Korban Trafficking asal Sulawesi Utara Lapor ke Suara Pemred

Regional

Editor sutan Dibaca : 1587

Korban Trafficking asal Sulawesi Utara Lapor ke Suara Pemred
Tujuh orang tenaga kerja asal Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara ketika mengadukan nasibnya ke Kantor Harian Suara Pemred, Jumat (2/9). (SUARA PEMRED/YODI RISMANA)
PONTIANAK, SP – Kasus perdagangan manusia semakin hari kian mengkhawatirkan, kini menimpa tujuh orang asal Kabupaten Talaud, Provinsi  Sulawesi Utara. Mereka disinyalir  telah menjadi korban trafficking oleh sindikat perdagangan manusia lintas negara.  

Ketujuh korban yakni, Harfan Ta’arai, Adi Magenda, Edwar Tatuluse, Jeldi Mangamis, Jeri Ta’alungan dan Presli Mangamis. Mereka awalnya direkrut oleh sebuah agen penyalur tenaga kerja di tempat asalnya, dan dijanjikan bekerja di sejumlah perusahaan besar di Malaysia.


“Awalnya ada salah seorang agen, bernama Agus menawarkan kami bekerja di hotel, perusahaan minyak dan pabrik kertas di Malaysia dengan gaji Rp 6-10 juta per bulan,” terang salah seorang korban, Harfan Ta’arai ketika mengadukan nasibnya ke Kantor Harian Suara Pemred, Jumat (2/9) sore.


Sebelum diberangkatkan ke Malaysia, ia bersama 16 orang lainnya asal Kabupaten Talaud, yang datang menggunakan kapal, terlebih dahulu dikarantina di sebuah tempat penampungan di Jakarta oleh perwakilan agen di ibu kota.
“Kami di Jakarta selama satu minggu, sambil menunggu paspor yang dibuatkan oleh pihak agen,” katanya.

Setelah menandatangani surat perjanjian dan memperoleh paspor, 17 orang asal Sulawesi ini diberangkatkan ke Kota Pontianak menggunakan pesawat. Setiba di Bandara Supadio, mereka dijemput oleh taksi yang telah disewa oleh pihak agen dan dibawa ke sebuah rumah di kawasan Jeruju.


“Hanya satu malam kami berada di Pontianak, lalu dijemput oleh taksi lainnya dari biro perjalanan darat, menuju ke Pos Lintas Batas Entikong,” katanya.

Di sana, terangnya sudah ada kendaraan lainnya yang menunggu, hendak membawa mereka ke lokasi kerja, yakni di wilayah Miri perbatasan Malaysia – Brunei. “Ketika di pos perbatasan, kami tidak diperiksa oleh petugas, karena sudah ada pihak agen yang mengatur,” ungkapnya.

Setiba di lokasi, bukannya dikerjakan sebagai karyawan perusahaan hotel maupun pabrik, mereka justru diminta berladang. “Kami disuruh bekerja di ladang, menebang pohon dengan menggunakan parang, dengan gaji 250 Ringgit per hektare,” ungkapnya.

Kurang lebih sebulan bekerja di ladang, Harfan bersama rekannya yang lain sama sekali belum pernah digaji. Pihak perusahaan hanya memberikan fasilitas penginapan dan kebutuhan sehari-hari, itu pun akan dipotong melalui gaji yang diterima nanti.

“Kami tidak tahan bekerja seperti ini, apalagi di lokasi yang bertebing. Kami mencoba melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian setempat, namun dikembalikan lagi ke lokasi kerja,” katanya.

Tak sanggup berada di lokasi kerja, dia bersama enam rekan lainnya mencoba melarikan diri ke Indonesia melalui jalur tikus dan tiba di Kota Pontianak. “Kami yang kabur hanya bertujuh, sisanya masih bertahan di Miri,” kata Harfan.

Menurut informasi yang diperolehnya, sedikitnya ada 30 warga di tempat asalnya akan diberangkatkan ke Malaysia, dengan modus yang sama. “Kini kami bingung mau kemana, ingin pulang tidak ada biaya. Paspor dan barang kami ditahan oleh pihak agen dan perusahaan,” tuturnya.    (bob/ind/sut)

Komentar