Saksi Kasus Dugaan Cabul Kena Teror

Regional

Editor sutan Dibaca : 1209

Saksi Kasus Dugaan Cabul  Kena Teror
ILUSTRASI (suaramerdeka.com)
PONTIANAK, SP – Kasus pencabulan yang melibatkan Dian Patria (DP), dosen di Untan, terhadap siswi SMKN Pontianak, VA (16), hingga saat ini dinilai belum ada perkembangan. Meski, Patria sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak 30 Mei 2016. Bukannya mengembangkan kasus pencabulan, polisi malah berusaha menjerat Ridwan, saksi kunci yang melihat peristiwa tersebut.

Kini, Ridwan dijerat kasus penggelapan uang dan bisa menjadi tersangka.
  Ridwan (25) sama sekali tidak menyangka. Menjadi orang jujur dan berani menegakkan keadilan itu, ternyata penuh risiko. Skenario kriminalisasi itu tak membuat Ridwan gentar. “Kalau saya cabut laporan, ceritanya akan beda,” tutur Ridwan, Jumat (19/8).  

Ridwan merupakan karyawan Patria Education (PE) di Jalan Sepakat, Pontianak Tenggara, Kota Pontianak. PE suatu lembaga pendidikan non formal milik DP. Ridwan bisa dibilang sangat loyal kepada DP. Selama tujuh tahun bekerja di Patria Education (PE), Ridwan sama sekali tidak pernah mendapat gaji.

Sebelum kasus pencabulan itu mencuat, Ridwan bisa dibilang anak emas DP.   Ia tidak habis pikir, kenapa malah dituduh menggelapkan uang. Uniknya, dia mendapat panggilan dari polisi, justru dari Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN). “Laporannya sebulan lalu baru saya terima,” tuturnya.  

Sering Diteror


Sehari setelah Ridwan, Hary dan Firman menjadi saksi, dan kesaksiannya dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polresta Pontianak, ketiganya langsung mendapat teror. Ridwan misalnya, sejak menjadi saksi, ada sekitar 15 nomor asing menelepon dan muncul di telepon genggam miliknya. “Karena nomor asing, tidak saya angkat,” ujarnya.
 

Bentuk teror lain, pernah suatu hari, Ridwan ditelepon dengan nomor suatu kantor. Ridwan mengira, panggilan itu dari kantor tempat, dimana ia melamar kerja.

Begitu diangkat, nomor tersebut hendak mengirimkan parcel ke rumahnya, tapi menyebutkan status dari si pengirim.
  “Seumur hidup saya, tidak pernah menerima parcel. Tapi kali ini kok ada perusahaan mau kirimkan ke saya,” tuturnya.  
Terakhir, Ridwan pernah mengangkat telepon dari nomor asing. Saat diangkat, terdengar suara perempuan. Mirisnya lagi, si perempuan tersebut mengajak Ridwan bersetubuh.      

Awal Kasus


Ridwan sudah beberapa kali dipanggil pihak penyidik Polresta Pontianak untuk dimintai keterangan, atas dugaan penggelapan uang sewa kios sebesar Rp 3 juta dari total Rp 8 juta yang diterimanya dari Herwansyah, penyewa kios dan Pelapor.   Dia diminta datang ke Polresta, Selasa, 9 Agustus 2016 untuk dimintai keterangan tambahan.

 Sebelumnya, dia juga sudah dipanggil, Selasa, 19 Juli 2016.   Ridwan menerangkan, dirinya sama sekali tidak berniat menggelapkan uang tersebut.

Buktinya, beberapa kali uang itu akan dikembalikan. Namun, pemilik kios yang tidak lain adalah DP, tidak menanggapi.
  "Pertama saya SMS Pak Dian untuk mengembalikan uang 3 juta tersebut, tapi tidak ada respon dari dia. Yang kedua, saya ingin mengembalikan uang (secara) tunai kepada Herwansyah selaku penyewa kios, tapi dia menolak. Karena kata Herwansyah, Pak Dian pernah ngomong jika Ridwan mau ngasih uang, jangan terima," terang Ridwan.  

Ridwan mengatakan, uang Rp 3 juta digunakan untuk pembayaran biaya pendaftaran peserta Toefl ITP di Lembaga PE. Peserta test Toefl minta biaya test di PE dikembalikan. Karena tak ada uang, Ridwan menggunakan uang itu untuk mengganti.
 

“Pak Dian sendiri angkat tangan, dan tidak mau bertanggungjawab. Dia menganggap saya yang salah. Padahal, selaku pimpinan Patria Education, mestinya dia yang bertanggungjawab," katanya.
 

Terkait dengan laporan Herwansyah, Ridwan menyebut ada kejanggalan. Pasalnya, uang yang diterima dari Herwansyah itu pembayaran lunas sewa kios, dan urusan sewa menyewa sudah selesai. “Mestinya, jika ingin melapor, maka DP lah yang tepat menjadi Pelapor lantaran uang itu miliknya,” kata Ridwan.
 

Ridwan menduga, laporan tersebut terindikasikan rasa tidak senang pihak DP. Sebab, saat ini dirinya merupakan salah satu saksi dugaan pencabulan dengan tersangka DP.
  "Sangat ada sangkut pautnya, sebab saya sebagai saksi utama yang mengetahui kejadian dugaan tindak kekerasan seksual di Lembaga Patria Education. Dan sekarang Pak Dian sudah ditetapkan sebagai tersangka," katanya.  

Surat Damai


Setelah melaporkan Ridwan ke Polresta, Rabu (20/7), Herwansyah sepakat menyelesaikan permasalah secara kekeluargaan, dan mencabut laporan tuduhan penggelapan uang sewa kios.   Herwansyah menyanggupi datang ke kantor YNDN, Jalan Ampera, Pontianak Kota.

Di tempat ini, Herwansyah dan Ridwan, keduanya sepakat membuat surat damai.  “Kita damai saja. Malu uang Rp 3 juta harus sampai ke pengadilan,” tutur Ridwan, menirukan perkataan Herwansyah.
 

Di kantor YNDN, Ridwan menyerahkan uang Rp 3 juta kepada Herwansyah. Uang itu ditaruh di atas meja. Tapi Herwansyah menolak dan menyarankan Ridwan menyerahkan langsung ke DP. Keesokan harinya, dua pihak bertemu di Mapolresta. Herwansyah siap mencabut laporan penggelapan.  

Di Mapolresta, Ridwan datang didampingi Hendrik, kominioner KPAID Kalbar. Sedangkan Herwansyah datang sendirian.   Kedatangan mereka bertiga disambut oleh Isa. Informasinya, Isa  adalah penyidik di Mapolresta Pontianak. Isa mengetahui kedatangan mereka hendak mencabut laporan, kemudian masuk ke ruangan.  

Tak lama berselang, telepon genggam Herwansyah berdering. Dia berbicara lama dengan orang yang meneleponnya. Di tempat yang sama, sekitar tiga orang lelaki bertubuh tinggi tegap dan bertato datang. Kehadiran tiga orang ini, membuat Herwansyah langsung kabur. Ia tidak jadi mencabut laporan.
 

“Tidak usah ganggu saya lagi,” kata Herwansyah kepada Ridwan.   Sejak itu, Herwansyah tidak pernah datang lagi ke Mapolresta Pontianak.

Ridwan pun putus kontak dengannya.
  Namun, Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Andi Yul , membantah tudingan adanya upaya kriminalisasi terhadap Ridwan. Ditegaskannya, kepolisian tidak akan menolak jika mendapat pengaduan dari masyarakat. Jika pengaduan itu masuk dalam unsur pidana, maka harus ditingkatkan menjadi laporan kepolisian untuk dilakukan penyidikan.

“Namun, sementara ini perkara dugaan penggelapan Ridwan itu masih sedang diproses. Artinya, belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka,” terangnya kepada Suara Pemred, Jumat (19/8).
 

Berkas Dikembalikan


Kompol Andi Yul menerangkan, berkas perkara kasus DP, sekarang sudah dikembalikan oleh Jaksa Penuntut Umum kepada penyidik di kepolisian.

“Sejak 1 Agustus 2016 kemarin, berkas dikembalikan oleh JPU untuk dilengkapi kembali,” kata Andi.

Pengembalian berkas perkara itu, tentu disertai dengan sejumlah petunjuk-petunjuk yang mesti dilengkapi, untuk bisa dilimpahkan kembali. Salah satu petunjuknya adalah, kepolisian meminta keterangan saksi ahli terkait hypnoteraphy.

“Pada dasarnya kepolisian tidak mengalami kesulitan dalam mengungkap perkara ini. Hanya saja, ini merupakan kali pertama perkara pelecehan seksual yang diduga dilakukan di bawah alam sadar,” ujarnya.

Sementara itu,
Kasi Pidana Umum, Kejari Pontianak, Putu Eka Suyantha mengatakan, pihaknya sudah menerima berkas dari kepolisian untuk tahap satu. Hanya saja, berkas tersebut dikembalikan kepada polisi untuk dilengkapi.
 

“Berkas masih tahap P18. Kita kembalikan ke polisi karena ada yang harus dilengkapi,” tutur Putu kepada Suara Pemred, kemarin.

Selanjutnya, bila berkas sudah dilengkapi, Kejari akan memeriksa tahap II, dan tersangka menjadi tahanan Kejari.   Subhan Nur, DPRD Kalbar  mendorong penegakkan hukum yang tegas, dalam menangani kasus cabul dan tidak tebang pilih, termasuk kasus DP. Mesti ada sisi keadilan dan hukum tetap berjalan dengan netral.  

“Perlunya ada sisi keadilan dan hukum tetap berjalan dengan netral, namun sisi kelemahan dari hukum pasti ada. Jadi, kita harus mengerti dengan keputusan pengadilan yang berkaitan dengan DP. Kita tetap mendorong, agar proses ini tetap berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku,” katanya. (ang/bls/umr/ynt/loh/lis/sut)