Langganan SP 2

MABBT Rumuskan 11 Kesepakatan Upacara Perkawinan Adat

Regional

Editor sutan Dibaca : 885

MABBT Rumuskan 11 Kesepakatan Upacara Perkawinan Adat
Sarasehan Perkawinan Adat Batak Toba dalam rangka efisiensi digelar dia Aula Sopo Godang Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Jalan Pulau We, Pontianak, Selasa, (5/7) lalu. (ist)
PONTIANAK, SP - Sejak berdiri dan terbentuk pada tanggal 17 Juli 2015 tahun lalu, Majelis Adat Budaya Batak Toba (MABBT), sebagai penerus organisasi sebelumnya yaitu Ikatan Masyarakat Dalihan Natolu (IKMAS DNT), terus berusaha mengaktualisasikan visi, misi dan tujuan MABBT.

Satu di antaranya dengan menggelar sarasehan atau diskusi Perkawinan Adat Batak Toba dalam rangka efisiensi.
Sarasehan Perkawinan Adat Batak Toba dalam rangka efisiensi digelar dia Aula Sopo Godang Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Jalan Pulau We, Pontianak, Selasa, (5/7) lalu.

32 kumpulan marga, delapan  orang pemikir MABBT ditambah dengan penasehat dan undangan perorangan yang dituakan hadir dalam perhelatan besar itu.

Penasehat Majelis MABBT, St. P.T.M. Panggabean mengatakan, Sarasehan Perkawinan Adat Batak Toba dalam rangka efisiensi waktu perlu didahulukan.

Hal ini bertujuan agar seluruh masyarakat Batak Toba memiliki kesatuan pola atau persepsi dalam upacara adat perkawinan.
Selain itu, agar eksistensinya dapat dilihat dan dirasakan oleh etnik atau kaum lain, yaitu kesatuan dan persatuan dalam sosial politik dan budaya dimana kita berdomisili.

“Melalui sarasehan atau diskusi, diharapkan MABBT dapat memfasilitasi atau memberikan kemudahan-kemudahan dalam kesederhanaan prosesi pelaksanaan adat, tanpa mengurangi makna adat sesuai daerah asal masing-masing, namun tidak membosankan karena waktu pelaksanaan yang tidak efisien dan tetap berpegang kepada amanat dan nasihat para leluhur atau pendahulu untuk tetap dipertahankan dan dilestarikan,” katanya. 

Diskusi berjalan dalam keakraban kekeluargaan dan berlangsung sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan.Kesepakatan dalam diskusi dirumuskan melalui tim pemikir MABBT.

Ada sebelas rumusan keputusan yang dihasilkan dalam sarasehan tersebut, yakni pertama, Ulos Namarhusor manang Nataripar (Ulos tambahan pelengkap yang diberikan kepada beberapa keluarga), jangan lagi diadakan di acara pesta (Unjuk), tetapi dilaksanakan di rumah keluarga pengantin pria.

Kedua, Ulos Herbang Namarhadohoan (Ulos utama sebagai simbol terikatnya kekeluargaan akibat perkawinan), disepakati jumlah maksimumnya 21 helai, termasuk Suhi ni Ampang Naopat (Ulos yang diselimutkan kepada kedua pengantin, orangtua, saudara laki-laki orangtua dan saudara perempuan orangtua pengantin pria).

Ketiga, Ulos Holong (Ulos simbol kasih dari keluarga pengantin wanita kepada kedua pengantin) dari Sisolhot, Hula-hula, Tulang dan Semarga pengantin wanita. Hanya kerabat terdekat yang menyelimutkan Ulos, anggota rombongan sebaiknya memberikan pengganti ulos berupa uang.


Keempat, Napasahat Ulos dohot Namanjalo Ulos (pemberi Ulos dan penerima Ulos) sesuai daftar yang sudah ada pada kedua Suhut (orangtua pengantin) agar memposisikan diri dekat ke tempat prosesi acara. Agar dapat berlangsung dengan teratur dan efisien.

Kelima, Namanomu-nomu anang manjalo haroron Hula-hula dohot Tulang (menyambut kehadiran Hula-hula dan Tulang) agar dibatasi dari segi jumlah, yaitu sebanyak lima pasang. Keenam, Panandaion (perkenalan famili baru) dibatasi hanya pada keluarga terdekat pihak pengantin wanita yang datang dari kampung halaman atau daerah jauh.
Ketujuh, Manjalo Tumpak (menyambut dan menerima restu dan pemberian dari undangan). Barisan yang berdiri di podium yaitu pihak pengantin pria, dibatasi sekitar lima pasang mengapit kedua mempelai.

Kedelapan, Raja Parhata atau Parsinabung (pemandu acara) prosesi adat diharapkan berlangsung dengan tertib dan terhormat. Untuk itu, Raja Parhata harus dapat menjaga efisiensi waktu, tutur kata dan kesiapan tenaga-tenaga pendukung, yaitu Boru, Bere dan Ibebere (anak perempuan dan keponakan Suhut).

Kesembilan, Hata Sigabe-gabe (petuah dan nasehat kepada kedua pengantin) agar disampaikan bersamaan dengan pemberian Ulos Holong, namun tetap harus mengingat efisiensi waktu.
Kesepuluh, Paulak Une (bagian terakhir dari rangkaian prosesi adat perkawinan). Kalau Unjuk Ulaon sadari, kita laksanakan sebagai mana biasa namun tetap harus menjaga efisiensi waktu. Dan terakhir, Naposo Bulung (orang-orang muda).

Semua di Punguan Marga agar menghimbau orang-orang muda agar memberikan perhatian mengikuti prosesi adat-adat Batak Toba. Orang-orang muda harus diundang menghadiri sarasehan, karena merekalah yang akan memegang tongkat estafet sebagai generasi penerus melestarikan adat budaya Batak Toba.


Wakil Ketua I MABBT, Letkol (Purn) J.M. Pangaribuan mengatakan, Sarasehan Perkawinan Adat Batak Toba diadakan karena pelaksanaan adat perkawinan (Unjuk) selama ini sudah perlu diadakan kesepakatan bersama agar dapat dilaksanakan dengan efisien, praktis tanpa mengurangi makna adat istiadat itu sendiri.

Dia juga menjelaskan, keberadaan MABBT bukan untuk untuk menyaingi organisasi Kerukunan Masyarakat Batak (KERABAT). Kedua organisasi dikatakannya tidak bersaing atau dualisme dalam masyarakat adat Batak Toba.

 “Perlu kita ingat bahwa KERABAT beranggotakan Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Mandailing, Fakfak dan Nias. Keseluruhan anggota telah membentuk majelis masing-masing terlebih dahulu, sementara Batak Toba belakangan membentuk Majelis Adat Budaya Batak Toba (MABBT),” katanya.

Meski memang sampai saat ini, MABBT belum didaftarkan sebagai anggota KERABAT, namun akan tiba waktunya para pengurus MABBT akan mendaftarkannya sebagai organisasi. (*/ind/sut)