Polresta Pontianak Ragu Tetapkan DP, Oknum Dosen Jadi Tersangka

Regional

Editor sutan Dibaca : 1431

Polresta Pontianak Ragu Tetapkan DP, Oknum Dosen Jadi Tersangka
Kapolresta Pontianak AKBP Iwan Imam Susilo saat merilis kejahatan judi togel beberapa waktu lalu. (SUARA PEMRED/ YODI)
PONTIANAK, SP - Polresta Pontianak ada kesan masih ragu menetapkan status tersangka dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura (Untan) berinsial DP.  Padahal, Rabu (22/6), beredar kabar dari kalangan jurnalis, bahwa Penyidik Polresta akan memanggil DP dan menetapkannya sebagai tersangka. Kabar tersebut ternyata tidak terbukti. Jurnalis yang sudah menunggu sedari pagi, tidak mendapatkan kepastian itu.

Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Andi Yul Lapawesean tidak banyak komentar. “Kita lihat besok ya perkembangannya,” tutur Andi, Rabu (22/6).

Begitu pun dengan Kapolda Kalbar, Brigjen Musyafak. “Saya menyerahkan sepenuhnya pada penyidik,” ujar Kapolda kepada Suara Pemred, saat ditemui selepas Rakor di Mapolda Kalbar.
Ia meminta masyarakat menunggu proses penyidikan lebih lanjut.  

Ketua Komisi V DPRD Kalbar, Markus Amid mengatakan, jika oknum dosen di Untan memang sudah dinyatakan sebagai tersangka atas dugaan pelecahan seksual, maka apa pun harus menjunjung asa praduga tak bersalah terlebih dulu. “Karena harus ada pembuktian di pengadilan. Perlu lebih arif dalam menyikapi persoalan ini,” ujarnya kepada Suara Pemred, Rabu (22/6).

Amid melanjutkan, saat memang sudah terbukti bersalah, maka oknum dosen tersebut mesti ditindak tegas. Baik itu oleh penegakan hukum, maupun pihak kampus sendiri. “Harus tegas kalau nantinya terbukti. Ada syok terapi, supaya jangan sampai terulang kembali,“ ucap dewan yang membidangi pendidikan di DPRD Kalbar ini.

Sanksi Tegas
Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Komisariat Fisipol Untan, Dwi Agus (26) mengaku prihatin dengan kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh oknum dosen DP.
  Menurutnya, kasus ini harus segera diselesaikan hingga tuntas, sehingga tidak menimbulkan opini publik dan merusak citra dosen sebagai tenaga didik.

"Kita minta penegak hukum segera mengusut tuntas kasus ini, jangan sampai terkesan tebang pilih, siapa pun dia kalau melanggar hukum, harus diberi sanksi," tegasnya.

Apalagi memang DP bersalah, dirinya tidak hanya meminta penegak hukum menindak tegas pelaku. Tetapi juga meminta pihak universitas tidak tutup mata dan memberi sanksi kepada pelaku. Agar dapat menjadi efek jera bagi dosen lainnya supaya tidak melakukan hal menyimpang.

"Kalau terbukti bersalah tak hanya hukuman pidana, sanksi berupa pemecatan harus diberikan pihak Untan,” ujarnya.
  Tapi semua itu harus melalui proses hukum dahulu. Karenanya, ia minta kasus ini segera dituntaskan, agar masyarakat mengetahui siapa benar dan siapa salah.  

Masyarakat Cerdas

Direktur Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN), Devi Tiomana akan terus menunggu dan melihat, berapa lama waktu yang ingin dimainkan pihak kepolisian dalam menangani kasus DP.
  “Karena saya pikir masyarakat sudah cerdas, menilai kinerja kepolisian dalam penanganan kasus DP,” tutur Devi.  

Kendati sejauh ini polisi berdalih  penanganannya telah sesuai prosedur, tetapi kesan diskriminatif atas penanganan kasus ini sudah terlihat dari awal.
  “Makanya, kami sendiri sangat sulit untuk mempercayai semua dalil yang diberikan,” tutur Devi.  
Pasalnya, semua klaim disampaikan polisi sangat sulit untuk diterima. “Apalagi keluarga korban yang menginginkan status hukum harus jelas,” kata Devi.  

Seperti telah diberitakan sebelumnya di Suara Pemred, DP diduga melakukan pencabulan terhadap siswi magang bernama VS di tempat kursusnya, Patria Education, Jum’at (20/5).  

Didampingi pihak sekolah dan Devi Tiomana dari YNDN, korban sudah melaporkan peristiwa itu pada pihak kepolisian, Selasa (31/6).   Polisi sudah memeriksa korban dan melakukan visum. Juga sudah memeriksa saksi-saksi dari teman korban dan pekerja di Patria Education.

Pada Kamis (16/6), polisi sudah mendapatkan visum yang sudah ditandatangani pihak dokter. 
  Tak hanya di situ, polisi pun sudah memeriksa DP di Polresta, Senin (13/6). Polisi juga sudah melakukan prarekonstruksi terhadap korban, Senin (20/6), bagaimana peristiwa tersebut terjadi menurut fersi korban. (del/umr/yod/bls/loh/lis)