16 Warga Kabupaten Mempawah, Kalbar jadi Santri Dimas Kanjeng

Regional

Editor sutan Dibaca : 1074

16 Warga Kabupaten Mempawah, Kalbar jadi Santri Dimas Kanjeng
GRAFIS (SUARA PEMRED/ KOKO)
MEMPAWAH, SP – Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kalbar, Syahrul Hadi  kaget begitu mendapat informasi adanya 16 warga Kabupaten Mempawah terindikasi pernah menjadi santri  Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

  
“Kita ingin mendapatkan kebenaran informasinya. Kalau informasinya benar, pihak kami siap membina santri Dimas Kanjeng. Itu pun kalau akidah mereka menyimpang,” kata Sahrul, Jumat (30/9).

Informasi adanya 16 warga Mempawah menjadi santri Dimas Kanjeng diperoleh dari Polres Probolinggo, kemudian diteruskan ke Polres Mempawah, Rabu (28/9). Dari laporan itu, Polres Mempawah melakukan pengecekan ke lapangan. Kabar tersebut menjadi viral warga Kalbar.
Informasi awal, dari 16 warga santri Dimas Kanjeng ini, satu orang berada di Desa Galang.
Adapun 15 warga lagi berada di daerah Sui Pinyuh. “Begitu kami dapat informasi. Saya langsung informasikan jajaran melakukan pengecekan,” tutur Kapolres Mempawah, AKBP Dedi Agustono, melalui Kabag Ops Polres Mempawah, Kompol Dwi Budi.

Nama Dimas Kanjeng ramai dibicarakan, bermula kepolisian menangkap Dimas sebagai tersangka kasus pembunuhan.

Peristiwa ini semakin heboh karena bersangkutan tersandung kasus penipuan dengan modus penggandaan uang. 
Dimas sendiri mendirikan padepokan sejak 2002 dan diperkirakan memiliki lebih dari 10.000 santri. Padepokan tersebut berlokasi di Dusun Cangkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Kasus ini semakin mencuat, begitu polisi menemukan gudang penyimpanan uang di padepokan milik Taat. Bahkan ribuan warga rela menjadi santri di padepokan ini demi mendapatkan uang hasil penggandaan. Karena pengikut Dimas Kanjeng ribuan, bisa jadi warga dari Kalbar menjadi pengikutnya.

Tapi, hingga berita dihimpun, Polres Mempawah belum bisa memastikan kebenaran dari informasi tersebut, lantaan petugas masih mendalami dengan turun langsung ke lapangan. "Jadi, saya belum bisa memberikan, keterangan lebih. Apakah warga inidirekrut? Bagaimana proses investasinya, ataupun lainnya, karena masih didalami," kata Dwi.

Karena polisi masih melakukan pencaraian data beberapa orang warga Mempawah yang terindikasi menjadi santri Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Kembali ke Syahrul Hadi.

Kemenag Kalbar ini mengaku belum begitu memahami apa yang disampaikan Dimas Kanjeng kepada para santrinya. Tapi, bila ajaran disampaikan Dimas sudah tidak rasional, masyarakat harus mempertimbangkan matang.  

“Apalagi itu menyangkut akidah. Itu saya pikir perlu dipikirkan matang-matang. Yang jelas kita bekerja, yang fakta sajalah. Apalagi masalah uang, bisa menggandakan uang. Kalau pun itu fakta, itu sudah tidak benar dari sisi administrasi negara. Sudah ada kecurangan buat negara,” tutur Syahrul.  

Segala yang berkaitan dengan irrasional, apalagi dengan kedok menggandakan uang, baik dari segi agama dan negara, perlu dipikir ulang oleh warga. Warga harus memahami apa yang ada di hadapannya dengan akal sehat. Untuk mendapatkan sesuatu, tentu harus dengan usaha.  

“Kalau mendapatkannya dengan mudah, Insya Allah keluarnya pun akan mudah dan mungkin tidak berkah. Sebaliknya, warga jangan hidup mau instan,” kata Syahrul.  

Ia pun mengimbau warga harus berhati-hati dengan tidak mudah terpengaruh dengan segala pendapatan yang diperoleh dengan instan dan tidak rasional. Apalagi sampai menggandakan uang.  

Pun demikian dengan Bupati Kabupaten Mempawah, Ria Norsan. Ia meminta petugas melakukan pendataan. Norsan sendiri mengetahui kasus Dimas Kajeng dari televisi dan media. Ia pun geleng-geleng, bila pimpinan padepokan tersebut bsa menggandakan uang.

“Tidak benar kalau ada orang bisa menggandakan uang. Itu bohong semua,” tuturnya.

Ia pun memberikan contoh seperti investasi SOT di Kabupaten Mempawah, di mana inevstasi ini katanya menanamkan modal 1 dan di bayar 50. Investasi ini ternyata banyak memakan korban. "Tak, ada investasi seperti itu. Jangan mudah untuk di kelabui," kata Norsan.    

Sistem  MLM Miliaran
 

Dua korban penipuan oleh Dimas Kanjeng melapor ke polisi. Satu korban penipuan melapor ke Mabes Polri, dan satu lagi korban atas nama Suprayitno melapor ke Polda Jatim. Nilai penipuan yang dilaporkan itu mencapai Rp830 juta dan Rp1,5 miliar.

Ada pula korban dari luar Jawa yang tertipu miliaran rupiah, namun dia belum melapor ke polisi.
Dimas diketahui memang membuka praktik penggandaan uang dengan sistem "multilevel marketing" (MLM), yakni per orang menyetor uang Rp25 juta dan dikumpulkan kepada orang kepercayaannya.

Hal itu diakui Bibi Resemjan (41) yang merupakan istri korban pembunuhan diduga dilakukan oleh pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng, yakni Ismail Hidayah.

Istri Ismail itu mengaku almarhum suaminya tidak kunjung pulang pada 2 Februari 2015, dan baru diketahui sudah menjadi mayat setelah setahun lebih.

"Suami saya menjadi pengikut Dimas Kanjeng sejak 2010, dan pada awalnya kami sekeluarga tidak mengetahui bahwa tugas suami saya sebagai pengikut Dimas Kanjeng adalah merekrut pengikut baru dengan modus menggandakan uang," katanya lagi.

Sejak 2010 hingga 2015, suaminya kerap mengadakan pertemuan bersama Dimas Kanjeng dan para pengikutnya di rumahnya.
Rata-rata pengikut membayar uang mahar kepada dukun pengganda uang asal Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo itu melalui suaminya.

"Yang saya tahu uang milik pengikut baru yang disetorkan kepada Dimas Kanjeng sebagai uang mahar selama 2010-2015 sekitar Rp40 miliar, itu yang saya tahu. Uang sebanyak itu kesemuanya dari para pengikut baru Dimas Kanjeng," ujarnya lagi.

Karena itu, ia bersyukur sekali dengan penangkapan Dimas Kanjeng serta para pengikutnya. "Jika tidak segera ditangkap bisa saja akan terus bertambah korban yang dibunuh, dan juga korban penipuan dengan modus penggandaan uang itu," katanya pula.

Namun, banyak cerita misteri yang berkembang di tengah masyarakat seputar kemampuan Taat Pribadi dalam menggandakan uang itu, meski dalam praktiknya tidak lebih dari sistem MLM tersebut.

Bahkan tokoh nasional sekaliber Marwah Daud Ibrahim (ICMI) pun mempercayai bila Taat Pribadi mampu "memindahkan" uang dalam tempo sekejap.

"Kan bukan saya yang ngomong," kata Taat Pribadi yang ditirukan Kapolda Jatim Irjen Anton Setiadji dalam Silaturahim Kapolda Jatim dan Wartawan, Selasa (27/9).

MUI Investigasi


Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ma'ruf Amin mengatakan, saat ini MUI Jawa Timur tengah menginvestigasi terkait padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo beserta ajarannya.

Pendalaman dilakukan untuk melihat apakah ada penyimpangan ajaran dan penyesatan di padepokan tersebut. "Kami investigasi dulu. Kalau sudah kelas penyimpangan, baru kami keluarkan fatwa (haram)," ujar Ma'ruf, kemarin.

Ma'ruf mengatakan telah memerintahkan MUI Jatim melakukan kajian sejak beberapa hari lalu. Ia memperkirakan, hasilnya bisa keluar dalam beberapa hari ke depan.
(tim sp/ant/pas/loh/lis/sut)