BIN Dituding Kecolongan, Bahan Baku Nuklir dari Kapuas Hulu Dicuri Korea Utara

Regional

Editor sutan Dibaca : 1508

BIN Dituding Kecolongan, Bahan Baku Nuklir dari Kapuas Hulu Dicuri Korea Utara
PETA (bappeda.kapuashulukab.go.id)
PONTIANAK, SP– Ketua Fraksi Partai Nasional Demokrat Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (F-Nasdem DPR RI), Syarif Abdullah Alqadrie, menuding Badan Intelijen Negara (BIN) kecolongan bahan tambang mineral logam natrium sebagai bahan baku bom dan reaktor nuklir di Kecamatan Pengkadan, Kecamatan Boyan Tanjung dan Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, dicuri oknum pengusaha Korea Utara dan Korea Selatan.

Syarif Abdullah Aqladrie mengatakan hal itu, Minggu (18/9), menanggapi sempat maraknya aktifitas penambangan tradisional natrium atau batu tungau oleh masyarakat di Kabupten Kapuas Hulu, kemudian dibeli secara tradisional warga Korea Utara dan Korea Selatan.

Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Pertambangan dan Energi Sumber Daya Mineral Kabupaten Kapuas Hulu, Johadi, membenarkan pernah ada warga Korea Utara dan Korea Selatan yang datang ingin melakukan investasi penambangan natrium. Tapi tidak diizinkan karena lokasinya di kawasan hutan lindung.

Sejumlah pedagang di Putussibau, Ibukota Kabupaten Kapuas Hulu, sejak tahun 2010 hingga tahun 2014, membeli natrium atau batu tungau dari masyarakat seharga Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram.

Kemudian oknum pengusaha dari Korea Utara dan Korea Selatan membeli dari pengusaha lokal Rp2,5 juta per kilogram, untuk selanjutnya dibawa ke negaranya lewat jalan setapak di sepanjang perbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia.

Kabupaten Kapuas Hulu,  Sambas,  Bengkayang,  Sanggau, dan  Sintang, merupakan lima pemerintahan otonom di Provinsi Kalimantan Barat, berhadapan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia.

Diungkapkan Syarif Abdullah Alqadrie, dari aspek perdagangan tradisional, masyarakat tidak dirugikan. Tapi ini bahan tambang strategis, karena di samping sebagai bahan baku bom (bahan peledak), natrium sebagai salah satu dari 25 jenis mineral logam, sebagai salah satu daya dukung pendingin reaktor nuklir paling efektif.

Suhu operasi reaktor nuklir jauh lebih kecil dibandingkan titik didih natrium. Oleh karena itu, lanjut Syarif Abdullah Alqadrie, natrium digunakan dalam pendinginan reaktor nuklir yang cepat. BIN dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, harus segera jelaskan kepada publik, kenapa lengah melakukan pengawasan.

Kendati diklaim Kodam XII/Tanjungpura sudah ditertibkan sejak tahun 2014, tapi sudah terlanjur dicuri warga asing dengan memperalat masyarakat yang terjebak kepentingan pragmatis.  

Syarif Abdullah Alqadrie menyarankan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, agar melihat potensi natrium di Provinsi Kalimantan Barat sebagi peluang untuk mensejahterakan masyarakat.

Di antaranya membuka kemungkinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah koordinasi BIN dan TNI AD, memfasilitasi masyarakat untuk mengeksploitasi bahan tambang natrium, agar tidak terulang lagi dibeli warga asing secara ilegal.

“Sangat ironis, Kalimantan masih kekurangan pasokan listrik, tapi potensi sumberdaya alam sangat melimpah, terutama untuk daya dukung pembangunan Pembangkit Listrik Negara Nuklir (PLTN). Apalagi Kalimantan Barat memiliki potensi tambang uranium 25 ribu ton berdasarkan hasil eksplorasi pemerintah di Sungai Kalan, Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Kapuas Melawi,” kata Syarif Abdulah Alqadrie.

Kepala Penerangan Kodam XII/Tanjungpura, Kol (Inf) Tri Rana Subekti, menegaskan, tahun 2014 sudah ditertibkan, sehingga otomatis tidak diperbolehkan lagi melakukan transaksi jual-beli secara tradisional kepada siapapun, terutama dengan warga asing.

“Kendati sudah dilarang sejak tahun 2014, kalau praktik eksploitasi tradisional natrium masih berlangsung untuk dijual-belikan sampai sekarang, kita segera cek untuk dicegah,” kata Tri Rana Subekti.

Pakar Kimia Terapan Universitas Tanjungpura, Pontianak, Thamrin Usman, mengatakan, bahan tambang natrium, jangan disamakan perizinan dan pengawasannya dengan tambang emas, karena sifatnya amat sangat strategis.

Prof DR Thamrin Usman DEA doktor kimia terapan lulusan dari Institut National Polytechnique de Toulouse, Perancis, sekarang Rektor Universitas Tanjungpura, Guru Besar Kimia Agro Industri, Penemu Teknologi Efisien Produksi Biodiesel, Insan Energi Baru dan Terbarukan Indonesia.

Bila dalam bentuk logam natrium, menurut Thamrin Usman, maka kontak langsung dengan udara bisa meledak. Tetapi bila dalam bentuk senyawa mineral natrium, biasanya dalam wujud garam natrium. Misalnya natrium chloride, ini garam dapur.

“Kalau ini tidak menarik dan jarang ditemukan di darat. Kalau untuk jadi bahan baku bom nuklir itu hanya mineral uranium yang selanjutnya bisa dimurnikan. Selanjutnya bisa jadi bahan bakar reaktor nuklir, hasil sampingannya bisa jadi bahan baku bom nuklir,” kata Thamrim Usman.


Dari pemahaman sederhana dan kearifan lokal, bisa mendorong percepatan penelitian kalangan ilmuwan untuk memahami karakteristik logam mineral natrium. Apalagi kalau disebutkan di Kabupaten Kapuas Hulu, natrium atau batu tungau biasa dipakai warga lokal untuk dilolah menjadi mesiu. Caranya digonseng di dalam kuali di atas bara api sehingga kemudian hasilnya bisa langsung digunakan untuk mesiu senjata api rakitan.

Dikatakan Thamrin Usman, mesiu itu isinya kalium, sulfur dan batu arang. Jika yang dieksplotasi secara tradisional masyarakat bentuknya berupa batuan natrium atau batu tungau.

“Bila natrium atau batu tungau akan dipakai sebagi bahan baku mesiu, maka yang bersangkutan ingin menggantikan peran kalium dengan natrium saja. Hasilnya tetap mesiu,” kata Thamrin.

Pakar kimia pendidikan dari Curtin University of Perth, Australia, Dr. Piet Herman Abik, M.App., Sc., mengatakan jenis tambang natrium harus di bawah kendali BIN dan TNI AD, karena sifatnya sangat strategis.

Kendati mudah ditemukan di alam bebas, tapi dampaknya sangat mengerikan jika digunakan untuk kegiatan kriminal dan terorisme.
 
“Natrium sifatnya sangat reaktif. Kalau saat kita menyelam di dalam sungai, kemudian ditemukan jenis butiran pasir dan atau batu memancarkan sinar, itulah natrium. Di Indonesia natrium sangat mudah ditemukan, terutama di Papua dan Kalimantan. BIN dan TNI AD harus ekstra hati-hati di dalam memantau distribusi natrium,” kata Piet Herman Abik.

Silvester Marius (43 tahun), warga Kecamatan Boyang Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu, mengklaim, kendati sejak tahun 2014 sudah ditertibkan TNI AD, namun masih saja sejumlah pihak mencari pecahan batu natrium secara diam-diam.

“Saya khawatir, nantinya bahan tambang natrium sama dengan narkoba. Semakin dilarang, semakin dicari orang, karena sangat menggiurkan harganya dari segi bisnis. Satu orang penambang tradisional bisa menghasilkan tiga kilogram natrium. Kalau satu kilogram dihargai Rp100 ribu, berarti satu hari bisa mengantongi uang Rp300 ribu, apabila diasumsinya dari kilogram dijual Rp100 ribu,” kata Silvester Marinus. (aju
/sut)