Warga Nanga Leboyan Minta Perhatian Pemerintah

Kapuas Hulu

Editor Kiwi Dibaca : 413

Warga Nanga Leboyan Minta Perhatian Pemerintah
KONDISI DESA - Beginilah kondisi Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau. Hingga saat ini desa tersebut mengandalkan transportasi air untuk melakukan aktifitas.
PUTUSSIBAU, SP - Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau masuk dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentaraum (TNDS), Desa ini salah satu desa yang masih tertinggal di Bumi Uncak Kapuas, sampai saat ini desa tersebut masih mengandalkan akses transportasi air untuk melakukan aktifitas ekonomi dan lainnya.  

Masyarakat di sekitar desa ini masih dihadapkan dengan berbagai persoalan yang menyangkut kebutuhan hidup seperti kesulitan mencari lapangan pekerjaan yang layak, ketiadaan air bersih, jaringan telekomunikasi yang sulit, tenaga guru kurang, sampai pada masalah penerangan.  

Jumah masyarakat yang ada di desa ini sekitar 900 Kepala Keluarga (KK), Desa Nanga Leboyan ini terdiri dari tiga dusun yakni Dusun Batu Rawan (Semangit), Dusun Merisak dan Dusun Penawan. Masyarakat setempat mayoritasnya berprofesi sebagai nelayan dan hanya sebagian kecil saja yang bekerja menjadi petani madu.  

Abang Usman, warga Dusun Batu Rawan, Desa Nanga Leboyan menerangkan, sudah puluhan tahun hidup di kampung Semangit. Namun kondisinya tidak berubah, di mana dusunnya tersebut masih jauh tertinggal bila dibandingkan desa lain.   "Masih banyak kebutuhan masyarakat yang belum dipenuhi oleh pemerintah. Kami di sini sulit pekerjaan, tidak ada air bersih, jaringan telekomunikasi susah dan listrik hanya beberapa jam saja menyala,” katanya.  

Ia berharap, Pemda Kapuas Hulu memberikan bantuan untuk menangani krisis air bersih yang saat ini tengah dihadapi oleh pihaknya. Bagi mereka ketersedian air berseih sangat diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan kakus (MCK), di samping itu juga untuk menjaga kesehatan masyarakat setempat.  

"Selama ini kami hanya mengandalkan air hujan saja sebagai air minum. Kalau sudah musim kemarau dan air hujan tidak ada, kami terpaksa minum, mencuci dan keperluan lainnya menggunakan air sungai,” tuturnya.  

Begitu juga dengan penerangan, di dusunnya hanya mengandalkan listrik desa yang nyalanya hanya dari pukul 18.00 hingga 22.00 WIB, sehingga keterbatasan penggunaan listrik ini sangat menyulitkan masyarakat untuk melakukan usaha dan beristirahat.   

Dalam penggunaan listrik desa ini, warganya dikenakan tarif Rp5 hingga Rp7 ribu permalam, makanya Abang sangat mengharapkan pemerintah maupun PLN dapat memperhatikan kondisi yang sudah lama dirasakan warga kampung tersebut.    “Paling tidak setengah hari saja kami bisa menikmati listrik, itu kita sudah bersukur,” katanya.   

Lanjut Abang, begitu juga soal pekerjaan, masyarakat di daerahnya kini tengah kesulitan kerja, masyarakatnya hanya mengandalkan nelayan, namun profesi ini kini tengah sulit di jalani karena air danau tengah pasang sehingga jumlah ikan yang didapat sangat berkurang.   

“Kami berharap, pemerintah memberikan peluang kerja yang lain kepada masyarakat untuk menambah penghasilan warga,” ungkapnya.  Waga lainnya Hayati membenarkan jika masyarakat di desanya kini tengah kesulitan ekonomi, tak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh masyarakat selain hanya sebagai nelayan.   

“Kalau sekarang, masyarakat kami hanya mendapatkan ikan itu hanya 4-5 kg saja. Paling ini hanya bisa dikonsumsi, bukan untuk dijual,” ungkapnya.   

Tak hanya masalah pekerjaan, Hayati juga menyinggung soal jaringan telkomunikasi yang begitu sulit di kampungnya, sehingga warga setempat pun sulit untuk menghubungi keluarganya di luar jika ada yang sakit dan lainnya.    “Kondisi ini sudah bertahun-tahun, kampung kami ini tidak ada perkembangannya,” pungkasnya. (sap/pul)