Mistis Namun Eksotis, Air Terjun Tujuh Tingkat di Boyan Tanjung Simpan Cerita tentang Ular Besar

Kapuas Hulu

Editor Indra W Dibaca : 730

Mistis Namun Eksotis, Air Terjun Tujuh Tingkat di Boyan Tanjung Simpan Cerita tentang Ular Besar
Bukit Tungkur di Desa Riam Mengelai, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu. (Ist)
KAPUAS HULU, SP - Wisata alam Air Terjun Tujuh Tingkat dan Bukit Tungkur di Desa Riam Mengelai, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu, terkenal mistis, namun eksotis. Keindahannya mengundang wisatawan untuk datang.

Banyak kisah misteri tentang air terjun ini. Konon menurut cerita masyarakat (legenda), di air terjun tingkat ke tujuh dihuni oleh "penunggu" berupa ular yang sangat besar (Nabau). Selain itu juga terdapat danau dan banyak spesies ikan dengan ukuran yang besar.

"Misteri Bukit Tujuh itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja, menurut cerita pemandangannya sangat indah," kata tokoh pemuda Desa Riam Mengelai, Rudianyah, S.Sos, Minggu (8/7).

Alumni Fisipol Untan Pontianak ini menjelaskan, sampai saat ini kebanyakan masyarakat hanya bisa mencapai lokasi air terjun di tingkat ke enam saja, sementara untuk tingkat ke tujuhnya belum ditemui secara nyata oleh kebanyakan masyarakat setempat.

"Ular atau Nabau yang berada di tingkat ke tujuh itu tugasnya menjaga air terjun tersebut," terangnya.

Dikatakannya, selama ini ketersedian air bersih masyarakat terpenuhi dari air yang mengalir dari air terjun itu, dimana air tersebut mengalir sampai ke Sungai Boyan.

"Letak air terjun tersebut berada tepat di Bawah Kaki Bukit Tungkur," katanya.

Karena keindahan dan keasrian alamnya, Air Terjun Tujuh Tingkat dan Bukit Tungkur ini sering dikunjungi oleh masyarakat, baik warga lokal maupun warga dari luar daerah.

"Banyak para wisatawan yang datang berkunjung ke sini, selain kita bisa menikmati mandi di air yang bersih, kita juga bisa melihat hamparan hutan di tiga kecamatan seperti Kecamatan Pengkadan, Bunut Hulu dan Hulu Gurung dari atas Bukit Tungkur," terangnya.

Kedua lokasi ini, kini telah dijadikan sebagai tempat wisata oleh masyarakat, dimana dikelola oleh para pemuda, sehinggga mampu memberikan pendapatan bagi masyarakat setempat.

"Desa juga rencananya akan mendorong tempat tersebut menjadi tempat pariwisata," terangnya.

Ditambahkannya, untuk jumlah pengunjung biasanya mencapai sampai seribuan orang, khususnya jika ada acara-acara hiburan rakyat yang diadakan oleh panitia. Sementara untuk hari libur biasa jumlah kunjungannya mencapai ratusan orang.

"Jika diadakan hiburan rakyat para pengunjung harus membayar harga tiket masuk Rp15 ribu per orang, sementara jika pada hari libur biasanya tidak dikenakan tiket masuk," katanya.

Yudi, warga setempat berharap, Pemda Kapuas Hulu, khususnya Dinas Pariwisata membantu mendorong agar tempat ini bisa menjadi tujuan pariwisata bertaraf nasional atau bahkan internasional.

"Saat ini akses jalan menuju tempat wisata air terjun tersebut sudah bisa ditempuh dengan waktu selama 15 menit menggunakan kendaraan bermotor roda dua," katanya.

Sementara untuk menuju puncak Bukit Tungkur membutuhkan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam dari kaki bukit dengan berjalan kaki.

"Kita sudah berupaya melakukan pembersihan lokasi, hanya saja belum maksimal sebab terkendala masalah dana," katanya.

Wandi, satu di antara pengunjung mengaku bahwa kedua tempat wisata tersebut memiliki daya tarik yang sangat luar biasa, hanya saja banyak yang belum mengetahui keberadaannya. Namun meski demikian tempat ini sudah sering dikunjungi para wisatawan.

"Tempat ini harus dijaga dan dilestarikan karena memiliki banyak manfaat, selain sebagai sumber air bersih masyarakat juga mampu menyejahterakan masyarakat setempat melalui pengembangan sektor pariwisata," katanya. (sap)