KPPU Vonis Bersalah Pengusaha Ayam di Kalbar

Regional

Editor sutan Dibaca : 1919

KPPU Vonis Bersalah Pengusaha Ayam di Kalbar
ILUSTRASI Anak Ayam (cnnindonesia.com)
PONTIANAK – Pengusaha peternakan ayam mengaku bingung atas vonis terbukti monopoli,  dalam sidang putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di Jakarta, Kamis, 13 Oktober 2016.

“Saya pengusaha kecil. Hanya memasarkan produk berupa daging dan telur ayam di sejumlah segmen di Provinsi Kalimantan Barat,” kata Tetiono,  Direktur Utama PT Satwa Borneo Jaya Breeding (SBJBF),  perusahaan lokal dibidang peternakan ayam dari hulu ke hilir,  yang sedang bertempur melawan tiga pesaing bisnisnya di  Kalbar,  berstatus Initial Public Offering (IPO)  kepada suarapemredkalbar.com di Pontianak, Kamis (13/10). 

Sebagaimana diketahui, KPPU mengendus adanya pengaturan persediaan ayam di pasaran oleh 12 perusahaan, di mana para terlapor diduga sengaja melakukan pemusnahan terhadap afkir dini indukan ayam atau 
parents stock yang dilakukan secara bertahap.

Kedua belas perusahaan itu adalah PT Charoen Pokphand Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Malindo Feedmil Indonesia Tbk (MAIN), PT Satwa Borneo Jaya Breeding, PT Wonokoyo Jaya Corp, PT CJ-PIA (Cheil Jedang Superfreed), PT Taat Indah Bersinar, PT Cibadak Indah Sari Farm, CV Missouri, PT Ekspravet Nasuba, PT Reza Perkasa, dan PT Hybro Indonesia.

Kedua belas perusahaan pengolahan daging ayam ditetapkan bersalah oleh Ketua Majelis dalam sidang perkara dugaan kartel daging ayam. Mereka dianggap secara sengaja melakukan afkir atau pembunuhan dua  juta bibit ayam,  dengan tujuan  mengurangi stok daging ayam di pasar dan membuat harganya melambung tinggi.


Seluruh perusahaan dianggap bersalah dan langsung dijatuhi hukuman. Dua diantaranya mendapat hukuman denda paling besar yakni mencapai Rp 25 miliar per perusahaan.

"Menghukum terlapor 1, denda Rp 25 miliar yang harus disetor ke kas negara. Menghukum terlapor 2, denda Rp 25 miliar yang harus disetor ke kas negara. Sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran persaingan usaha melalui bank pemerintah," demikian bunyi putusan sidang yang dibacakan Ketua Majelis Persidangan, Kanser Lumbanradja.

Tetiono menyebutkan ada tiga perusahaan peternak ayam di Kalbar masuk IPO. IPO adalah perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana kepada masyarakat atau investor umum,  baik secara perorangan maupun institusi melalui Pasar Bursa Efek Indonesia (BEI).
 

Empat pesaing berstatus IPO di Provinsi Kalimantan Barat, semuanya berstatus Penanaman Modal Asing (PMA), yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) milik Thailand, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JCI) milik Taiwan, PT Malindo Indonesia Tbk (MI) milik Malaysia.  

“Belakangan muncul nama PT Cipta Khatulistiwa Mandiri (CKM) milik Hermanto, tapi kehadirannya merupakan anak perusahaan CPI. Sebutan lain perusahaan IPO adalah Terbuka (Tbk). PT Satwa Borneo Jaya Breeding, tidak sebanding dengan tiga perusahaan lainnya di Kalimantan Barat. Tapi kenapa kami dituding monopoli, dan divonis bersalah,” kata Tetiono.


Dua perusahaan yang didenda masing-masing Rp25 miliar, tak lain adalah perusahaan besar yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

"PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk sebagai terlapor 1, dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk sebagai terlapor 2," sebut Kanser Lumbanradja.

Hal serupa dialami terlapor lainnya,  dikenakan hukuman denda. Hanya terlapor 8 yakni PT Expravet Nasuba yang tidak dikenakan denda.

"Kaitannya dengan terlapor 8, kami melihat dari fakta-fakta persidangan ada hal-hal yang bisa menjadi pertimbangan majelis yang meringankan," pungkas Kanser Lumbanradja. (aju/sut)