Polda Kalbar dan Polda Jabar Koordinasi Usut Kasut Pemalsuan Dokumen Mobil Mewah asal Malaysia

Regional

Editor sutan Dibaca : 1018

Polda Kalbar dan Polda Jabar Koordinasi Usut Kasut Pemalsuan Dokumen Mobil Mewah asal Malaysia
GRAFIS (SUARA PEMRED/ MEGA)
PONTIANAK, SP - Kasus pemalsuan dua buah dokumen mobil mewah klasik merek Mercedez Benz dan BMW yang diselundupkan dari Malaysia, masih terus dalam penyelidikan aparat kepolisian. Dari sejumlah petunjuk, ada oknum kepolisian yang diduga terlibat.

Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Musyafak menerangkan, pemalsuan dokumen mobil berupa STNK dan BPKB yang akan digunakan untuk kedua mobil tersebut, diduga melibatkan oknum kepolisian. Maka dari itu, kini penyidik Polresta Pontianak melakukan penelusuran terhadap Samsat Polda Jawa Barat yang mengeluarkan dokumen tersebut.

"Dokumen mobil itu diduga dipalsukan. Dan saya sudah koordinasi dengan Kapolda Jawa Barat, untuk melakukan pemeriksaan kepada Samsat di sana," kata Musyafak, dalam keterangan persnya, Senin (29/8) di Mapolresta Pontianak.

Kendati menurutnya dokumen mobil itu palsu, namun Musyafak menolak jika disebut dokumen bodong. Sebab, dokumen tersebut merupakan dokumen asli, hanya saja penggunaannya tidak sesuai dengan ketentuan.

Dengan demikian, dugaan keterlibatan oknum anggota Polri semakin kuat. "Surat-suratnya belum tentu bodong. Ini lagi ada pengembangan. Apakah ada keterlibatan anggota di level bawah. Jika ada, akan kita tindak," ujarnya.

Menurutnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian juga telah memerintahkan Propam Mabes Polri untuk melakukan identifikasi di Polda Jawa Barat. Jika kemudian ditemukan adanya keterlibatan oknum Polri dalam membantu membuat dokumen itu, dipastikan akan segera dilakukan penindakan.

"Saya sudah koordinasi, di sana juga akan dilakukan penindakan. Ini nanti memang ada penyimpangan dari anggota di Polda Jabar," ucapnya.

Sampai saat ini, pihak kepolisian baru menetapkan satu orang tersangka dalam perkara ini. Yakni Gamma Satria, yang tertangkap saat berada di toko aksesoris mobil di Jalan M Sohor, Pontianak Kota, Selasa (16/8) lalu.

   Modus operandi yang dilakukan Gamma, adalah dengan terlebih dahulu memesan dokumen-dokumen mobil berupa STNK dan BPKB kepada Budi, yang berdomisili di Bandung , Jawa Barat.

Setelah dokumen itu diterima, kemudian ia segera menghubungi rekanannya di Malaysia, untuk mencari mobil yang spesifikasinya cocok dengan dokumen yang ada. Saat mobil didapat, mobil itu segera dibawa masuk dari Malaysia ke Indonesia melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, dengan bantuan kurir yang berperan sebagai sopir.

"Serah terima dilakukan di Pontianak. Setelah itu, plat mobil itu langsung diganti dengan plat asal Jawa Barat. Baru kemudian dibawa ke Pelabuhan Dwikora untuk dikirim," ungkapnya.

Berdasarkan pemeriksaan terhadap tersangka, setidaknya telah lima kali upaya penyelundupan dilakukannya. Namun Kapolda menyangsikan hal itu.

Menurutnya, banyak kemungkinan bahwa tersangka telah melakukan lebih dari itu. "Makanya, perintah saya di perbatasan sangat keras. Untuk mencegah penyelundupan. Bukan hanya mobil, tapi juga termasuk barang-barang lain," tegasnya.
Praktik pemalsuan dokumen mobil mewah asal Malaysia ini, sebelumnya terungkap saat anggota Jatanras tengah melakukan patroli. Petugas saat itu melihat sebuah mobil Mercedez Benz 560 SECOND AUTO terparkir di pinggir Jalan M Sohor, Pontianak Kota.

Merasa curiga, anggota menanyakan kepada pemilik toko kemana pemilik mobil tersebut. Pemilik toko kemudian memberitahukan bahwa pemilik mobil sedang pergi Salat. Selanjutnya, petugas menunggu dan akhirnya bertemu dengan pemilik mobil, kemudian segera melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen mobil tersebut.

"Ternyata setelah diperiksa surat-surat tersebut tidak sesuai antara aslinya dengan fisik mobil. Akhirnya anggota membawa pemilik mobil beserta mobilnya ke Mako Polresta Pontianak guna penyidikan lebih lanjut," kata Kapolresta Pontianak,

Kombes Pol Iwan Imam Susilo. Setelah diperiksa, terungkap bahwa mobil itu merupakan mobil yang dibeli tersangka di Malaysia. Tidak hanya itu, saat pengembangan dilakukan, ternyata tersangka masih memiliki satu unit mobil lainnya yang bermerek BMW. "Dua buah mobil mewah klasik yang sudah kita amankan. Satu unit lainnya setelah dilakukan pengembangan," ucapnya.

Berdasarkan pengakuan tersangka, mobil itu akan dibawa ke Bandung, Jawa Barat, untuk diikutkan pameran dan dijual di sana. "Saya beli dengan teman di Malaysia, lalu rencana akan dibawa ke Bandung untuk diikutkan ke pameran di sana," kata Gamma.

Di Malaysia, Gamma mengaku, membeli kedua mobil itu dari seorang teman seharga lebih dari Rp300 juta. Dengan modal yang hanya sebesar itu, dia bisa mendapat keuntungan dua kali lipat. "Saya masuk dari Malaysia lewat perbatasan, masih menggunakan flat Malaysia. Saat di Kalbar, langsung ganti," ujarnya.  

Murah dan Langsung Antar
Sementara itu, seorang pengusaha otomotif di Kota Pontianak mengungkapkan, banyak orang-orang kaya, baik itu pengusaha maupun pejabat, khususnya di Kota Pontianak yang menggunakan mobil-mobil mewah seludupan dari Malaysia karena harganya dinilai jauh lebih murah.

 Dia bahkan mengaku dirinya juga merupakan satu di antaranya. Dia mengaku, baru-baru ini telah membeli sebuah mesin mobil merek Mercedes Benz untuk mengganti mesin mobilnya yang telah hampir rusak.

"Mobil saya tahun 1990 dan mesinnya sudah rusak. Jika diganti atau dibetulkan tentu harganya sangat mahal. Makanya saya pesan dari Malaysia. Saya pesan mesin yang sama, namun buatan tahun 2005," ujar pria berusia 35 tahun yang namanya tak ingin disebutkan ini.

Mesin mobil yang jika dihitung dengan harga normalnya di Indonesia bisa mencapai hampir Rp100 Juta, dapat dia beli hanya dengan harga Rp38 Juta dan dapat langsung diantar ke tempat. "Waktunya kemarin tidak lama, barang datang hanya sekitar satu Minggu kemudian," ucapnya.

Dikatakannya, pemesanan mesin mobil dilakukan dengan menggunakan seorang perantara yang memiliki akses ke Malaysia. Perantara itu menjamin keselematan barang pesanan dari petugas keamanan karena mengaku mengenal sejumlah oknum aparat.

Pria berbadan tambun ini bahkan mengaku, melihat sendiri bahwa kendaraan yang digunakan oleh perantara tersebut adalah kendaraan dinas sebuah instansi pemerintah. Tentu hal itu dilakukan untuk mengelabui petugas penjaga perbatasan. Praktik penjualan mobil mewah impor ditegaskannya bukan hal yang baru di Kota Pontianak.

Namun upaya pembelian barang seludupan tersebut tidak selalu berlangsung mulus. Setelah sukses dengan pembelian mesin mobil, dia kemudian kembali memesan satu unit mobil mewah seharga Rp60 Juta untuk diantar ke Jakarta. Jalur yang dilewati oleh pedagang-pedagang mobil mewah tersebut umumnya melalui jalur normal.

Dari Malaysia melewati pintu perbatasan resmi dan kemudian menuju ke Pelabuhan Dwikora Pontianak. Hanya saja, mobil pesanannya tersebut harus berlabuh di Surabaya baru kemudian ke Jakarta.

"Namun pembelian tersebut gagal. Perantaranya bilang mobil ditahan petugas. Saya rugi setengah dari harga barang yang digunakan untuk uang muka," tukasnya. (ang/ind)