Ando, Tersangka Pembunuh Wanita Hamil Sudah Beli Popok Bayi

Regional

Editor sutan Dibaca : 1623

Ando, Tersangka Pembunuh Wanita Hamil Sudah Beli Popok Bayi
Tersangka Ando ketika reka ulang di jalan Parit Haji Muksin II, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya (KKR), Kamis (22/9). (ist)
PONTIANAK, SP- Rabu (21/9), para petugas Polda Kalbar terperangah ketika menangkap sekaligus menggeledah kamar Aloysius Fernando Nyangun alias Ando (26) di rumah kontrakannya, Perumahan Mega Mas D31, Jalan Parit Haji Muksin II, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya (KKR).    

Di kamar itu ditemukan sejumlah perlengkapan bayi yang sudah dibeli oleh Ando dan Marta Priviyana (25). Ini berarti Ando sudah siap menjadi ayah. Ando panik kemudian membekap wajah kekasihnya hingga tewas. Perbuatan ini  diduga karena Ando tak berpengalaman menjadi seorang calon ayah.     

   Ando sendiri terlambat menyelesaikan kuliahnya  di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura, Kota Pontianak, karena menekuni profesi sebagai sopir taksi. Padahal Ando sudah tujuh tahun kuliah setelah masuk pada 2009.   Ando bekerja di armada taksi pelat hitam milik abang kandungnya. 

Terakhir, Sabtu (17/9), Ando, menyanggupi untuk menjemput empat rekannya satu angkatan di SMA Negeri Kembayan, Kabupaten Sanggau, ke Pontianak.
 

Dalam perjalanan, menurut keterangan kawan-kawannya, suasana kala itu menjadi akrab. Kendati rekan satu angkatannya sudah berkeluarga, Ando tetap menunjukkan sikap akrab dan ramah. Saat ditanya apakah sudah punya calon pendamping, Ando hanya tersenyum.  

Begitu tiba di Pontianak, empat rekannya itu membayar ongkos taksi tapi ditolak oleh Ando. Mereka hanya diminta ongkos pengganti biaya bahan bakar minyak sekadarnya.   Yustina, rekan seangkatan Ando di SMP Negeri dan SMA Negeri Kembayan mengakui, Ando adalah sahabat yang baik dan setia kawan.  

Di mata teman-temannya di SMP dan SMA, Ando tidak pernah kasar bahkan selalu ceria. “Pembunuhan dilakukan Ando barangkali lantaran panik. Seorang perempuan yang akan melahirkan normal, tarikan nafasnya menahan sakit perut memang sangat kencang.

Dalam kondisi seperti itu, kalau hidung dan mulut disekap dengan bantal, pasti kehabisan oksigen yang menyebabkan kematian. Tapi yang namanya membunuh, mau tidak mau harus diproses hukum,” kata Yustina.  

  Kehidupan orangtua Ando terbilang relatif makmur di mata masyarakat di kampung halamannya, Dusun Pesing, Desa Engkahan, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau. Hampir 15 tahun silam, keluarga Ando sempat tertimpa musibah, karena abang kandung Ando ditangkap polisi karena terlibat peredaran narkoba.   Ini membuat Nyangun, orangtua Ando, langsung jatuh sakit karena stroke.

Waktu kemudian berjalan. Kehidupan baru kembali ditapak dan perekonomiankeluarga mulai pulih.   Di tengah waktu senggang jadwal kuliahnya,  Ando membantu abang kandungnya menjadi sopir taksi antar jemput dari dan ke sejumlah kota di Kalimantan Barat. Apa puluhan armada taksi pelat hitam milik abang kandung Ando.  

Di Pontianak, Ando memang tidak tinggal bersama abang kandungnya. Ando memilih mencari rumah kontrakan sendiri, dan terakhir bersama Irwan Tony Sinaga dan Rahmad Sumadi di Perumahan Mega Mas D31, Jalan Parit Haji Muksin II, Kecamatan Sungai Raya, KKR.  

Rumah kontrakan Tipe 36, memiliki empat kamar, terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar tamu, satu  dapur, dan bagian belakang kamar mandi. Kemandirian Ando dari segi finansial terlihat saat berada di dalam rumah. Terlihat dua unit televisi berwarna, satu unit di ruang tamu dan satu unit di kamar yang dihuni Ando seorang diri. Sedangkan satu kamar lagi ditempati Sinaga dan Sumadi.
 

Tidak ada meja dan kursi di ruang tamu. Demikian pula di ruang dapur, tidak terlihat ada meja makan. Saat dilakukan rekonstruksi, terlihat sisa-sisa mie instan rebus di piring dan ikan sarden di kuali yang sudah dikerubuti semut.

  Sebagian besar rumah di kompleks tersebut disewa para mahasiswa karena berada di dekat Kampus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan Sekolah Tinggi Pastoral (STP) Negeri Santo Agustinus.

  Karena sebagian besar rumah di kompleks dikontrak mahasiswa, maka mobilitas penghuninya sangat dinamis. Sesama mahasiswa dalam satu rumah pun, kalau berlainan kamar, sangat membatasi untuk saling mengusik urusan teman yang membawa tamu ke dalam kamar.

  Demikian pula dengan Ando selama berpacaran dengan Marta Priviyana yang dikenalnya lewat Facebook pada 2015. Setiap kali Ando di rumah, Marta selalu datang. Saat datang, Marta hanya berbasa-basi saja dengan Sinaga dan Sumadi karena langsung digiring Ando ke dalam kamarnya.  

Mengenai siapa sebetulnya Marta, Sinaga dan Sumadi mengaku tak tahu karena Marta berkepribadian tertutup. Menurut seorang teman satu SD dengan Marta di Sungai Raya yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengaku bahwa Marta sebenarnya periang dan gampang akrab dengan siapa saja.  

Saat tamat SMA, Marta langsung bekerja. Beberapa tahun kemudian, Marta diketahui hamil di luar nikah. Lelaki yang menghamili Marta pergi begitu saja sehingga anaknya yang sudah duduk di bangku TK dirawat kedua orangtuanya.  

Selama berpacaran dengan Ando, Marta sempat bekerja di Kafe Lawar Bali, Kompleks SMK Kristen Imanuel, Jalan Letjen Sutoyo, Pontianak.  Marta memutuskan berhenti bekerja terhitung 16 September 2016 karena hamil besar.
  Saat berhenti bekerja, Marta lebih banyak meluangkan waktu bersama Ando di dalam kamar di rumah kontrakan sehingga terjadi insiden pembunuhan.  

Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalbar Komisaris Besar Krisnandi di Pontianak, Kamis (22/9), pembunuhan itu karena tersangka panik saat korban akan melahirkan. Dari hasil otopsi jenazah, diketahui bahwa janin di kandungan Marta berjenis kelamin perempuan dan tergolong sehat.(aju/pat/sut)

Komentar