Langganan SP 2

Pemprov Kalbar Dituding Perlakukan Olahraga sebagai Sampah

Regional

Editor sutan Dibaca : 734

Pemprov Kalbar Dituding Perlakukan Olahraga sebagai Sampah
GRAFIS (SUARA PEMRED/ KOKO)
PONTIANAK, SP - Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menargetkan para atlet Kalbar mengharumkan Bumi Khatulistiwa di PON XIX Jawa Barat 2016. Ironisnya, dana untuk persiapan ke ajang tersebut sangat minim karena hanya Rp15 miliar.   Olahraga berikut infrastrukturnya di Kalbar pun hanya dianggap bidang pelengkap olah pemprov.

Itu sebabnya kalangan atlet dan pengurus provinsi cabang olahraga (pengprov cabor) menuding Pemprov Kalbar kejam karena memperlakukan olahraga sebagai sampah.  

Demikian hasil wawancara Suara Pemred secara terpisah di Pontianak dengan kalangan pemerhati olahraga, kalangan pengurus KONI Kalbar, atlet, pelatih, dan legislator Kalbar, Kamis (8/9).  

Ahmadin Umar, pelatih angkat berat Kalbar menyatakan, dana seadanya itu  sangat memberatkan KONI Kalbar. "Kita dituntut prestasi,  dan itu telah kita buktikan di PON lalu. Kalbar bisa naik peringkat ke-16 dari peringkat 21. Namun, pemerintah menganggap olahraga sebagai sampah,” kecamnya.
 

Pemprov Kalbar dinilainya semakin mundur dalam mendukung pembinaan semua cabang olahraga (cabor).

Menurut Ahmadin, KONI Kalbar yang sudah sangat serius memajukan prestasi olahraga seharusnya didukung,  setidaknya di bidang pendanaan menghadapi PON XIX.

Padahal diakuinya, anggaran Pemprov Kalbar untuk PON 2004, PON 2008 dan PON 2012, masih standar bahkan lebih tinggi dibandingkan persiapan PON 2016.
 

"Seharusnya, setiap empat tahun sekali semakin naik. Bukan malah menurun. Nilai uang dulu dan sekarang sangat jauh berbeda. Masa anggaran tahun 2004 dan 2008 bisa lebih besar dari 2016? Ini kan tak masuk akal," lanjutnya.  

Jika seperti ini, lanjut Ahmadin,  wajar jika KONI Kalbar uring-uringan, dan imbasnya pun ke seluruh cabor peserta PON XIX. "Secara tidak langsung, ini melemahkan kami dan mental atlet. Jadi, jangan salahkan kami nanti, jika hasil PON kita jelek,” ancamnya.
 

Ketua Umum KONI Kalbar Syarief Machmud Al-kadrie ketika dikonfirmasi mengakui minimnya perhatian Pemprov Kalbar terhadap bidang olahraga. Ini dinilainya bisa dilihat lewat tempat latihan yang tidak mendukung, kurang terawat, bahkan terkesan dibiarkan rusak, selain minimnya dana atlet ke PON XIX.
 

Menurutnya, Pemprov Kalbar tidak mendukung peningkatan prestasi atlet, terutama persiapan para atlet dan kontingen di ajang PON XIX Jabar. Padahal jika mengacu pada amanah undang-undang, pemerintah wajib memberikan porsi dua setengah persen dari nilai APBD provinsi untuk bidang olahraga.  

Jika APBD tersebut bernilai Rp 4 trililun, lanjut Achmad, berarti  anggaran untuk olahraga seharusnya sekitar Rp 100 miliar.  "Namun, kami tidak muluk-muluk, hanya meminta sesuai kebutuhan saja," tambahnya.
  

Pihaknya sempat kecewa karena pemprov hanya mengucurkan dana sekitar Rp15 miliar. Itu juga dikucurkan bertahap, padahal pengajuan awalnya untuk PON XIX bernilai Rp34 miliar.  

Ditambahkan, dana Rp15 miliar tersebut dicairkan tiga tahap. Pertama,  Rp7 miliar, kedua pada Juni Rp4 miliar, dan ketiga pada September ini Rp4 miliar. Dana ini termasuk untuk biaya rutin, pelatda, dan pelaksanaan PON XIX.
  Dana yang sangat minim ini dinilainya berdampak pada terjadinya berbagai masalah terhadap atlet dan cabor yang lolos ke PON XIX. Persiapan yang dilakukan pun tidak maksimal.

Training centre (TC) dan juga tunjangan khusus yang tadinya intensif enam bulan, belakangan hanya dilakukan dua bulan.   “Saya punya beban moral jika atlet-atlet saya tak mendapatkan hak mereka berupa bonus. Kasihan, mereka sudah berjuang mati-matian di PON, tapi tidak mendapatkan penghargaan," tegasnya.  

Itu sebabnya Machmud mengaku sedih. "Tapi,  inilah kenyataannya. Saya mau kita tetap berjuang di PON XIX, walaupun dengan dana seadannya. Kita harus tunjukan kepada pemerintah dan masyarakat Kalbar bahwa kita masih bisa berdiri tegak, walaupun kita dianggap sebelah mata,” ujarnya.
 

Kucuran dana sekitar Rp15 miliar ini, lanjut Machmud, sangat jauh dari PON XVIII Riau 2012 yang sebesar Rp27 miliar. "Padahal,  empat tahun lalu jelas berbeda keadannya dengan sekarang.  Dari sisi jumlah atlet dan cabor (cabang olahraga) yang berpartisipasi sangat berbeda. Apalagi kondisi saat semua perlengkapan mahal, bagaimana kami harus mengaturnya?" papar Machmud.
 

Senada itu, Sunardi, pelatih cabor anggar mengaku pernah akan mogok mempersiapkan atletnya ke PON XIX.  Menurutnya, ini karena pemerintah tidak menunjukkan sikap dan perhatian terhadap KONI, atlet,  dan pengprov cabor.
    “Kami sangat kecewa, dan sempat akan mogok. Pemprov tidak mendukung kami di PON. Kami dituntut berprestasi terbaik, sementara pemprov hanya memandang sebelah mata kepada kita sebagai pelaku olahraga,” kata Sunardi.  

Sunardi mengaku kecewa lantaran pemerintah hanya memberi porsi kecil dukungannya terhadap KONI Kalbar. KONI Kalbar karena hanya dibantu Rp15 miliar. Padahal,  implikasinya sangat besar bagi para atlet dan pelatih.
  “Bayangkan,  dengan anggaran sekecil itu tentu saja KONI kesulitan menghadapi PON. Implikasinya,  semua kebutuhan kontingen, atlet dan pelatih, dipangkas. Ini membuat kami sangat kecewa karena olahraga selalu dianaktirikan,” tuturnya.  

Menurut Sunardi, yang menjadi perhatian Pemprov Kalbar hanya bidang pembangunan yang bersifat proyek. Sementara olahraga yang tidak bisa menghasilkan fee proyek, hanya  dibantu ala kadarnya.
  Sunardi mengaku semakin kecewa karena dibandingkan dengan daerah lain, anggaran olahraga Kalbar menghadapi PON XIX adalah yang paling kecil.  

“Jangankan dibandingkan Kaltim yang anggarannya 130 miliar. Dibanding Aceh, kita jauh sekali. Aceh itu KONI-nya dibantu Rp 30 miliar. Padahal, prestasi mereka di bawah kita pada PON XVIII lalu. Belum lagi DKI yang sebesar 970 miliar,” keluh Sunardi.  

Kesal dan kecewa terhadap sikap pemprov ini juga diutarakan pelatih biliar Kalbar, Ngatiman. Menurutnya, pemprov justru mengabaikan  ketika KONI Kalbar dihadapkan pada target dengan beban berat untuk mencapai prestasi terbaik di PON XIX.


  Ngatiman menegaskan, tidak mudah meraih prestasi tersebut.  Salah satu yang paling mendasar adalah pendanaan.  “Bayangkan, ini berarti bidang olahraga hanya sebagai penggembira," tegasnya.  

Anggaran untuk olahraga. tambah Ngatiman, sudah dimasukan dalam dana bansos, tapi bantuan yang disalurkan juga seenaknya. "Pemerintah menganggap bidang olahraga sangat sebelah mata. Saya menilai pemerintah salah, tidak cerdas,  dan kejam,” kata Ngatiman.
 

Ngatiman meminta Gubernur, Wakil Gubernur dan Sekda Kalbar selaku pengambil kebijakan untuk lebih bijak memperhatikan permasalahan ini. Bisa dibayangkan jika seluruh cabor mogok karena persoalan ini.  

“Kita yang seharusnya mempersiapkan TC selama satu tahun, harus dihitung dua bulan. Itu kan sangat menyedihkan. Belum lagi bonus atlet peraih medali, apakah ada atau tidak jika dengan dana sekecil itu?" paparnya.  

Selain anggaran kecil yang dikucurkan Pemprov di ajang PON XIX Jabar 2016, keadaan stadion Stadion Sultan Syarif Abdurrahman (SSA) di Pontianak, juga sangat memprihatinkan.   Jalannya berlubang dan tergenang air, selain membahayakan pengendara yang melintas karena banyaknya lubang di sepanjang jalan yang juga dapat merusak keindahan stadion tersebut.  

Setali tiga uang, kondisi fasilitas sarana dan prasarana latihan atlet cabor di SSA juga sangat memprihatinkan. Banyak sarana dan prasarana untuk latihan atlet yang rusak bahkan tidak terawat. Bahkan pada malam hari, premanisme kerap terjadi di SSA.  

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kalbar Syawal Bondoreso mengakui sulit untuk menjelaskan permasalahan tersebut secara detil. Pasalnya, selain mengalami pemotongan, anggaran pembinaan olahraga juga direncanakan dikurangi.

"Puluhan persen nih dipotong. Nah, ini (akan) ada jauh pengurangan lagi nih, mau dirapatkan lagi nih. Payah mau bicara itu," ujarnya, singkat ketika dikonfirmasi.
(mul/umr/pat/hd)