BMKG Siantan: Panas Akibat Gangguan Pola Cuaca

Regional

Editor sutan Dibaca : 1092

BMKG Siantan: Panas  Akibat Gangguan Pola Cuaca
ILUSTRASI (suaramerdeka.com)
PONTIANAK, SP – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siantan, Wandayantolis mengatakan, minimnya curah hujan dan cuaca panas dalam beberapa pekan terakhir di Pontianak, Kalbar, terjadi akibat adanya gangguan pola cuaca di bagian utara Kalimantan.

Cuaca panas yang terjadi masih akan terjadi hingga beberapa pekan ke depan.
"Kondisi cuaca di Kalbar yang kekurangan hujan sejak 15 hari terakhir terjadi karena ada gangguan pola cuaca di utara. Seluruh uap air yang ada di wilayah Indonesia yang melintas di wilayah Kalimantan disedot dan dibawa ke utara, sehingga sehingga udara menjadi kering dan curah hujan berkurang," ungkap Wandayantolis, Rabu (13/7).

Kendati memang secara umum curah hujan menurun sejak bulan Juni 2016, namun dia mengungkapkan saat ini belum memasuki musim kemarau. Jika tidak ada gangguan cuaca tersebut, potensi hujan masih akan tetap terjadi, walau dengan intensitas kecil. "Memang secara umum kita seharusnya fase curah hujan menurun sejak Juni, sebab bagian selatan akan mengalami musim kemarau. Tetapi walaupun curah hujan menurun, tetap masih ada hujan lebih dari 50 milimeter. Namun karena ada gangguan cuaca di utara, hujan 50 milimeter ini hilang dibawa ke utara," jelasnya.

Akibat hal ini, cuaca panas antara 32 sampai 35 derajat Celsius dan merata terjadi pada beberapa daerah di Kalbar. Wandayantolis memperkirakan, gangguan pola cuaca ini tidak akan berlangsung lama. Potensi hujan akan kembali ada pada akhir Juli atau memasuki bulan Agustus, lantaran telah mendapat pasokan uap air dari Samudera Pasifik, seiring masuknya La Nina di wilayah Indonesia.

“Jika gangguan pola cuaca ini berakhir, maka panasnya juga akan berkurang dan hujan akan kembali. Prediksi kami, di akhir Juli, wilayah kita akan kembali mendapat hujan karena akan ada pasokan uap air dari pasifik, seiring masuknya La Nina di wilayah Indonesia. La Nina meyebabkan hujan turun lebih banyak di Samudera Pasifik sebelah barat Australia dan Indonesia," ungkapnya.

Wandayantolis menambahkan, keringnya udara juga menjadi penyebab munculnya sejumlah titik api di beberapa wilayah Kalbar belakangan ini. "Nah munculnya titik api sejak 10 Juli sampai kemarin, karena memang udara sangat kering. Namun atas kerjasama berbagai pihak, titik api berhasil dipadamkan,” katanya.

Dari update satelit Modis Rabu (13/7) pagi, jumlah titik api terpantau hanya satu dan itu pun dengan tingkat kepercayaan 66 persen.
"Jadi usaha yang dilakukan stakeholder untuk memadamkan api, cukup membuahkan hasil," ucapnya.

Tak hanya cuaca panas, Kota Pontianak dalam beberapa hari terakhir juga mulai diselumuti kabut asap. Hujan dengan intensitas rendah yang turun dua kali pada Selasa (12/7) kemarin, dapat mengurangi kabut tersebut. Hingga saat ini, kondisi udara Kota Pontianak dipastikan masih aman.

“Untuk saat ini Kota Pontianak masih aman, udaranya masih bersih,” kata Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, Rabu (13/7).

Kabut asap memang jadi “hadiah” tahunan bagi Kota Pontianak di musim kemarau. Asap kiriman dari kabupaten/kota lain menyelimuti kota ini, mengganggu aktivitas serta kesehatan warga kota, seperti yang terjadi tahun 2015 lalu. Edi menjelaskan, musim kemarau kerap dimanfaatkan masyarakat untuk membersihkan lahan dengan cara membakar.

Pada Juli ini, meski sempat dijumpai beberapa titik api, namun semua bisa dipadamkan dengan cepat. Titik-titik api itu sebagian besar berada di lahan gambut. “Asap itu 99 persen penyebabnya karena manusia. Kita harus waspada,” tekannya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pontianak, Multi Junto menerangkan, dari hasil laporan BMKG Siantan, kondisi udara di Pontianak dalam taraf yang baik. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berada satu level di atas sehat. “Untuk alat ISPU masih dalam perbaikan.

Kondisinya juga sudah tua, jadi yang memperbaiki pun orang pusat, bahkan kadang sampai dikirim ke Singapura. Tapi kita selalu mengambil data tiap hari dari BMKG Siantan,” jawabnya ketika ditanya perihal alat ISPU milik BLH Kota Pontianak yang rusak sejak tahun lalu. Junto mengingatkan, cuaca kering dan masuknya musim kemarau mesti jadi perhatian semua pihak. Masyarakat diminta menghemat penggunaan air.

Efisiensi penggunaan air penting untuk dilakukan mengingat persediaan air semakin terbatas. “Selain itu jangan sampai membakar lahan. Sebetulnya kondisi lahan di Pontianak tidak ada yang luas, meski ada beberapa daerah gambut yang rawan terbakar. Asap adalah kiriman dari luar Pontianak,” pintanya.

Dirinya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Karena musim kemarau kerap dibarengi dengan peningkatan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare.

Kebakaran Hutan dan Lahan


Sejak awal Januari hingga Juli 2016 ini, sedikitnya sudah terjadi tiga kali kebakaran lahan di wilayah Kota Pontianak. Jika dilihat jumlahnya, angka itu menunjukkan penurunan signifikan. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, pada tahun 2014 terjadi 60 kasus kebakaran lahan.

Sementara di 2015, angkanya berkurang 50 persen menjadi 30 kasus. Kepala BPBD Pontianak, Aswin Taufik menerangkan, tiga angka itu terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Ikhwalnya adalah pembukaan lahan yang dilakukan oleh petani.

Namun, areal yang terbakar tidak meluas, sebab berhasil dipadamkan lebih dulu sebelum sampai di pemukiman warga. “Beda dengan tahun kemarin, tahun ini kita lebih siap, dan fokus pada pencegahan. Di Pontianak, paling rawan di daerah tenggara, selatan dan utara,” jelasnya.

Tahun ini pihaknya bekerja sama dengan kepolisan dan TNI serta masyarakat, membentuk satuan tugas (Satgas) pemadam di pemukiman warga. Mereka bertugas memantau dan melakukan tindakan pertama jika ada kasus kebakaran lahan. Selain itu, para satgas dan warga kini lebih rutin membersihkan parit.

Tak hanya sebagai sumber air tapi juga pagar api. “Karena pengalaman dari tahun sebelumnya, titik rawan, bagaimana cara penanggulangan sudah diketahui, dulu masyarakat hanya mengandalkan kita, sekarang mereka sudah paham caranya karena telah diedukasi,” tambahnya.

Dalam waktu dekat, guna antisipasi memasuki musim kemarau, pihaknya akan segera memasang baliho peringatan di titik-titik rawan terbakar yang sebagian besar lahan gambut. Baliho peringatan itu dikatakannya sebagian besar berisikan pesan bagaimana manusia harmoni dengan alam.

“Jika ingin melakukan pembukaan lahan, bisa berkoordinasi dengan kita,” singkatnya.

Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Polda Kalbar, Kombes Pol Suhadi SW, mengingatkan masyarakat untuk tidak sengaja melakukan pembakaranyang dapat mengakibatkan kebakaran.

Jika diketahui masyarakat sengaja melakukan pembakaran, maka pihaknya tidak akan segan-segan untuk menindak dan memproses hukum. "Upaya penindakan tegas terus dilakukan kepolisian kepada pelaku pembakaran lahan yang dilakukan secara disengaja, sesuai dengan aturan yang berlaku. Polisi tidak akan mengistimewakan korporasi ketimbang perorangan dalam penegakan hukum," kata Suhadi.

Di tahun 2016 ini, Polda Kalbar bersama BKSDA dan TNI sudah bersepakat untuk menurunkan angka karhutla, yang dibuktikan menurunnya titik api dan jumlah lahan yang dibakar. "Untuk itu telah disiagakan patroli desa siaga api  berjumlah 1.633 peleton yang tersebar di 1.977 desa seluruh Kalbar," terangnya.

Polda Kalbar mencatat, sejak Janurai hingga Juli 2016, ada sebanyak 43 titik api yang tersebar di kabupaten/kota di Kalbar, yang terpantau melalui satelit.   "Kalau dibandingkan dengan bulan yang sama, jumlah titik api yang terpantau jauh lebih rendah, yakni sebanyak 373 titik api di tahun 2015, dan 43 titik di tahun 2016," kata Suhadi.

Suhadi menambahkan, hingga tanggal 12 Juli 2016, jumlah lahan yang terbakar sudah sekitar 93 hektare, yang terdiri di Ulak-ulak Kubu seluas 30 hektare, Dusun Sidomulyo tujuh hektare, Kuala Mandor B sebanyak dua hektare, yang semunya di wilayah Kabupaten Kubu Raya, kemudian ada juga di wilayah Kabupaten Ketapang, Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu.(bls/ang/ind/sut)
 

Komentar