Legenda Air Terjun Tujuh Tingkat di Boyan Tanjung, Dihuni Ular Besar dan Surga Alam

Kapuas Hulu

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 3170

Legenda Air Terjun Tujuh Tingkat di Boyan Tanjung, Dihuni Ular Besar dan Surga Alam
SURGA DUNIA – Wisatawan tengah menikmati keindahan air terjun tujuh tingkat dan Bukit Tungkur di Desa Riam Mengelai, Kecamatan Boyan Tanjung, Kapuas Hulu beberapa waktu lalu. (Ist)
Dihuni ular besar, namun tak semua bisa memandang. Warga percaya ular itu tinggal di tingkat ke tujuh air terjun, tapi mereka yang datang hanya bisa menggapai tingkat ke enam. Cerita mistis sumber air warga Boyan Tanjung, melegenda dari masa ke masa.

SP - Air terjun tujuh tingkat Bukit Tungkur terletak di Desa Riam Mengelai, Kecamatan Boyan Tanjung, Kapuas Hulu. Konon, menurut cerita masyarakat di air terjun tingkat ke tujuh dihuni oleh "penunggu" berupa ular yang sangat besar (nabau). Tak sampai di situ, terdapat pula danau dan spesies ikan dengan ukuran besar.

"Misteri bukit tujuh itu hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu saja, menurut cerita pemandangannya sangat indah," kata tokoh pemuda Desa Riam Mengelai, Rudiansyah, Minggu (8/7).

Alumni Fisipol Untan Pontianak ini menjelaskan, sampai saat ini masyarakat hanya bisa mendapati air terjun itu sampai tingkat enam saja. Sementara untuk tingkat ke tujuhnya, belum ditemui secara nyata oleh kebanyakan masyarakat setempat.

"Ular atau nabau yang berada di tingkat ke tujuh itu tugasnya menjaga air terjun tersebut," terangnya.

Air terjun di Boyan Tanjung menjadi sumber air bersih warga. Letaknya tepat berada di kaki Bukit Tungkur. Dari sana, air itu mengalir sampai ke Sungai Boyan. Wilayah yang masih terjaga membuatnya jadi lokasi berlibur warga. Sesuatu yang indah dan asri memang bisa jadi penghibur diri. 

"Banyak wisatawan yang datang berkunjung ke sini, selain kita bisa menikmati mandi di air yang bersih, kita juga bisa melihat hamparan hutan di tiga kecamatan, Kecamatan Pengkadan, Bunut Hulu dan Hulu Gurung dari atas Bukit Tungkur," terangnya.

Cerita mistis yang menyelimuti tempat ini menjadikan orang tertarik datang. Kini lokasinya pun telah dijadikan tempat wisata oleh masyarakat setempat. Dikelola swadaya oleh para pemuda, sehinggga mampu memberikan pendapatan bagi warga sekitar.

"Desa juga rencananya akan mendorong tempat tersebut menjadi tempat pariwisata," terangnya.

Sejauh ini, jumlah pengunjung mencapai ribuan orang. Khususnya jika ada hiburan rakyat yang disuguhkan panitia. Angka itu tak mengherankan. Di hari libur saja jumlahnya bisa mencapai ratusan orang.

"Jika diadakan hiburan rakyat para pengunjung harus membayar harga tiket masuk Rp15 ribu per orang, sementara jika pada hari libur tidak dikenakan tiket masuk," terangnya.

Warga setempat, Yudi berharap Pemda Kapuas Hulu khususnya Dinas Pariwisata membantu agar tempat tersebut bisa menjadi tempat pariwisata yang bertaraf nasional atau bahkan internasional. Bukan tanpa sebab, akses jalan menuju tempat wisata air terjun tersebut sudah bisa ditempuh dengan waktu selama 15 menit menggunakan kendaraan bermotor roda dua dari arah kota. Sementara untuk menuju puncak Bukit Tungkur membutuhkan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam dengan berjalan kaki.

"Kita sudah berupaya melakukan pembersihan lokasi hanya saja belum maksimal sebab terkendala masalah dana," katanya.

Satu di antara pengunjung, Wandi bercerita kedua tempat wisata memiliki daya tarik luar biasa. Hanya saja banyak yang belum mengetahui keberadaannya. Mereka yang datang sebagian besar mendengar lokasi dari mulut ke mulut.

"Tempat ini harus dijaga dan dilestarikan karena memiliki banyak manfaat, selain sebagai sumber air bersih masyarakat juga mampu mensejahterakan masyarakat setempat melalui pengembangan sektor pariwisata," katanya. (syapari/balasa)