Ani Keracunan Air Sungai, Diduga Telah Terkontaminasi Racun Tuba

Kapuas Hulu

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 345

Ani Keracunan Air Sungai, Diduga Telah Terkontaminasi Racun Tuba
PERAWATAN - Korban Y Ani mendapatkan perawatan medis, setelah mengkonsumsi air sungai yang diduga telah terkontaminasi oleh racun tuba. (Ist)
Anak Kandung Korban, Anton
“Semalam mama muntah-muntah dan buang air kecil sampai puluhan kali,”

PUTUSSIBAU, SP - Gara-gara minum air sungai yang diduga dituba, warga Dusun Jelemuk, Desa Miaumerah, Kecamatan Silat Hilir dilarikan ke Rumah Sakit Pratama, pada Senin (6/8) sekira pukul 15.30 WIB.

Korban bernama Y Ani (57th) saat itu mandi di sungai dekat ladang. Karena cuaca sangat panas, korban merasa haus dan meminum air langsung dari sungai tersebut.

"Meminum air langsung dari sungai, memang sudah biasa dilakukan saat di ladang," ujar Ani, Selasa (7/8).

Namun malang nasibnya, ternyata pada hari itu, sungai ternyata sudah terkontaminasi oleh racun bekas oknum yang tak bertanggung jawab bekas melakukan tuba.

“Saya melihat ada orang berdiri di sungai, cuma mereka tidak bilang kalau mereka sedang menuba ikan,” ceritanya.

Setelah mandi, korban baru melihat ada ikan yang mulai bertimbulan di sungai. Beberapa saat kemudian, korban merasa mual dan mau pingsan. Untung ada keluarga yang cepat memberi pertolongan pertama dan segera melarikan Ani ke RS.

“Semalam mama muntah-muntah dan buang air kecil sampai puluhan kali,” cerita Aton (27) anak korban yang saat itu sedang menjaganya di RS.

Sekarang korban masih mengeluh sakit di tenggorokan dan dada. Beruntung nyawanya masih dapat diselamatkan.

Kebiasaan buruk menuba ikan di sungai masih saja dilakukan beberapa warga saat musim kemarau. Meskipun hal itu dilarang. Menurut Aton, kejadian itu sudah dilaporkan ke polisi. Diduga pelaku juga warga setempat. 

Senada juga dikatakan, Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar dan Pemerhati Lingkungan Hidup, Stephanus Mulyadi, bahwa  diduga korban mengkonsumsi air sungai yang sudah terkena tuba.

"Setelah mengkonsumsi air itu, korban muntah-muntah dan sering buang air kecil," terangnya.

Dari itu, Mulyadi mengimbau kepada masyarakat, agar tidak menangkap ikan dengan cara menuba. Sebab, selain merusak lingkungan juga berpotensi menimbulkan korban jiwa.

Stephanus menerangkan, kebiasaan buruk menuba biasanya dilakukan warga saat memasuki musim kemarau, dimana ikan yang ada di sungai diracuni agar dapat dengan mudah ditangkap.

"Unsur racun yang ditebarkan di air akan membunuh semua jenis ikan, serta merusak habitan dan lingkungan," katanya.

Dijelaskannya, sementara air sungai digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci dan kakus termasuk dikonsumsi. Hal ini tentunya berpotensi akan menimbulkan korban jiwa.

Tidak hanya itu, yang lebih bahaya lagi jika mereka menggunakan racun kimia seperti lanite, sianida dan racun lainnya yang sangat berbahaya. Selain itu, ikan yang didapat dengan cara menuba itu, juga sangat berbahaya untuk dikonsumsi.

"Meskipun ikan itu dibuang perut dan kepalanya, racun tetap saja ada dalam tubuh ikan. Bila ikan itu dikonsumsi, racun akan mengendap dalam tubuh, meskipun dampaknya tidak langsung terasa," terangnya.

Dari itu, Mulyadi meminta kepada seluruh masyarakat, agar tidak menangkap ikan dengan cara menuba dan tetap menjaga dan melestarikan ekosistem sungai.

Kurangnya Kesadaran Masyarakat

Bupati Kapuas Hulu, Abang Muhammad Nasir mengatakan, penyebab langka dan punahnya ikan, baik di Danau maupun sungai akibat dari kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian ikan.

"Ikan yang sedang bertelur dan ikan yang berukuran kecil tidak dibiarkan hidup dan berkembang biak oleh para nelayan," katanya.

Melainkanikan tersebut diambil daging dan telurnya untuk dijual oleh mereka. "Bagaimana ikan-ikan bisa berkembang biak," tegasnya.

Nasir meminta, masyarakat khususnya para nelayan agar merubah cara penangkapan ikan dan juga menjaga kelestariannya, agar masa mendatang ikan tidak langka dan punah.

"Selain menjaga danau, masyarakat juga harus menjaga ikan di Sungai Kapuas. Sebab bila air sedang banjir, ikan yang ada di danau ini, lari ke Sungai Kapuas," pungkasnya. (sap/pul)