Perkelahian Pelajar SMAN 1 Bunut Hilir Terjadi saat Guru Tidak di Kelas

Kapuas Hulu

Editor Indra W Dibaca : 809

Perkelahian Pelajar SMAN 1 Bunut Hilir Terjadi saat Guru Tidak di Kelas
Ilustrasi. (Net)
PUTUSSIBAU, SP - Kepala Sekolah SMAN 1 Bunut Hilir, Taya Sari Rahmawati, S.Pd membenarkan adanya peristiwa perkelahian antar pelajar di sekolah yang dipimpinnya.  Menanggapi hal tersebut pihak sekolah langsung mencari kebenaran kronologis dari kejadian itu.

"Kami telah meminta keterangan dari guru dan siswa yang menjadi saksi peristiwa tersebut," katanya, Minggu (5/8).

Sebelumnya sempat beredar pemberitaan di sejumlah media baik online maupun cetak. Seorang pelajar Kelas X IPS, Angga Mahendra (AM) dikabarkan babak belur setelah dikeroyok oleh teman sekelasnya Angga Saputra (AS) bersama temannya Solihin dan Yendra saat proses belajar mengajar berlangsung, Kamis (2/8) lalu.

Disampaikan Taya, perkelahian terjadi pada jam mata pelajaran ke 4 -6, dimana guru yang mengajar saat itu mendadak berangkat ke Putussibau karena ada keluarganya yang sakit.

"Guru itu lupa meninggalkan tugas karena mendadak berangkat ke Putussibau," terangnya.

Sementara saat itu, kedua guru piket sekolah tersebut juga dalam kondisi sakit, mereka terdiri dari guru honorer dan guru PNS.

"Untuk guru PNS itu sepelungnya dari Puskesmas memaksakan diri untuk masuk dan baring di sofa ruang guru, sehingga tidak bisa mengontrol siswa yang kosong jam pelajarannya," ujarnya.

Dijelaskan Taya, perkelahian terjadi diawali dengan candaan sesama teman antara AS dan AM, kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain. Karena tidak tahan dengan gurauan temannya, AM mendorong kepala AS sambil mengatakan "Jadi Uy nungak aku".

"AS tidak senang dengan AM karena mendorong kepalanya, namun tidak terjadi perkelahian, gurauan masih terus berlanjut," jelasnya.

Karena merasa sudah tidak tahan dengan guruan temannya, AM emosi dengan menghentak meja sambil mengatakan "kesabaran aku sudah habis" dan kemudian terjadilah perkelahian pertama.

"Saat itu perkelahian bisa diselesaikan di dalam kelas tanpa diketahui oleh dewan guru," terangnya.

Memasuki waktu istirahat sekitar pukul 11.45 WIB, ketegangan mereda. Siswa beristirahat dan melaksanakan salat dzuhur hingga akhirnya lonceng masuk dibunyikan pada pukul 12.15 WIB dan siswa kembali masuk ke kelas.

Usai jam istirahat inilah, perkelahian kembali terjadi. AM yang sudah berada di dalam kelas dan melihat AS memasuki ruang kelas, kemudian menantang AS untuk berkelahi. Mendengar hal tersebut AS berjalan menuju AM, kemudian memegang baju bagian depan AM sehingga terjadilah perkelahian yang kedua.

Disela-sela peristiwa tersebut AM berbicara tidak pantas. Mendengar keributan, siswa lain  masuk ke kelas. Ada yang melerai dan ada juga yang membantu, sehingga terjadilah pengeroyokan tersebut.

"Kejadian yang kedua ditangani oleh kesiswaan dan selesai secara damai, selanjutnya ke kelas masing-masing," terangnya.

Saat AM dan AS masuk ruang kelas ditanya oleh guru yang sedang mengajar ada masalah apa? kemudian dijawab "tidak bu, cuma salah paham" dan pelajaran tetap berlanjut sampai waktu pulang pukul 13.40 WIB.

"Kemudian pada Jumat (3/8) AM meminta ijin ke Puskesmas karena badannya sakit, tidak lama kemudian ibunya mendatangi sekolah dan diberi jawaban bahwa masalah tersebut akan diselesaikan pada Senin (6/8)," tuturnya.

Dikatakan Kepsek, AM tidak babak belur sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, namun diakuinya, berdasarkan pemeriksaan perawat Puskesmas Bunut Hilir hanya terlihat bengkak di tangan kanannya.

"Tidak ada lebam, luka atau pun sejenisnya, dia sempat bercerita kepada temannya ada dipukul orang tuanya," terangnya.

Guru SMAN 1, Khairus Sholihin menambahkan, pihaknya akan mengundang dan mempertemukan orang tua yang anaknya bertikai untuk menyelesaikan masalah ini.

"Permasalahan ini nantinya akan diselesaikan secara musyawarah dan damai, sebelumnya pun sudah diselesaikan secara damai antar siswa," katanya, Minggu (5/8).

Ditegaskannya, permasalahan ini sebaiknya diselesaikan di lingkungan sekolah dan tidak dilimpahkan ke pihak kepolisian. Namun apabila ada pihak yang merasa tidak puas, dipersilahkan untuk membawanya ke jalur hukum.

Menurut Shalihin, ini merupakan perkelahian biasa. Pada Senin (6/8) besok akan diketahui duduk persoalan ini seperti apa. Selain itu, juga pihaknya sudah menghimpun kronologis kejadian dari berbagai sumber terpercaya.

"Agar kejadian ini tidak terulang kembali kami akan selalu memantau perkembangan siswa," ucapnya.

Diakuinya, di setiap sekolah memang terdapat anak-anak yang nakal. Untuk itu, ke depan siswa ini nantinya akan diberikan perhatian lebih khusus.

"Mereka akan kita panggil secara berkala khususnya dari BPBK," katanya. (sap)