Polda Kalbar : Peredaran Narkoba dari Malaysia Mencapai Rp 53 Miliar

Regional

Editor sutan Dibaca : 1269

Polda Kalbar : Peredaran Narkoba dari Malaysia Mencapai Rp 53 Miliar
ILUSTRASI (antaranews.com)
PONTIANAK- Data Polda Kalbar menyebutkan bahwa peredaran narkoba berbagai jenis, terutama sabu-sabu dari Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, pada periode empat tahun terakhir, yakni  2013 – 2016 sudah mencapai 53 kilogram.  

“Apabila satu kilogram sabu-sabu saja dihargai Rp1 miliar, maka 53 kilogram minimal nilai jualnya mencapai Rp 53 miliar. Kalimantan Barat sudah dijadikan pintu masuk peredaran narkoba di Indonesia,” kata Komisaris Besar Polisi Suhadi Siswo Suwondo, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polisi Daerah Kalimantan Barat, Minggu (30/10/2016).  

Suhadi mengatakan hal itu, menanggapi sebanyak 6,8 kilogram narkotika jenis sabu, 2.080 butir happy five dan 12 butir ekstasi berhasil digagalkan petugas Bea Cukai Entikong, di Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong, Kabupaten Sanggau, pukul 13.30 WIB, Kamis (28/10/2016).  

Upaya penyelundupan dilakukan menggunakan kendaraan dibawa SS (34 tahun) warga Entikong yang saat itu juga membawa dua orang penumpang CFL (26 tahun) warga Pontianak dan CCL (31 tahun) warga Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah.
 Informasi berawal dari ada mobil kijang yang di kendarai oleh SS melintas di PPLB Entikong dari Malaysia menuju Pontianak.

Tiba di Pos Pemeriksaan Bea dan Cukai PPLB Entikong,   petugas sedang melaksanakan pemeriksaan rutin kendaraan.
 Petugas Bea dan Cukai yang melakukan pemeriksaan, merasa curiga dan memutuskan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dalam pemeriksaan itu, ditemukan 6,8 kilogram sabu, happy five 2.080 butir dan pil ekstasi sebanyak 12 butir.

“Polisi masih melakukan pengembangan penelusuran, untuk mengetahui jaringan pemilik 6,8 kilogram narkoba dari Malaysia. Karena tidak menutup kemungkinan masih masuk jaringan yang pernah diungkapkan sebelumnya,” ujar Suhadi.

 Dikatakan Suhadi, dalam penyelundupan narkoba dari Malaysia, pernah melibatkan seorang oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) bernama Ishar yang bekerja di bagian karantina ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan di PPLB Entikong tahun 2013.

Pada Senin, 15 Juli 2013, petugas BNN menggeledah rumah Ishar di Jalan Pangeran Nata Kusuma, Gang Kusuma, Komplek Natasari, Blok D13, Kota Pontianak,  terhadap kepemilikan 5,1091 kilogram sabu dan 9.107 butir pil ekstasi senilai Rp6 miliar.
 

Polisi pernah pula menggagalkan penyelundupan 5 kilogram narkoba asal Malaysia jenis sabu-sabu di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, dengan tersangka utama Ayong, sopir bus antar negara, Sri Merah, rute Kuching – Pontianak. Ayong ditangkap Selasa, 26 Agustus 2014.

Ayong merupakan jaringan Dicky Chandra yang sudah ditangkap sebelumnya. Periode Agustus – September 2014, jaringan Ayong dan Dicky berhasil memasok narkoba jenis sabu-sabu asal Malaysia ke Kalimantan Barat, sebanyak 5 kali.
 Setiap kali pasok sebanyak 5 kilogram, sehingga lima kali dipasok kumulatifnya menjadi 25 kilogram.

Jika dihitung hingga kali keenam saat ditangkap, Selasa, 26 Agustus 2014, komplotan Ayong dan Dicky Chandra berhasil memasok narkoba dari Malaysia sebanyak 30 kilogram.

Diungkapkan Suhadi, Kantor Pelayanan Bea & Cukai Entikong, Kabupaten Sanggau menangkap seorang penyelundup narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 515,38 gram dan 24.245 butir ekstasi jenis "happy five" dari seorang kurir bernama Win alias Er, warga Kelurahan Tambelan Sampit, Kecamatan Pontianak Timur, 2 Juli 2015.

Terungkapnya upaya penyelundupan sabu-sabu dan ekstasi tersangka Win, saat akan masuk PPLB Entikong, 2 Juli 2015, dengan mengelabui petugas, yakni memasukkan barang haram itu ke dalam kemasan kardus air kaleng dan di dalam mobil jenis Proton Saga dengan nomor polisi Malaysia, QKB 8559.

Modus tersangka, lanjut Suhadi, yakni memasukkan barang haram tersebut ke dalam mobil yang dibungkus dalam kotak minuman kaleng merk Malaysia.

Selain memasukkan sabu-sabu dan ribuan ekstasi itu ke kotak kemasan minuman kaleng, tersangka juga untuk mengelabui petugas dengan menyembunyikannya ke dalam sarana pengangkut (mobil pelintas batas).

Pada pukul 18.30 WIB, Minggu, 7 April 2016, Polres Sambas dan Polres Bengkayang,  di bawah koordinasi Polda Kalbar, menahan mobil Grand Max Pick Up hitam KB 8025 PA dari Distrik Serikin, Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia  yang masuk ke Indonesia lewat Pos Pemeriksaan Lintas Batas Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang.
 

Tujuan barang bukti di Indonesia adalah Desa Sinam, Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas.

Penggeledahan mobil dilakukan saat melintas di depan Polsek Ledo, Kabupaten Bengkayang, polisi menemukan narkoba jenis sabu-sabu seberat 17 kilogram.  

Barang bukti memang sengaja dibiarkan lolos terlebih dahulu dari Jagoi Babang, sehingga sempat singgah di Dusun Jelatang, Desa Jesafe, Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang, sehingga akhirnya diamankan saat melintas di depan Polsek Ledo. Barang bukti milik Murni dan Hendro, kerjasama dengan mitra bisnis bernama Si Jum, warga Serikin, Sarawak.

 “Provinsi Kalimantan Barat sudah masuk jalur merah peredaran narkoba lintas negara, karena kondisi geografisnya terbuka,” pungkas Suhadi. (aju/sut)