Sao Langke Adat Dai Bolong Pambean, Rumah Betang Tertua di Kapuas Hulu

Kapuas Hulu

Editor sutan Dibaca : 1392

Sao Langke Adat Dai Bolong Pambean, Rumah Betang Tertua di Kapuas Hulu
WARGA - Penghuni Rumah Betang Sao Langke Adat Dai Bolong Pambean, Desa Banua Tengah, Kecamatan Putussibau Utara, sedang bercengkrama di pelasaran rumah. (SP/ Syafari)
Sao Langke Adat Dai Bolong Pambean, di Desa Banua Tengah, Kecamatan Putussibau Utara, merupakan Rumah Betang tertua di Kapuas Hulu. Bangunan dengan 40 pintu ini termasuk cagar budaya. Tak heran setiap tahun banyak turis berkunjung ke Rumah Betang ini. Mereka  takjub melihat arsitektur bangunan dan keramahan penduduk lokalnya.  

Kemarin, Suara Pemred mengunjungi Rumah Betang ini. Rumah adat masyarakat Dayak ini didirikan oleh Bakik, Layo pada 1864 dan sudah mengalami dua kali renovasi, yakni pada 1940 dan 2005.
  Bangunan sudah berumur ini, dihuni hampir 200 jiwa dengan 53 Kepala Keluarga (KK) dihuni oleh warga suku Dayak Embaloh beragama Katolik. Sampai sekarang model fisik bangunan masih asli.  

Karena keasliannya inilah, banyak turis dari manca negara berbondong-bondong datang untuk melihat langsung kondisi bangunan, dan masyarakat yang tinggal di Rumah Betang tersebut.   Bila dilihat dari kondisi bangunannya, bangunan rumah tersebut modelnya memanjang dan memiliki pondasi tiang lebih tinggi dari rumah-rumah biasa pada umumnya. Panjang Rumah Betang sekitar 240 meter dan tinggi tiang pondasi sekitar 10 meter.  

Khusus untuk di Kecamatan Putussibau Utara, terdapat tiga rumah betang. Pertama, Rumah Betang Sao Langke Adat Dai Bolong Pambean. Kedua, Rumah Betang Nanga Nyabau. Ketiga, Rumah Betang Uluk Apalin.   Hanya saja, Rumah Betang Uluk Apalin, bangunan fisik sudah tidak ada lagi, karena Sabtu, 13 September 2014, terjadi kebakaran hebat dan menghanguskan seisi bangunan.  

Tetua Adat Rumah Betang Sao Langke Adat Dai Bolong Pambean, Santok (80) mengatakan, Rumah Betang ini memiliki pondasi tiang menggunakan kayu gelondongan. Ini  jenis kayu belian dengan diameter 70-80 cm dan panjang sekitar 20 meter.
 

Kondisi bangunan sengaja dibuat orang zaman dahulu dengan model pondasi tiang yang tinggi, untuk menjaga agar musuh tidak bisa menombak penghuni rumah dari bawah bangunan tersebut.   "Dulu kondisinya tidak aman seperti sekarang, banyak musuh sehingga perlu kewaspadaan," ujar Santok.  

Secara logika memang tidak masuk akal, di mana kayu dengan diameter 80 cm dan panjang 20 meter dapat didirikan untuk pondasi bangunan. Apalagi bila mengingat orang zaman dahulu, belum menggunakan peralatan modern seperti eksavator, ceng hok dan sebagainya.   "Ada sekitar 40 jumlah kayu besar untuk pondasi yang didirikan di bangunan ini," katanya.  

Dijelaskannya, menurut cerita orang dahulu, pendirian tiang besar untuk pondasi Rumah Betang tersebut, menggunakan rotan khusus yang sudah dianyam.   Seluruh warga terlibat,  bahkan keluarga mereka di Malaysia sana pun ikut membantu mendirikan bangunan ini.  

Diterangkannya, pembuatan Rumah Betang dengan kondisi yang memanjang tersebut bertujuan menjaga persatuan, kekompakan, persaudaraan, gotong-royong dan tolong menolong antar sesama.   "Untuk kepemilikan bilik ini, diatur berdasarkan waris keturunan," ungkapnya.  

Rumah Betang ini biasanya dijadikan tempat ritual adat rutin. Seperti gawai bila ada orang tempatan yang menikah dengan orang yang berbeda kampung. Gawai Pamindara Ulu Tanggak, Gawai Pamindara Andoi pun digelar oleh penduduk Rumah Betang.   Ritual adat itu dilaksanakan setahun sekali,  dalam rangka merayakan pesta panen padi.  (syapari/loh)