Anggota DPRD Kalbar Dukung Tembak Mati Bandar Narkoba

Regional

Editor sutan Dibaca : 1162

Anggota DPRD Kalbar Dukung Tembak Mati Bandar Narkoba
GRAFIS (SUARA PEMRED/ KOKO)
PONTIANAK, SP - Petugas Bandara Internasional Supadio Pontianak, menggagalkan penyelundupan narkoba dengan memanfaatkan jalur kargo untuk meloloskan narkoba jenis sabu. Informasinya, sabu seberat 1,5 kilogram ini berasal dari Mataram, Nusa Tenggara Barat untuk dipasarkan ke Pontianak. "Benar kami telah menemukan 3 paket besar dan 1 paket kecil narkoba di kargo Bandara Supadio," kata Kapolresta Pontianak, Kombes Iwan Imam Susilo. 

Temuan paketan narkoba di bandara ini menguatkan pesan, bahwa para bandar  seakan tidak pernah jera melirik Kalbar sebagai pasar  bisnis peredaran  narkoba. Temuan ini juga melengkapkan jalur distribusi yang dijelajahi oleh para bandar. Selama ini narkoba mengandalkan jalur darat melalui pintu perbatasan dan pelabuhan. 

Anggota DPRD Kalbar, Ishak Ali Almuthahar, menyatakan geram dengan pelaku penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, dampak dari narkoba ini tidak hanya pada individu, melainkan orang lain dari negara. "Kalau saya selaku eksekutor yang bisa menindaklanjuti kasus narkoba, hukuman mati itu lebih layak," kata Ishak.

Menurutnya, kejahatan narkoba harus ditindak. Pilihan terjangan timah panas lebih layak untuk para bandar. Tujuannya tidak lain, agar menyelamatkan anak bangsa tidak menjadi korban Narkoba. "Jika ada dibuat aturan yang memberikan legalitas hukuman tembak mati, kami di DPRD sangat mendukung kebijakan itu," katanya.

Anggota DPRD Kalbar, Markus Amid menegaskan hukuman bagi gembong narkoba yang seakan tidak pernah jera layak untuk ditembak mati. Seperti halnya kasus Very Budiman.  "Kalau sudah seperti Very Budiman, sudahlah dia di dalam penjara, dia masih menjalankan bisnis narkoba. Nah yang begitu itu tidak bisa berubah. Sudah, main tembak saja," katanya. 

Sebagai negara hukum, tentu tindakan yang adalah melaksanakan sesuai prosedur hukum. Khawatirnya, bila petugas main tembak, tapi ternyata mereka hanya kurir yang bahkan tidak mengetahui isi narkoba, tentu tembak mati bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Wali Kota Sutarmidji  menyebutkan, saat ini, Kota Pontianak menjadi tempat transit barang haram tersebut, sebelum diedarkan kembali ke daerah lainnya di Indonesia, karena lokasinya yang dekat perbatasan negara Indonesia dan Malaysia.  (umr/jak/loh)