Bahan Baku Nuklir dari Kapuas Hulu Lolos Lewat Perbatasan Kalbar - Malaysia

Regional

Editor sutan Dibaca : 2614

Bahan Baku Nuklir dari Kapuas Hulu Lolos Lewat Perbatasan Kalbar - Malaysia
Halaman Utama Harian Suara Pemred
PONTIANAK, SP – Jalur-jalur tikus di perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia merupakan pintu masuk-keluarnya orang-orang Korea Utara (Korut) untuk membeli bebatuan yang mengandung natrium. Bahan baku pembuatan nuklir ini diketahui terdapat di batu-batu tungau di pedalaman Kabupaten Kapus Hulu.  

Silvester Marinus (43), warga Kecamatan Boyan Tanjung, kapuas Hulu  kepada Suara Pemred, Jumat (16/9) mengaku heran karena orang-orang Korea Selatan selain Korea Utara sering mondar-mandir masuk hutan pada 2010- 2014.
 

Menurutnya, mustahil warga asing ini masuk Kapuas Hulu lewat PPLB Nanga Badau atau PPLB Entikong di Kabupaten Sanggau. Mereka juga diakuinya cukup royal dengan uang sehingga masyarakat senang.  

Belakangan, lanjut Silvester, orang-orang asing itu merekrut warga lokal berkantong tebal untuk mengumpulkan bebatuan tungau -nama dalam bahasa setempat- dari warga pedalaman. Pedagang pengumpul diakuinya membeli dari warga Rp100- 150 ribu per kilogram.  

Pedagang pengumpul kemudian menjual kepada warga asing itu seharga Rp2,5 juta per kilogram.

“Barang-barang tambang batu tungau akan dibayar tunai setelah sampai di perbatasan, Kemudian dibawa masuk ke Sarawak lewat jalur tradisional. Ini harus segera dicegah. Dalam perkembangan terakhir, patut diduga masih berlangsung, kendati intensitasnya berkurang karena ketatnya pengawasan dari TNI AD dan Polri,” kata Silvester.  

Silvester menambahkan, masyarakat pedalaman menganggap penambangan batu tungau merupakan sumber mata pencaharian yang sangat menjanjikan. Sebab, hasil pendulangan tradisional bisa mencapai tiga kilogram per hari per orang.  

"Jadi minimal bisa mengantongi uang minimal Rp300 ribu per hari, jika asumsi per kilogram dijual Rp100 ribu," jelasnya.  

“Terimakasih kepada Kodam XII/Tanjungpura kalau sudah melakukan penertiban masalah ini. Hanya saja, kesannya sudah terlambat, karena sudah dibawa kabur ke luar negeri lewat jalan setapak di sepanjang perbatasan ke Negara Bagian Sarawak," tegasnya.    

Kodam XII/Tanjungpura pada 2014 sebenarnya pernah menertibkan eksploitasi tradisional bahan tambang jenis natrium di pedalaman Kapuas Hulu, tepatnya di Kecamatan Bunut Hulu, Kecamatan Boyan Tanjung, dan Kecamatan Pengkadan.  

Menurut Kepala Penerangan Kodam XII/Tanjungpura, Kol (Inf) Tri Rana Subekti, dengan penertiban itu maka otomatis tidak diperbolehkan lagi melakukan transaksi jual-beli secara tradisional kepada siapapun, terutama dengan warga asing.  
“Kendati sudah dilarang sejak tahun 2014, kalau praktik eksploitasi tradisional natrium masih berlangsung, kita segera cek untuk dicegah,” tegas Tri.  

Sejak tahun itu, lanjutnya, Kodim 1206/Putussibau sudah diinstruksikan untuk melakukan pengawasan maksimal. Setiap perkembangan baru tetap ditindaklanjuti. “Ini karena semua pihak sangat berkepentingan melakukan pengamanan terhadap sumberdaya alam vital dan strategis, termasuk ketersediaan natrium di alam bebas,” kata Tri.    

Ketua Fraksi Partai Demokrat Dewan DPRD Kalbar, Tanto Yakobus mengharapkan Kodam XII/Tanjungpura segera berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalbar terkait pengamanan di sejumlah daerah yang memiliki kandungan mineral logam natrium.  

“Sekarang ini kan baru diketahui di Kecamatan Bunut Hulu, Boyan Tanjung dan Pengkadan, Kabupaten Kapuas Hulu. Saya sangat yakin di daerah lain pasti ada bahan tambang natrium. Apalagi di Sungai Kalan, Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi, juga sudah ditemukan bahan tambang uranium,” katanya.  

Tanto menambahkan, pengamanan di kawasan Kapuas Hulu terkait berbagai potensi aktifitas ekonomi tradisional yang mengeksploitasi sumber daya alam bernilai strategis, semakin berat. Ini karena kabupaten itu berhadapan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia.  

Semakin berat, lanjut Tanto Yakobus, karena wilayah perbatasan di Kapuas Hulu sudah semakin terbuka dengan jalur tapal batas yang memanjang. Sedangkan pintu resmi hanya satu, yakni di PPLB Nanga Badau.    

Menurut Tanto, ratusan jalan setapak atau jalur tikus di sepanjang perbatasan tidak mungkin mampu diawasi sepanjang hari oleh TNI dan Polri. Maka peran masyarakat dinilainya menjadi sangat penting terkait partisipasi pengamanan sumber daya alam.  

“Saya tetap berpikiran jernih, TNI AD dan Polri masih punya hati nurani di Kalimantan Barat. Mereka mampu mengamankan sumberdaya alam dari okupasi secara tradisional dengan memperalat masyarakat yang terjebak kepentingan pragmatis,” kata Tanto.  

Sementara itu, pakar kimia terapan dari Universitas Tanjungpura, Prof DR Thamrin Usman DEA menyatakan, lolosnya bebatuan itu ke luar negeri tak lain karena banyaknya jalur tikus yang memanjang di tapal batas.
  "Bahan tambang natrium sangat strategis, sehingga mutlak di bawah pengawasan otoritas yang berwenang di bidang pertahanan dan keamanan," tegas Thamrin.  

Thamrin dikenal sebagai Doktor Kimia Terapan lulusan dari Institut National Polytechnique de Toulouse, Perancis, dan sekarang menjabat Rektor Untan, Guru Besar Kimia Agro Industri, serta Penemu Teknologi Efisien Produksi Biodiesel, Insan Energi Baru dan Terbarukan Indonesia.  

Dalam bentuk logam natrium, menurut Thamrin, maka kontak langsung dengan udara bisa meledak. Tetapi jika dalam bentuk senyawa mineral natrium, biasanya berwujud garam natrium. Misalnya, natrium chloride atau garam dapur.  

“Kalau ini tidak menarik dan jarang ditemukan di darat. Kalau untuk jadi bahan baku bom nuklir, itu hanya mineral uranium. Selanjutnya bisa dimurnikan kemudian bisa menjadi bahan bakar reaktor nuklir, hasil sampingannya bisa jadi bahan baku bom nuklir. Natrium adalah salah satu senyawa pendukung reaktor nuklir,” kata Thamrim.  

Dari pemahaman sederhana dan kearifan lokal, lanjutnya, bisa mendorong percepatan penelitian kalangan ilmuwan untuk memahami karakteristik logam mineral natrium.  

Menurut Thamrin, natrium di dalam batu tungau biasa dipakai warga lokal untuk dilolah menjadi mesiu. Caranya disangrai di atas bara api sehingga hasilnya bisa langsung digunakan untuk mesiu senjata api rakitan.   Ditambahkan, mesiu berisi kalium, sulfur dan batu arang.   

“Bila natrium atau batu tungau akan dipakai sebagai bahan baku mesiu, maka yang bersangkutan ingin menggantikan peran kalium dengan natrium saja. Hasilnya tetap mesiu,” kata Thamrin.
 

Diakuinya, natrium (Na) adalah sangat reaktif, logamnya berwarna keperakan. Karena bereaksi keras dengan udara, natrium tidak ditemukan bebas di alam. Hal ini diperoleh melalui elektrolisis natrium klorida.(aju/pat/hd/sut)