadi siang kita mengadakan pertemuan di Gedung Pertemuan Umum (GPU) dalam acara Beraump Bekudong, di situ kita minta agar masyarakat peduli terhadap masalah yang ada di lingkungan mereka. Semua itu dilakukan agar hal-hal yang tak diinginkan tak terjadi," kata Hadi. (pul/loh/sut)